Ngopi di Sore Hari


Sahabat, musim dingin di Melbourne hampir berakhir. Sebentar lagi musim semi akan mengusir pergi dinginnya udara Melbourne. Di sana sini telah terlihat bunga-bunga menghiasi ranting-ranting yang telah lama gundul.
Terkadang mentari muncul dengan teriknya, mengusir kabut yang sedang malas-malasan meninggalkan kota. Seperti hari-hari ini. Mentari tiba-tiba muncul menampakkan kegagahannya. Sayang, ia tidak hadir sendiri. Angin kencang kerap membonceng kehadirannya, sehingga meski mentari berbinar-binar di angkasa, udara tetap duingin tak terkira.
Belum lagi kalau tiba-tiba hujan ikut menghiasi langit. Dingin menjadi satu-satunya penguasa udara sore, bahkan tidak jarang sejak pagi. Saat seperti itu datang, yang terpikir di benakku hanya satu, ngopi! Ya ngopi di tengah udara dingin sungguh menyenangkan.
Seperti sore itu. Sepulang sekolah, setelah lelah mengerjakan berbagai tugas, duduk menikmati segelas latte dan sepiring penganan sungguh menyenangkan. Apalagi kalau kamu suka manis, tambahan ice cream dan coklat akan sungguh menggairahkan. Di temani waffle dan potongan pisang manis penggugah rasa. Hmmm nikmat tiada terkira.
Memang dinginnya ice cream kurang begitu padu dengan udara yang sudah dingin, tetapi jika dipadan dengan latte yang pahit dan panas, hmmm rasanya sungguh lezat. Seolah seperti pencuri di tengah malam, berjalan berjingkat-jingkat, demikianlah rasa latte pahit di lidah yang baru disiram coklat manis, semuanya berjingkat-jingkat, bahkan terkadang hingga kejat-kejat. Hmmm nikmat yang sungguh akurat.
Ya, ngopi di hari dingin sungguh nikmat. Meskipun itu bukan sesuatu yang sangat berat, apalagi lekat untuk dibuat. Hanya terasa nikmat kalau bisa dibuat. Toh ngopi bukanlah sesuatu yang jahat, apalagi bejat. Ngopi hanyalah istirahat sesaat dari kerutinan hidup yang sudah penat, apalagi di tengah udara dingin yang mencekat.
Sahabat, dalam hidup selalu dibutuhkan waktu untuk 'ngopi sejenak'. Untuk membuat otot-otot yang kaku menjadi lunak. Bahkan terkadang membuat hidup terasa enak. Meskipun hanya sejenak.
Ngopi sejenak dalam hidup itu sebenarnya hanya melepaskan diri dari rutinitas yang kerap terasa menjebak. Membuat kita seolah tak bsia bergerak. Langkah hidup sudah tertata dan terpetak tegak. Dari pagi hingga malam datang, semua terasa membuat kaki bengkak. Karena gerak kita hanya dari satu petak menuju ke lain petak. Besok diulang lagi gerak yang sama, semuanya seirama serentak. Sungguh itu sebenarnya sangat tidak enak.
Lihatlah teman-teman yang selalu memulai kehidupan kerjanya dari jam sembilan pagi dan mengakhirinya pada jam lima. Sesungguhnya ia telah memulainya jauh sebelum jam sembilan menyala. Apalagi jika jangkauan kerja dan rumah begitu terbentang jeda. Ia membutuhkan waktu yang lebih lama, untuk mempersiapkan semuanya berjalan sempurna. Demikian juga kalau dia mesti pulang kerja. Jam lima adalah waktu meninggalkan sarang dimana ia berada. Memasuki hutan rimba dan keganasan jalan raya. Belum lagi kalau macet datang mendera. Hari-hari terasa begitu keras memaksa. Sampai di rumah raga sudah habis kena dera. Tinggal kelelahan yang menuntut istirahat dari berjaga, meskipun hanya sekejab saja.
Irama seperti itu terus terulang. Dari pagi hingga malam, bahkan sampai fajar datang menjelang. keesokan hari, ia akan mengulang lagi, langkah yang sama seperti matahari, seperti bumi, seperti bulan. Mengapa bulan? Ya, karena dia selalu mengulang langkahnya setiap malam. Demikian terus berlalu meski banyak orang geram dan bosan, toh ia tak pernah benar-benar hilang.
Terkadang ia serupa hiburan. Menerangi langit malam. Sehingga kita bisa melihat berbagai benda langit yang berpendaran. Ada bintang, ada planet, ada bulan. Semua memainkan peran yang sama. Demikian terus berulang-ulang. Hingga tiada terbilang.
Jika sesekali melihat dan menikmati akan terasa indah. Namun jika terus-terus memandangi, mata akan gerah. Dimulai dengan basah, lama-lama lelah.
Segala yang indah hanya sungguh terasa indah jika berlangsung sekejap. Jika kejapan itu dikecap setiap saat, akan tidak nikmat. Akan menjadi biasa dan kurang lezat.
Berikut saya berikan sedikit tips untuk mengisi hidup agar tidak dirundung kepenatan. Saya gambarkan ini seperti 'ngopi sejenak di tengan himpitan udara dingin'. Ambilah waktu sejenak dalam sehari untuk sedikit menenangkan diri. Selalu ada masalah yang tak mungkin akan teratasi dalam sehari, bahkan jika dikerjalan oleh tim satu kompi. Berilah kesempatan kepada otak dan hati sedikit relaksasi. Mungkin dengan sejenak meditasi. Mengheningkan diri, pikiran, dan hati. Tidak perlu banyak waktu, cukup sejenak di tengah himpitan hari. Mungkin hanya beberapa menit dalam hitungan jari.
Berikutnya adalah mengisi makan/istirahat siang dengan sesuatu yang berarti. Kalian bisa mengikuti Ekaristi di tangah istirahat siang hari. Memang tidak semua paroki memiliki Ekaristi di tengah hari. Jika demikian, bisa melakukan di awal hari. Atau sepulang kerja jika itu yang mungkin terhadiri. Yang penting, buatlah diri Anda berarti karena mengisinya dengan sesuatu yang ilahi, bukan sekadar acara duniawi yang kerap menguras energi. Ekaristi akan menjadi penyuplai energi yang tiada bertepi.
Berikutnya adalah aktivitas sebelum memejamkan mata di penghujung malam. Jika kalian memiliki pasangan, ajaklah pasangan Anda berdoa sejenak dan perlahan. Pegang tangannya dan katakan, "Puji Tuhan, hari ini kita telah menikmati segala karunia-Nya. Sekarang adalah waktu untuk sungguh menyerahkan diri kepada kuasa-Nya. Ia akan menjaga kita dalam setiap tarikan nafas yang tak pernah tersadari. Ada banyak perkara yang sudah terjadi, dan masih akan ada banyak lagi. Biarlah kesusahan hari ini berlalu dengan bergantinya hari. Karena Ia akan menyediakan sesuatu yang baru di hari baru. Terimakasih Tuhan atas segala karunia ini. Atas segala apa yang sudah kami buat dan yang gagal kami buat. Engkau selalu memberikan kesempatan."
Sahabat, semoga kalian tidak terjebak dalam rutinitas hidup yang menyedot seluruh energi. Terkadang bahkan membuat anda kering kerontang bagai lidi. Selalu carilah kesempatan untuk memulihkan energi, mengembalikan kesegaran jasmani dan rohani. Sejenak ngopi di tempat yang berbeda akan memberi sedikit variasi. Selamat mencoba.
Tuhan memberkati.
Melbourne, 24 Agustus 2010

Comments

niniek said…
bagi saya, ngopi merupakan kebiasaan, romo
Romo Waris said…
kalau begitu,cari nuansa baru, nyoba kopi baru, atau cafe baru.
niniek said…
udah tuh, tadi siang, sebelum jemput putu, aku ngopi sama anak lanang ku yg di Sydney lagi pulang Jakarta, di dekat sekolahan....
Romo Waris said…
hmmm,
ngopi di jakarta kurang mantap.
karena udara panas, ga cocok ngopi.
di sana paling cocok makan es krem, hahahaha
kalau duingin kayak di sini ngopi baru cocok.
niniek said…
hahahaha....mau diapain lha wong tinggalnya di Jakarta, ya biasa ngopi2 di mall2 itu 'dingin' nya AC
wis ...pokok e aku kalau ke Melb, tak tagih ajakan romo.... ok :)
Romo Waris said…
tak tunggu wes, kapan ke melbourne.