Jika aku lemah….

Kata beberapa teman, belajar yang baik itu adalah dengan mengajar. Hal itu saya pahami kebenarannya ketika saya harus mengajar. Sebelum menjelaskan kepada orang lain, saya mesti mempelajarinya dengan seksama untuk mendapat pemahaman yang baik. Jika saya tidak mampu memahami dengan baik, alhasil saya tidak bisa mengajar dengan baik. Kalau dipaksakan, materi yang saya berikan akan ‘mbulet’ dan sulit dipahami. Karena saya sendiri belum mampu memahami dengan baik.

Namun demikian, tidak selamanya teori itu bisa berjalan seperti itu. Karena tuntutan harus mengajar, maka siap-tidak siap; jelas-tidak jelas; saya harus menyampaikan sesuatu. Materi pelajaran itu bisa dalam bentuk khotbah, renungan, pengajaran, dll. Karena sudah dijadwalkan, atau karena seorang imam yang harus berkhotbah; maka mau-tidak mau harus ada yang disampaikan, meski terkadang tidak jelas. Lepas dari hal itu, dengan mengajar, saya sungguh belajar sesuatu. Karena harus mempersiapkan, saya menjadi tahu letak kesulitannya terlebih dahulu.

Kelemahan

Hari ini saya sedang mempersiapkan pengajaran untuk anak-anak PDKKI. Tema yang mereka minta adalah mengatasi kelemahan. Teorinya, saya mengajarkan sebuah cara untuk mengatasi kelemahan itu. Menjadi tidak mudah bagi saya ketika saya sendiri masih berjuang untuk mengatasi kelemahan-kelemahan saya.

Akan ada dua bagian yang harus saya pahami. Pertama pengertian dan teori untuk lepas dari kelemahan, yang kedua adalah pengalaman mengatasi kelemahan.

Bagian pertama mungkin bisa dipaparkan dengan cukup gamblang, namun menjelaskan pengalaman mengatasi kelemahan adalah sesuatu yang berbeda. Teori mengatasi kelemahan bisa saya ambil dari berbagai sumber, namun sharing mengatasi kelemahan, mestilah berasal dari diri saya sendiri.

Ada beberapa pengajar yang kerap bersikap jaim, alias jaga image. Seolah-olah memahami, meskipun kurang paham. Saya sendiri kurang setuju dengan sikap tersebut, karena dalam hemat saya akan lebih menolong jika pendengar memahami kesulitan saya dari awal.

Hal ini saya praktikkan ketika mengajar di sekolah, banyak tahun yang lampau. Jika ada materi yang sulit saya pahami, tetapi harus disampaikan, maka saya katakan bahwa saya belum memahami dengan baik. Untunglah para murid mau mengerti hal itu. Juga kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang sulit saya jawab, akan saya katakan bahwa saya belum tahu jawabannya. Kemudian saya akan bertanya kepada orang lain yang lebih paham, dan memberikan jawaban itu kepada para murid.

Kembali kepada persoalan kelemahan, saya hendak memaparkan dalam dua bagian. Pertama kelemahan yang mungkin bisa kita telaah dari sisi psikologi sedangkan bagian kedua mengenai kelemahan rohani. Dalam dua bagian ini, sebenarnya saling berkaitan. Karena tidak mungkin melepaskan yang satu dari lainnya.

Kelemahan dalam Injil

Sejauh saya cari, hanya Injil Matius yang menyebutkan dengan jelas kata kelemahan. Itupun dikaitkan dengan penyakit. Ada empat ayat yang bisa kita baca di dalam Injil Matius. Pertama pada bab 4:23 “Yesus …memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu”.

Kemudian di dalam bab 8:17 kita temukan kalimat seperti ini, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman …: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."” Sementara itu dalam bab 9:35 Matius menulis, “Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan”. Yang terakhir dalam bab 10:1 “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.”

Dari empat kutipan di atas, ada kesamaan yang bisa kita lihat, yaitu keterkaitan antara penyakit dan kelemahan. Kemudian, hal tersebut bisa dilenyapkan dengan bantuan kekuatan dari Tuhan. Para murid yang ikut dalam karya pewartaan, diberi kuasa untuk ikut melenyapkan kelemahan tersebut.

Hal yang membahagiakan adalah, Allah sendirilah yang pada akhirnya akan menanggung segala kelemahan kita. Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus, Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

Kelemahan = kekuatan

Ungkapan yang kelihatan bertolak belakang ini saya ambil dari ajaran St. Paulus. Di dalam beberapa suratnya, ia kerap menyinggung soal kelemahan ini. Bahkan satu ungkapannya begitu sangat terkenal, yaitu jika aku lemah maka aku kuat.

Ungkapan tersebut bukanlah kesombongan atau sebaliknya keputusasaan. Paulus sampai pada keyakinan bahwa hanya dengan mengalami kelemahan yang paling dasarlah manusia akan menemukan kekuatan yang sungguh besar. Apa artinya ini?

Ketika manusia mampu berdamai dengan dirinya sendiri, terbuka akan segala kelemahan dan kelebihannya, ia akan mampu berkembang. Ketika seseorang mampu melihat kelemahannya yang paling hebat, ia akan mampu pula melihat siapakah yang bisa membawanya keluar dari sana. Di sinilah Paulus memiliki pengalaman yang patut kita teladani.

Paulus adalah orang yang hebat. Secara akademis dan strata social dia orang terpandang. Namun pengalaman berjumpa dengan Yesus telah mengubah segalanya. Bahkan ia sendiri mengatakan bahwa semua hal yang dulu pernah ia bangga-banggakan, ternyata hanya sampah saja jika dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus.

Selanjutnya Paulus menemukan jalan, bahwa hanya dengan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhanlah ia akan dimampukan. Dengan menyadari kelemahannya, Paulus mampu menyerahkan diri seutuhnya kepada pertolongan Tuhan. Inilah sumber kekuatannya. Bahwa Tuhanlah yang kemudian bekerja. Tuhanlah yang sebenarnya kuat.

Berdamai

Belajar dari Paulus di atas, satu cara yang kiranya bisa kita tiru adalah berdamai dengan diri sendiri. Hal ini memiliki arti bahwa seseorang yang ingin lepas dari kelemahan, ia harus menyadari dulu kelemahannya. Selanjutnya baru menapaki jalan perubahan melalui pintu pertobatan.

Ada 3 pintu yang bisa dilalui. Pertama adalah pintu pengetahuan. Salah satu yang menjadi penyebab kelemahan seseorang adalah kekurangan pengetahuan. Tentu saja jalan untuk keluarnya lebih mudah. Yaitu memberinya pengetahuan yang cukup. Diharapkan dengan memiliki pengetahuan, ia akan terbebas dari kelemahan.

Pintu kedua kita sebut sebagai kemampuan. Biasanya kemampuan berkaitan dengan pengetahuan. Namun hal yang membedakan adalah, kemampun berkaitan dengan skill sedangkan pengetahuan lebih kepada pemahaman. Orang yang tahu saja tanpa pernah berlatih, ia tetaplah lemah. Maka latihan yang rutin akan membuat seseorang mahir, dengan sendirinya memiliki kemampuan yang cukup untuk maju.

Sedangkan pintu ketiga, dalam pengalaman saya cukup berat, adalah pintu kemauan dan kesadaran. Inilah pintu yang sulit dilewati karena kerap seseorang memiliki pengetahuan yang cukup bahkan kemampuan berlebih, namun jika tidak memiliki kemauan, semuanya akan menajdi sia-sia. Kemauan untuk lepas dari kelemahan, tentu harus didorong oleh kesadaran bahwa lepas dari kelemahan itu sesuatu yang jauh lebih baik.

Pintu ketiga ini bisa juga kita sebut sebagai kehendak. Dalam arti kata, sebuah kemauan yang kuat. Kehendak inilah yang kerap hilang dalam diri manusia modern, yang pengetahuannya luas, dan karena bantuan tekhnologi, kemampuannya menjadi hebat. Tanpa dibarengi kehendak yang teguh, semuanya akan sia-sia saja.

Maka berdamai dengan diri sendiri mesti melewati tiga pintu ini. Contoh sederhana adalah membaca Kitab Suci dengan teratur. Pengatahuan kita mengajarkan bahwa membaca Kitab Suci secara teratur adalah sesuatu yang sehat bagi jiwa. Ada banyak fasilitas yang bisa kita gunakan. Hal ini mendukung kemampuan kita. Tetapi jika tidak ada kehendak untuk membacanya, semua akan sia-sia. Termask penemuan Kitab Suci elektronik yang ada dalam genggaman kita.

Rendah hati

Akhirnya, sampailah pada tahap terakhir. Bahwa kelemahan itu, entah psikologis atau spiritual, bisa diatasi dengan mengupayakan kerendahan hati. Secara rendah hati mengakui segala kelemahan diri. Kemudian mengupayakan cara dan sarana untuk lepas dari situasi buruk tersebut.

Kerendahan hati ini adalah sesuatu yang mesti dipupuk. Jalan yang paling sederhana adalah meminta bantuan orang lain. Rumusannya sederhana saja, hanya orang yang rendah hati yang mau meminta tolong kepada orang lain. Doa Salam Maria membantu kita untuk bisa menjadi rendah hati dengan sungguh. Mendoakannya setiap hari dengan penuh kesadaran, akan memberi buah yang baik. Kalimat terakhir, ‘doakanlah kami yang berdosa ini…’ adalah bentuk latihan kerendahan hati.

Berikutnya adalah berlatih terus dan terus. Doa tobat mengajari kita akan hal itu. ‘Dengan pertolongan rahmat-Mu aku akan memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi’. Kalimat ini yang kerap kurang disadari. Ketika seseorang mendoakan doa tobat, biasanya kalimat doa itu meluncur bagitu saja dengan rapinya. Sehingga makna yanga da di dalamnya tidak dirasakan lagi. Bahwa buah pertobatan akan sungguh dirasakan jika seseorang mengupayakan dengan sungguh untuk keluar dari belenggu dosanya. Kata-kata ‘tidak akan berbuat dosa lagi’ harus sungguh diwujudkan dalam tindakan, bukan perkataan.

Penutup

Setelah saya selesai menyusun presentasi untuk pengajaran sore ini, saya termangu. Banyak langkah indah yang saya paparkan itu sesungguhnya sebuah jalan yang harus saya daki sendiri. Seluruh paparan inipun sejatinya ajaran untuk diri saya sendiri, karena saya melihat dengan sangat jelas bahwa banyak kelemahan masih melekat erat dalam seluruh urat nadi saya. Masih ada jalan panjang yang harus saya lalui untuk bisa keluar dari perangkap kelemahan.

Sahabat, semoga kita bersama bisa melalui jalan panjang dan melelahkan ini.

Tuhan memberkati.

Comments

niniek said…
kadang membaca Alkitab, tapi... kok gak bisa di mengerti dengan benar yah, sampai di ulang2 ber kali2...apa otak ku wis bebal yah...
salam
Romo Waris said…
ga harus mengerti kok Bu
dibaca saja
dan terus dibaca
lama=lama ia akan tinggal di daam hati
bukan di dalam pikiran
niniek said…
thank you, romo