TAWA dan SEDIH 2 (Timbul)

Hari ini telah berpulang seorang penghibur sejati. Tetap menghibur meski hati sedih. Sedih karena belitan persoalan hidup dan kemiskinan. Penghibur sejati yang hidup dari dan untuk kesenian tradisional.

Lahir dari keluarga seniman, berjuang meneruskan kesenimanan dari orangtuanya. Mendirikan grup ketoprak/wayang orang, bubar karena bangkrut, ditinggal istri karena jatuh miskin, bangkit lagi, melamar kerja di tempat orang, adalah bagian dari perjalanan hidup Timbul.
Pernah begitu tenar di tanah air ketika mementaskan ketoprak humor di RCTI. Dua kali memperoleh Panasonik Awards untuk kesenian tradisional. Sepi job, kembali dalam kesederhanaan, didera sakit diabetes, diikuti stroke, adalah episode terakhir hidup Timbul. Akhirnya ia kembali menghadap Sang Khalik.
Timbul adalah sosok yang sederhana. Hidup apa adanya dengan filosofi nrimo, menerima apa adanya yang diberikan Yang Kuasa. Konsekuensi sebagai penghibur/pelawak, mesti bisa membuat orang lain tertawa meski hati sedang menangis. Melegakan dan meringankan hidup banyak orang meski hidup sendiri terasa berat adalah proses menjadi rendah hati.
Tetap menjejak bumi walau ketenaran sudah membawanya ke langit ketujuh. Tetap dermawan dan hidup sederhana. Tidak merepotkan orang lain, dan menjadi beban bagi orang lain adalah prinsip hidupnya. Bisa makan, bisa menyekolahkan anak, dan tidak punya utang adalah motto hidupnya.
Selamat jalan Timbul. Engkau mengajari kesederhanaan, kesadaran, dan bagaimana menjadi rendah hati. Engkau sudah membuat banyak insan tertawa dan melupakan sejenak kepenatan hidup mereka, bahkan ketika engkau sendiri ditimpa banyak kepenatan hidup. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa melimpahi engkau dengan rahmat yang melimpah.



Comments

Popular Posts