Beberapa Catatan Ulang Tahun

Sahabat, ulang tahun itu pasti setahun sekali. Jika tiap bulan tentu namanya ulang bulan. Jika tiap hari namanya ulang hari. Tentu ini bukanlah sesuatu yang sangat serius untuk diperbincangkan, apalagi diperdebatkan. Satu hal yang lebih mendasar yang patut direnungkan adalah, mengapa seseorang merayakan ulang tahun.

Awal bulan ini saya mengundang banyak umat untuk hadir dalam perayaan Ekaristi. Mengapa harus hari itu? Mengapa saya berpikir bahwa hari itu istimewa? Bukankah setiap hari umat juga turut merayakan Ekaristi di Gereja masing-masing? Bukankah setiap minggu juga ada perayaan Ekaristi yang agung? Ya, semua pertanyaan itu benar adanya. Tetapi saya memiliki alasan khusus untuk melakukannya.

Saya mengundang umat untuk hadir dalam perayaan syukur atas rahmat Tuhan yang senantiasa melimpah. Berbicara mengenai rahmat Tuhan, tentu tidak cukup hanya setahun sekali, karena rahmat itu diberikan setiap hari. Maka ucapan syukur itu mestinya diberikan setiap hari. Meski demikian harus ada satu hari yang menandai. Karena Tuhan pun memberi tanda. Memilih satu hari dari sekian hari untuk diri-Nya sendiri.

Tidak Ada Kisah Ulangan

Jika kita merenungkan lebih dalam, sebenarnya ulang tahun itu tidak ada. Tidak ada kisah ulangan. Ya, karena tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa diulang. Semua yang dilakukan sebenarnya adalah baru. Menurut ahli biologi, sel-sel dalam tubuh kita juga selalu berganti. Artinya tubuh kita juga mengalami pembaharuan setiap hari. Baiklah saya berikan beberapa cerita untuk memahami pengertian ini.

Gambaran pertama yang hendak saya tunjukkan adalah sungai. Jika ada kesempatan, silahkan meluangkan waktu untuk sejenak duduk di tepi sungai. Pandanglah aliran air di sana. Setiap saat air di sana berganti. Air yang kita lihat tidak pernah sama lagi. Selalu baru setiap saat. Yang membuat sama hanya satu bahwa semua yang mengalir adalah air, meski selalu berbeda. Hal yang lebih menakjubkan adalah, semua sungai airnya mengalir ke laut. Ada berapa banyak sungai di dunia ini, tetapi air laut tidak pernah penuh.

Gambaran kedua adalah matahari. Setiap hari kita terima sinarnya. Pagi hari dia muncul di ufuk timur, dan di kala senja ia berlari sepanjang malam dari barat agar keesokan hari bisa muncul lagi di ufuk timur. Matahari yang kita lihat tentu saja sama. Tetapi sinar yang kita terima selalu baru setiap hari. Terkadang lebih panas, terkadang lebih hangat. Sinar yang kita terima selalu berbeda, tetapi semuanya masih berasal dari matahari yang sama. Mataharinya tetap sama, tetapi sinar yang kita terima selalu baru setiap hari.

Semoga dua gambaran di atas tidak membingungkan. Maka sebelum jauh menjadi lebih bingung, saya tegaskan lagi bahwa ulang tahun dalam arti ‘mengulang’, sesungguhnya tidak ada. Karena semuanya baru. Hari perayaan itu lebih menjadi sebuah ungkapan syukur. Ucapan terimakasih kepada yang mengecat aneka warna cabe dan tomat.

Ulang tahun, meskipun tidak ada yang diulang tetap patut dirayakan untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Meskipun ucapan syukur itu tetap pantas dan layak diberikan setiap hari. Namun mengucap syukur dengan memanggil dan mengumpulkan teman-teman cukuplah jika dilakukan setahun sekali. Karena jika dilakukan setiap hari, kesan yang diterima tidak sama lagi. Semuanya menjadi rutinitas lagi.

Agar Tidak lupa

Hari-hari berjalan begitu cepat. Kesibukan dan aneka pekerjaan yang mesti diselesaikan membuat waktu seakan berlari bak kilat. Terkadang yang tersisa hanyalah badan yang terasa penat. Tidak jarang kelelahan dan keletihan itu membuat hati dan jiwa pekat. Semua disedot aktivitas dan rutinitas yang berat.

Jika terlena dengan segala rutinitas itu hidup akan menjadi kering. Karena semua sudah berjalan biasa dan tak jarang terasa garing. Bahkan tak sedikit yang menjadi agak miring. Tentu akan menakutkan jika sampai terkapar dan hanya mampu berbaring. Maka membuat sesuatu yang istimewa itu bagus, asal tidak terlalu sering.

Sebuah perayaan pantas dilakukan agar kita tidak lupa. Tidak lupa bahwa kita telah bertumbuh dan mungkin juga berkembang. Agar tidak lupa bahwa yang telah bersusah payah menghias angkasa dengan bintang di waktu malam dan matahari di waktu siang, senantiasa menjaga kita. Agar kita tidak lupa, bahwa meskipun terkadang atau bahkan kita kerap lupa bersyukur, Dia tidak pernah alpa menjaga.

Bahwa teman-teman pantas diundang itu juga sebuah tanda. Bahwa kasih Allah melimpah juga melalui kawan-kawan yang seirama dalam berjalan. Kawan-kawan yang kerap menjadi penopang di kala beban hidup terasa berat. Kawan-kawan yang kerap memberi semangat, ketika tenaga mulai lesu darah. Ya, kawan-kawan itu pantas diundang untuk merayakan kegembiraan rahmat Tuhan. Kawan-kawan itu pantas diundang, agar kita tidak lupa bahwa kasih Allah juga hadir melalui mereka.

KKI Tumbuh dan Berkembang

Bulan ini KKI merayakan ulang tahun yang ke-23. Jika Anda memerhatikan kisah perjalanannya, tentu akan menemukan bahwa ada proses panjang yang telah ia lalui dan kini dia telah bertumbuh dan berkembang. Dia hidup dan berbuah. Meski harus diakui pula bahwa perjalanannya yang panjang itu tidak selalu gampang. Ada angin, bahkan badai mendera. Toh ia tetap kokoh berdiri.

Ketika dulu kelompok ini dibentuk, kiranya harapannya berbeda dengan apa yang terjadi sekarang. Tidak perlu dilihat benar dan salah, melenceng atau tetap lurus. Yang patut disyukuri adalah, kelompok ini dipakai Tuhan untuk menumbuhkan umat-Nya. Dipakai Tuhan untuk menjadi sarana penyebaran Kabar Gembira.

Rentang waktu 23 tahun bisa berarti panjang juga bisa berarti belum panjang. Jika petani menanam jagung, dia hanya membutuhkan waktu 3 bulan. Tetapi jika seseorang ingin menanam kebaikan dan harapan, 3 bulan belumlah cukup. Bahkan 3 tahun pun masih sangat kecil. Mungkin 30 tahun akan terlihat buahnya. Demikian pun dengan KKI sebagai keluarga. Dalam perjalanannya menanamkan iman dan harapan serta kasih, dibutuhkan waktu yang panjang. 23 tahun memang cukup untuk melihat medan perang, tetapi belum terlalu cukup untuk berpuas diri.

KKI berulang tahun, artinya berefleksi dan mengucap syukur. Meski perjalanan belum panjang, toh sudah banyak rahmat Tuhan diberikan. KKI sebagai keluarga. KKI sebagai rumah bersama. Mungkin masih jauh dari harapan yang ideal, tetapi sudah berada di jalan yang benar. Dia menjadi rumah yang memberi keteduhan bagi anak-anaknya yang masih muda, yang sedang dalam masa awal perantauan, yang membutuhkan banyak bantuan dan bimbingan. Sedangkan bagi mereka yang sudah sangat dewasa, kerap kali sudah mampu menemukan rumah sendiri. Meski demikian, mereka tetap di terima di dalam rumah yang sama.

Satu doa patut kita panjatkan bersama. Kiranya keluarga dan kekeluargaan yang kita bina bersama terus membaik. Kiranya kita yang ada di dalamnya, atau yang pernah ada di sana, tetap dipakai Tuhan untuk meluaskan Kerajaan-Nya. Biarlah kita terus melangkah dalam iman akan Dia. Agar kelak, apapun bentuk yang akan terwujud, hanya Tuhan yang terus dimuliakan.

Tuhan memberkati.

Melbourne, 11-09-2010

(catatan ini saya buat sebagai sambuatn atas hari ulang tahun KKI Melbourne ke-23)

Comments