Tangisan

Mengapa manusia menangis? Tentu ada banyak hal yang meyebabkan seseorang menangis. Membahas hal ini akan sangat melelahkan, dan sepertinya kurang memberi makna strategis . Bagaimana kalau pertanyaannya diubah, meski agak sedikit melankolis. Demikian yang saya tulis.

Apa yang membuat seorang lelaki berurai air mata? Sebenarnya menangis alias adalah hak setiap warga. Entah laki-laki, perempuan, atau setengah laki-laki dan setengah perempuan, semua memiliki hak yang sama. Untuk menitikkan air mata. Persoalan menjadi berbeda ketika dalam masyarakat ada yang menabukan seorang lelaki melakukan hal-hal sederhana. Termasuk menumpahkan air mata. Bahkan sejak masih kecilpun dikatakan, “lelaki tidak boleh menangis, lelaki harus kuat perkasa.”

Nasihat itu berkhasiat bagai magis. Jarang sekali kita melihat lelaki menangis. Seolah segala perkara bisa ditepis. Toh tidak semua bisa berlaku manis. Tak jarang kita temui beberapa lelaki menangis. Menjadi mengherankan kalau tangisan itu tampak histeris. Pasti akan terdengar seperti teriris-iris. Jika tidak percata simak apa yang saya temui tadi pagi, di tengah hujan gerimis.

Seperti biasa saya naik tram menuju sekolah. Bersama segerombolan orang yang setiap pagi melangkah gagah. Dengan masing-masing membawa bawaan di pundak dan masih menenteng di tangan sebelah. Berpacu dengan sirine tram yang menuntut perhitungan tidak boleh lengah. Karena jika telat meski sepersekian galah, alamat akan menunggu tram berikutnya, dan itu membuat hati lelah.

Masih seperti biasa, penumpang penuh berjubel. Karena masih pagi, semua wangi tiada yang kumel. Saya mengamankan barang bawaan, termasuk bekal makan siang nasi dan sambel. Sederhana, tetapi kredibel.

Kami sampai di Queen Street dan Collin pojokan. Tiba-tiba seorang bapak masuk tram, pakainnya kusut, rambut acak-acakan. Nampak kalau sudah lama tidak bersentuhan dengan sampo apalagi sisiran. Jambang dan janggutnya juga tumbuh berantakan. Mengenakan jaket kesebelasan Manchester United warna merah, ia kelihatan menakutkan.

Yang lebih takut adalah sepasang ibu muda yang duduk di depan dekat pintu gerbang. Mereka takut karena bapak tadi langsung memegang tangan dan mulai mengguncang. Tanpa pengantar dan pemanasan, bapak tadi mulai menangis dan meradang. Kontan sepasang ibu tadi berdiri dan memberikan bangku untuk lelaki yang terus tersedu sedan.

Saya hanya mengamati dari samping dengan pikiran terus melayang. Kebetulan saya berdiri bersandar kaca sambil kaki menjepit tas serta bekal makan siang. Ada serombongan remaja, kalau tidak salah dari Jepang. Mereka kena damprat bapak yang rupanya sedang menanggung kesedihan alang kepalang. Sungguh nampak dari ekspresinya yang terkadang tertuang. Dari sesenggukan, yang laksana rintihan, juga kemarahan yang tak tertahan oleh jeda yang lekang. Saya tidak tahu pasti apa yang dikatakan, karena yang terdengar hanya suara gumam.

Sahabat, itu yang aku alami tadi pagi. Menyaksikan tangisan seorang lelaki. Bukan tangisan biasa, karena menguras seluruh emosi. Bahkan gadis Jepang yang sempat dibentak si lelaki tak urung ikut bersedih hati. Nampak dari air mata yang meleleh di pipi.

Menangis tentu soal biasa. Namun jika tangisan itu begitu heboh, tentu yang terjadi pasti luar biasa. Seorang teman berkomentar, “ahhh, itu khan orang gila.” Hanya kemudian saya bertanya. Mengapa seseorang menjadi gila? Apa yang tak dapat ditanggungnya?

Maka di sisa jalan saya tadi, ada serpihan refleksi yang mampir di hati.

Berbahagialah hati yang memiliki cukup ruang untuk berbagi. Rasa hati memang mesti dibagi. Karena jika dimonolpoli, tidak akan sehat nanti. Orang lain perlu merasakan apa yang diterima diri. Bukan agar tidak ada lagi rasa iri. Tetapi agar semua sampai di tepi. Di tepi hati di mana semua rasa terpatri.

Berbahagialah rasa yang memiliki cukup tempat untuk mencerna. Mencerna semua rasa, bahkan yang paling lara. Jika Engkau telah bersua. Berikan, bagikan, dan mulailah bertumbuh menjadi lebih dewasa. Karena hanya yang sungguh dewasa mampu membagi apa yang dirasa.

Berbahagialah pribadi, yang di tengah segala kesedihannya menemukan pundak untuk sekadar bersandar. Ya, menemukan pundak untuk bersandar. Maka sungguh berbahagialah dia yang memiliki pundak yang kokoh, yang memberi ketenangan bagi pribadi-pribadi yang sedang berjuang dalam perkara yang sukar. Berbahagialah jika itu kamu, jika pundakmu mampu memberikan rasa sabar. Kepada pribadi-pribadi yang yang seolah telah kehilangan nalar. Semoga kalian salah satu teman yang mampu membuat kehidupan ini terus mekar. Meski terkadang kesedihan dan tangisan datang menghantam laksana ombak menerjang kapal pesiar.

Kembali kepada tangisan. Itu adalah hal yang sangat biasa, bahkan bisa dilakukan meski tanpa banyak alasan. Bahkan menangis juga baik untuk kesehatan. Walaupun harus dihindari menangis bak kesetanan. Karena akan mengundang banyak perhatian. Dan itu tentu tidak akan nyaman.

Maka ketika Engkau menjumpai seseorang menangis, atau Engkau sendiri menangis. janganlah Engkau merasa miris. Meski terkadang tiada sesuatu alasan yang mampu menjelaskan secara logis. Tetapi tangisan adalah sebuah tanda empiris. Bahwa kalian masih memiliki hati, rasa, yang terungkap dalam tangis.

Sahabat, satu lagi selain menangis adalah menajdi 'pundak'. Kerap kita sendiri membutuhkan pundak itu. Tatkala kelelahan mendera, atau rasa stress sudah sampai puncak. Rasanya sudah mau meledak. Di sana kita membutuhkan 'pundak'. Jangan menunggu lama, cepatlah bertindak. Ada 'bahu' yang selalu siap menjadi sandaran tiap hati yang 'rusak'. Dia Tuhan yang memiliki segala kehendak. Dia Tuhan yang membopong kita bagai anak. Dia Tuhan pundak sejati kita, ketika segala perkara meghimpit dan hati sesak. Segeralah bertindak.

Tuhan memberkati.

Comments

niniek said…
If I have a shoulder to cry on....
Romo Waris said…
sudah terbukti khan?
pundak seorang ibu selalu ada untuk anak-anak.
Romo Waris said…
satu lagi
Tuhan selalu menyediakan pundak-Nya untuk kita sandari.