Cinta di atas Tram

Sahabat, saya adalah penggemar tram dan train. Entah mengapa saya menyukai dua alat transportasi umum ini. Sebaliknya saya kurang menyukai bus. Setelah hamper 10 bulan tinggal di ‘tanah asing’ ini, saya baru naik bus sebanyak dua kali, selebihnya tiap hari saya naik tram dan hampir setiap minggu saya menikmati layanan train. Setiap hari saya menggunakan tram dari Port Melbourne ke Victoria Parade.

Ada banyak cerita di sana. Meski jalan yang saya lintasi selalu sama, terkadang bersama orang-orang yang sama, tetapi tetap saja selalu ada yang baru. Itu sungguh yang menghibur hati. Pagi hari di musim dingin, ketika dengus nafas berubah menjadi uap, dan tangan kaku gemeretak senantiasa datang, kami berjajar rapi menunggu tram datang. Sore hari, setelah jam mendentang lima kali, gegas langkah itu kembali sama. Bahkan lebih banyak, lebih lelah juga. Tak jarang berjejal, asal badan bisa nyangkut di tram, itu cukup.

Tidak setiap hari seperti itu. Terkadang tram atau train itu begitu lega. Banyak tempat duduk kosong, lajunyapun perlahan. Diseling hembus angin semilir dan lambaian mentari yang cerah, hati ini terasa merekah. Sungguh, hari-hari seperti itu terasa indah. Tak sempat hati ini gelisah apalagi gundah.

Belum lagi kalau datang ibu dengan empat anaknya seperti kemarin lusa. Yang sulung belum genap 9 tahun, tetapi adiknya sudah tiga. Sepertinya yang kedua dan ketiga kembar. Mereka ribut sekali, seperti bertengkar berebut mainan, tetapi lucu sekali. Apalagi diseling dengan celoteh si kecil dan dendang riang ibu muda itu. Tak terasa, tujuan datang dan aku harus turun.

Kerap juga pemandangan mengharukan terhampar. Dua orang nenek dengan ‘topi’ lucu membungkus mahkota yang memutih. Pikiran usilku langsung membayangkan topi badut di pasar malam beberapa tahun yang lalu. Dengan sepatu yang sepertinya kebesaran, dua orang nenek itu bergandeng tangan saling membantu dan mendukung.

Semuanya biasa tak ada yang istimewa. Tetpi semu membawa satu pesn berganda. Bahwa yang sederhana itu sesungguhnya luar biasa. Saya tidak membutuhkan alat music buatan untuk menghibur telinga, karena sesungguhnya Tuhan sudah menyajikan musik nan indah. Saya juga tidak perlu menyibukkan dengan membaca buku atau surat kabar di tengah himpitan penumpang, karena Dia juga menyajikan banyak pemandangan indah untuk menghibur mataku.

Setiap hari saya berjumpa dengan pengalaman baru. Semuanya sederhana, namun sekali lagi, itu penuh makna. Seperti udara yang biasa keluar masuk rongga nafasku. Itu biasa tetapi jika berhenti selama lima menit saja akibatnya akan luar biasa. Sungguh, itulah kasih Tuhan yang saya rasakan setiap hari. Ia hadir biasa saja, namun sesungguhnya mengandung kekuatan yang luar biasa. Jika kasih Tuhan itu berhenti mengalir sebentar saja, akibatnya akan luar biasa.

Melihat yang biasa sebagai sesuatu yang luar biasa itu ternyata tidak mudah. Karena pada dasarnya indera ini senantiasa menghendaki apa-apa yang tidak biasa. Bahkan bukan hanya indera. Penampilan, cara pikir, tindakanpun bahkan diusahakan tidak biasa; agar menarik perhatian.

Untuk bisa melihat kasih Allah yang luar biasa, yang tertuang dalam berbagai peristiwa biasa, dibutuhkan hati yang sungguh terbuka. Bukan hanya hati yang terbuka, tetapi mata yang peka dan telinga yang penuh rona. Hati yang terbuka akan kasih Allah, mata yang peka dan telinga yang penuh hasrat untuk menangkap kehadiran yang Kuasa.

Jika masih penasaran untuk sungguh bisa merasakan, melihat, dan mendengar kasih Allah; beberapa langkah berikut kiranya akan membantu. Pertama, dimulai dari hati berupa tekad. Ada tekad yang layak untuk disematkan di sana; mengimani, mencintai, dan mengikuti. Ketika tekad sudah tersemat, berikutnya adalah usaha keras mewujudnyatakan.

Karena tekad ini berkaitan dengan Yang Kuasa maka langkah yang mengandalkan kekuatan diri sendiri mesti dikesampingkan. Iman itu pemberian Tuhan, cinta itu anugerah, dan kemampuan mengikuti itu hanya mungkin kalau kita dipanggil. Maka setelah menyematkan tekad bulat dalam hati, disusul dengan memohon berkat atas tekad.

Saya bagikan doa sederhana yang bisa kita lantunkan setiap saat. Doa itu bisa kita panjatkan di akhir doa harian, atau bahkan menjadi rangkuman doa yang biasa sudah kita panjatkan. Di awal hari, di tengah hari, atau bahkan di akhir hari, melantunkan satu pujian untuk bisa melihat-Nya lebih kuat. Berikut ini doa tersebut.

Dari hari ke hari,
Hanya ini yang kuminta dari pada-Mu ya Tuhan
Mengimanimu lebih sungguh
Mencintai-Mu lebih mesra
Mengikuti-Mu lebih dekat
Dari hari ke hari.
Amin


Sahabat, doa sederhana itu saya bagikan kepada kalian, agar kalian sungguh mampu menikmati cinta Allah yang luar biasa, yang kerap hadir dalam yang biasa. Saya biasa menaikkan doa ini sembari duduk di atas tram, sembari bergelantungan, terkadang dalam bekapan bau yang campur aduk dari tubuh-tubuh yang lelah. Syukur kepada Allah, saya dibantu untuk melihat setiap peristiwa sebagai anugerah Tuhan. Karena Tuhan senantiasa membagi cinta-Nya di mana saja, termasuk di tas tram. Semoga mata kita mampu menangkap kehadiran-Nya.

Tuhan memberkati.
Romo Paulus Waris Santoso, O.Carm
Pastor Keluarga Katolik Indonesia di Melbourne
romowaris@gmail.com

Comments