Salib di dada

Ini masih kisah yang terjadi di dalam tram. Perjalanan dari Port Melbourne menuju Victoria Parade yang memakan waktu sekitar 30 menit, memberi banyak pengalaman untuk direnungkan. Seperti kisah kemarin pagi, masih dalam suasana yang sama, padat dan dingin.
Hari itu saya memilih untuk menunggu tram di Graham Street. Keuntungannya adalah menghemat waktu. Kemungkinan kerugiannya adalah tidak dapat tempat duduk. Mengingat waktu sudah beranjak siang, maka pilihan untuk ke Beacon Cove saya kesampingkan. Pilihan bulat saya arahkan kepada Graham Street.
Setelah menunggu sekitar satu menit, tram yang diharapkan datang. Sudah seperti yang terduga, kondisi penuh, tak ada lagi bangku kosong tersisa. Pagi hari memang jam yang sangat sibuk. Seolah tiada henti orang-orang ini datang untuk naik kendaraan umum. Padahal Graham adalah perhentian kedua, dan masih akan ada banyak perhentian lagi di depan.
Saya memilih untuk berdiri di samping mesin pembelian karcis. Dengan meletakkan tas di antara dua kaki, saya menyandarkan punggung ke badan tram. Pada perhentian berikutnya, penumpang bertambah banyak. Saya merapatkan diri lagi. Agar tidak menginjak atau menjadi penghalang bagi yang lain, saya perhatikan baik-baik posisi kaki. Maka kepala saya agak menunduk.
Tiba-tiba mata saya dikejutkan oleh gambaran sebuah benda yang hadir di depan mata. Sebuah salib. Ya salib dari untaian Rosario. Rupanya yang mengenakan seoran perempuan. Karena salib itu terguncang-gunang di depan busung dadanya. Saya menatap salib itu untuk beberapa saat. Pertama karena kaget. Jarang sekali saya melihat seseorang berkalung Rosario, apalagi ditampilkan di luar bukan di dalam atau hanya sekadar ditaruh di saku. Kedua, bentuk salib itu bagus. Manik untaian rosarionya dari bebijian kayu yang juga bagus. Saya gambarkan sedikit sosok yang mengenakan Rosario ini.
Yang pasti dia berbadan gagah. Mungkin sedang hamil muda. Karena perutnya agak gendut. Kalau tidak hamil berarti gadis tersebut cukup gendut. Tetapi saya tidak yakin pasti, karena pakaian yang ia kenakan, sepertinya bukan pakaian hamil. Menilik dari tas yang dia cangklong, sepertinya ia mahasiswi. Karena terlihat beberapa buku catatan dan buku teks.
Kemudian mata saya terangkat untuk menangkap rupanya. Benar dia gadis muda. Rambutnya berwarna rambut jagung. Dipotong tipis di pinggir. Kemudian saya amati cirinya yang lain. Rupanya dia kolektor atau penyuka cincin. Karena bukan hanya jarinya yang diberi cincin, tetapi juga bibirnya, hidungnya, dan alis matanya; semuanya diberi cincin. Saya tidak tahu apakah kesepuluh jarinya juga diberi cincin, karena tangannya tertutup sarung tangan.
Setelah menangkap rupa sosok yang mengenakan kalung salib tadi, kepala saya kembali tertunduk. Sesekali mencuri pandang ke arah salib yang terguncang-guncang. Maafkan kalau saya seperti mengadili. Tetapi saya berusaha sungguh untuk tidak memberikan pengadilan. Yah, berupa pertanyaan dalam hati saja. Apakah dia mengenakan Rosario itu sebagai simbol dan sebuah usaha kesaksian iman, atau sekadar aksesoris?
Sambil memikirkan itu tangan saya merogoh saku celana. Di sana teronggok setia Rosario pemberian seorang sahabat sewaktu di Malang dulu. Rosario yang ia beli ketika melakukan ziarah ke Medugorje. Rosario itu selalu teronggok di saku celana. Kalau celana diganti, ia juga berganti saku. Tidak setiap hari saya pakai untuk berdoa, yang pasti ia hanya menjadi penunggu setia kantong celana.
Saya rogoh dan saya pegang-pegang rosario saya. Sembari memikirkan, manakah yang lebih berguna, Rosario yang terguncang-guncang di depan dada, atau yang mendekam hangat di dalam kantong celana. Kalau Rosario itu saya kalungkan di depan dada, orang-orang bisa berpikiri dua hal. Pertama saya dikenal sebagai seorang katolik. Kedua, saya dianggap suka memakai aksesoris, suka bergaya. Kalau Rosario itu saya kantongi, tidak akan ada yang tahu dan tidak akan ada yang berkomentar. Juga kalau Rosario itu hanya sebagai penunggu kantong belaka.
Di tengah merenung, saya mesti turun dari tram, karena telah sampai tujuan. Di depan kapela sekolah, yang pintunya terbuka, saya menunduk sebentar. Tiba-tiba suara hati saya berteriak. Kenapa saya menunduk? Ada apa saya menunduk? Apakah agar saya dikenal sebagai seorang katolik yang teguh beriman? Apakah saya kalau tidak menundukkan kepala sejenak dan kemudian kembali melanjutkan langkah saya bukan katolik?
Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di dalam kepala. Saya seorang katolik. Dengan apa saya menunjukkan kekatolikan saya? Apakah mengenakan simbol-simbol kekatolikan semacam berkalung salib, mangangguk ke dalam kapela kalau pintu terbuka, mengenakan pin salib di baju, dll cukup melambangkan diri sebagai orang katolik.
Saya tidak hendak membela diri kalau mengatakan itu semua belum cukup. Bukan karena saya tidak pernah berkalung salib, mengenakan pin salib di baju, atau selalu mengangguk ke arah dalam kapela. Saya merasa itu semua tidak cukup. Melakukan tanda-tanda yang kelihatan saja tidaklah mencukupi. Tetapi harus dipahami, melakukan itu saja juga bukan kesalahan. Hanya belum mencukupi. Apalagi kalau tidak melakukan apa-apa, pasti jauh dari mencukupi.
Sepanjang hari saya memasukkan tangan ke dalam kantong dan meremas-remas Rosario. Sembari hati saya menggolakkan pertanyaan, apa yang sudah aku buat sebagai orang katolik. Apa yang sudah aku buat sebagai kesaksian iman. Apa yang sudah aku buat sebagai perwujudan iman. Apa yang….
Ahhh, banyak sekali pertanyaan hati saya. Akhirnya saya pejamkan mata dan berseru lirih, “Tuhan, ijinkan aku mencintai-Mu lebih dalam lagi, lebih mesra lagi. Mungkin aku kurang bersaksi, mungkin aku masih dikuasai ketakutan; namun semoga aku tidak kurang mencintai-Mu, tidak takut mencintai-Mu.”
Sahabat, bisa jadi gadis yang mengenakan Rosario dan salibnya terguncang-guncang di depan dadanya, sungguh gadis beriman. Memang penampilan luarnya seperti gadis kurang beriman, namun belum tentu Rosario itu hanya aksesoris belaka. Yang pasti ia berani menunjukkan satu kesaksian kecil, dan bisa jadi itu sebuah langkah awal untuk mencintai Tuhan lebih dekat lagi, lebih mesra lagi.
Hal berikutnya yang merupakan tuntutan adalah memanggul salib. Sebuah permintaan yang bukan sekadar permintaan, tetapi lebih mengarah kepada perintah. Yang dibuat oleh Yesus, "barang siapa hendak mengikuti Aku, ia harus memikul salibnya setiap hari." Tentu hal ini membutuhkan permenungan yang lebih dalam. Baik kalau kita ulas di lain kesempatan. Unjtuk hari ini cukuplah kalau hanya merenungkan mengenai berani menajdi saksi Kristus.
Tuhan memberkati

Melbourne, 28 Agustus 2010

Comments

niniek said…
malam romo, baru baca ngopi bareng sambil ngopi di kamar nih.....
aku juga sangu rosario ke mana2.
Romo Waris said…
kok ngopi di kamar?
niniek said…
emang aku suka ngopi di kamar, mo... sambil nonton tv.
I have my own bed room, hehehehe
Si Toing said…
Mo ....
I'm following ur blog ;)
Hehehe ....

Aku juga sering terpikir, apakah dengan membuat tanda salib seblm makan di restoran udah cukup utk menjadi saksi iman kekatolikanku ? Kayaknya nggak. lebih penting menunjukkan dengan sikap dan perbuatan sepanjang hari .....