KUNCI

Teman-teman, apa kabar kalian semua. Mungkin kalian semua akan menjawab ‘KURANG BAIK ROMO.’ Tidak masalah, aku akan membagi pengalamanku tentang kunci pada hari Sabtu yang lalu.

Setiap Sabtu pagi, anak-anak dekor dan prop mengerjakan tugas mereka di pelataran pasturan Port Melbourne. Sabtu kemarin, 2 April, cuaca agak dingin. Jessica datang pertama dan langsung bekerja, disusul Lucy dan yang lain-lain. Aku tidak bisa menemani mereka sampai selesai karena harus misa dengan Mudika.

Kunci rumah aku titipkan kepada Jessica, agar bisa memasukkan barang-barang. Aku tidak berpikir yang macam-macam. Misa Mudika berjalan lancar, dan aku masih memiliki beberapa janji. Aku baru membuka henpon sekitar jam 4-an sesudah memenuhi janji yang kedua setelah mismud.

Walah, banyak banget miscal dari Jessica dan Peter. Rupanya, selepas aku meninggalkan pasturan untuk mismud, bruder pimpinan rumah menemui anak-anak dan mempertanyakan ‘kunci’. Ada permasalahan sedikit, bisa juga besar tergantung dari melihatnya. Jessica dan Peter khawatir bahwa aku akan mendapat masalah dengan romo-romo di Port Melbourne berkaitan dengan masalah kunci tadi.

Aku mencoba mengalihkan persoalan kunci dengan memikirkan tugas yang masih harus aku selesaikan. Sore ini, di tengah hembusan angin yang lumayan dingin, saya duduk di kereta menuju ke Berwick, untuk misa lingkungan dengan warga di sana.

Ternyata aku tidak bisa benar-benar tenang. Bayangan bahwa aku akan dimarahi oleh romo-romo di Port Melbourne terus bergelayut. Aku sampai di rumah lagi sudah jam 10 malam lewat. Masuk kamar dan langsung membaringkan badan, hati ingin tidur tetapi pikiran ke mana-mana. Alhasil mata terus terjaga dan tidak bisa tidur dengan baik.

Untung, malam itu kita dapat bonus satu jam. Maka, ada tambahan waktu tidur. Minggu pagi hari aku jalani seperti biasa. Yang sedikit berbeda adalah aku harus segera pergi untuk jalan salib dan misa Ta Pinu. Aku sarapan pagi bersama bruder yang kemarin sedikit marah soal kunci. Setelah menyelesaikan gigitan roti yang terakhir, bruder mengatakan bahwa kemarin ada masalah.

Deg. Akhirnya diomongkan juga. Bahkan tidak menunggu lama. Dia mengatakan mengapa dia kemarin harus bicara dengan anak-anak soal kunci, dan soal rumah. Aku hanya diam dan mencoba memahami. Aku tidak berusaha mencari pembenaran diri atau pembelaan diri. Setelah, bicara cukup panjang, persoalan dapat diselesaikan. Bruder tidak menyinggung lagi soal kunci. Bahkan bersikap seolah masalah itu tidak pernah ada.

Teman-teman, apa yang ingin aku bagikan kepada kalian? Persoalan dan perbedaan pendapat itu selalu ada. Apalag dalam kepanitiaan yang begitu besar. Selalu ada selisih paham dan benturan. Bisa jadi itu soal sepele, tetapi bisa menjadi besar karena kita salah menyikapi. Di mana-mana hal ini kerap terjadi. Maka sikap yang bijak yang harus dikedepankan. Bagaimana sikap yang bijak yang mungkin diambil?

Pertama, mari kita belajar menahan diri. Semua kehendak baik jika dibenturkan begitu saja acapkali hanya akan menghasilkan rasa sakit. Mari menahan diri untuk melihat kemungkinan yang lebih baik yang bisa diambil. Mari menahan diri sendiri untuk juga mendengarkan yang lain, melihat yang lain.

Kedua, mari kita bicarakan dalam batas-batas yang jelas dan baik. Dalam kerangka besar ini, tidak ada yang mutlak salah dan mutlak benar. Kita sama-sama berproses dan belajar. Jika ada hal-hal yang kurang baik, mari kita bicarakan dalam kelompok terbatas. Apa maksudnya kelompok terbatas ini?

Sejak awal saya menekankan pola kerja kemuridan Yesus. Dia memiliki banyak murid, tetapi hanya memiliki 12 rasul. Sesekali Yesus mengajar 5000 orang. Beberapa kali Dia mengutus 70 murid. Dan hampir setiap hari Dia tinggal bersama 12 rasul. Namun, dalam saat-saat tertentu, Yesus hanya bicara dengan 3 rasul, bahkan saat yang genting hanya bicara atau mengajak satu murid saja. Apa hubungannya dengan kelompok kita?

Jika ada sesuatu yang kurang pas, mari kita bicara. Ada kerangka kepanitiaan yang sudah dibentuk. Ada alur kerja yang mesti dihormati, sembari bersikap saling menghormati yang lain. Tidak ada persoalan yang tidak terpecahkan. Kuncinya adalah, keterbukaan hati untuk bicara dengan baik dalam semangat bersaudara.

Terakhir, saya ingin mengingatkan kalian semua. Saat ini beban stress kita makin besar. Waktu sudah mendekat, dan masih banyak yang harus diselesaikan. Kerapkali ini bisa menciptakan banyak benturan yang tidak perlu. Seperti yang aku katakan kapan hari, semua yang kita alami ini tidak ada yang ‘salah kirim.’ Semuanya telah dirancang oleh-Nya. Seperti sebuah pendakian gunung. Kita sudah hampir sampai puncak. Jalan yang harus dilalui makin terjal. Salah pijak akan membuat kita tergelincir jatuh. Jika ada yang kurang pas, jika ada yang salah, tidak perlu dicari siapa biang salahnya. Mari kita lenjutkan dan teruskan langkah kita. Bicara dan dengarkan, mungkin itu kunci yang bisa kita pegang.

Tuhan memberkati.

tulisan ini juga dibuat untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan drma musikal

Comments