The power of forgiveness

Sahabat, catatan kecil ini terinspirasi kisah yang ditayangkan oleh TV SBS dalam acara Dateline. Adalah Jackie Milliar yang membagikan kisah luar biasa ini, kisah yang oleh sebagian orang dianggap gila. Ya, banyak orang menganggap Jackie gila karena memaafkan orang yang hampir membunuhnya.

Malam itu, 4 November 1995, dua remaja bersenjata mencuri sebuah mobil dan menembak pemilik mobil dan meninggalkan begitu saja. Jackie Milliar, korban perampasan dan penembakan itu ditemukan masih hidup dan dibawa ke rumah sakit. Peluru yang melukai kepalanya membuat sebagian otaknya mengalami kerusakan dan ia hampir buta.

Pelan tapi pasti kesehatan Jackie pulih dan dia memulai kehidupannya dari awal lagi. Artinya, dia belajar duduk lagi, belajar berjalan lagi, bahkan belajar berbicara lagi. Ia memulai kehidupan keduanya setelah hampir meninggal. Apakah kisahnya sudah selesai? Ternyata belum.

Ia kehilangan banyak memory masa lalu. Bahkan ia juga tidak memiliki ingatan pada malam yang hampir merenggut nyawanya tersebut. Kisah selanjutnya yang menghenyak banyak pihak adalah apa yang ia lakukan sesudah ia bisa beraktivitas kembali.

Ia memaafkan kedua remaja yang hampir membunuhnya. Tidak berhenti sampai di sana, ia juga mengunjungi dua remaja tersebut di penjara. Bukan hanya sekali ia ke sana, bahkan setiap tahun ia mengunjungi mereka dan bercakap hangat dengan mereka. Sebuah tindakan yang menurut beberapa kalangan dikategorikan tindakan ‘gila’.

Benarkah Jackie melakukan tindakan gila?

Bagi saya bukan sama sekali. Ibu yang luar biasa ini melakukan tindakan yang sangat berani. Memaafkan dan menjalin persahabatan dengan orang yang telah mencelakainya. Tidak banyak orang yang berani melakukan tindakan seperti itu. Kebanyakan orang akan memilih tindakan membenci.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga saya peroleh dari kisah ini. Saya melihat Jackie bahagia dengan pilihannya. Ia tidak peduli dikatakan gila karena memaafkan. Dia gembira dengan pilihannya, bahkan sambil tertawa dia mengatakan ingin dipeluk oleh penembaknya. Ia mendapatkan pelukan itu, pelukan yang tulus dan keras. Pada akhirnya dia bahagia.

Sahabat, sebuah pilihan yang kerap dihindari oleh banyak orang, yaitu memaafkan. Banyak orang memilih menyimpan amarah dan dendam dalam hati. Hal tersebut kerap berakhir pada sakit, bukan sekadar sakit hati tetapi juga sakit fisik. Memaafkan sama halnya dengan melepaskan beban dan membuat kotoran yang ada dalam hati. Hasil akhirnya adalah bersih dan sehat. Sayang bahwa hal ini kerap tidak dilakukan.

Rupanya inilah alasan mengapa Yesus juga meminta kita untuk saling memaafkan ketika Dia berbicara mengenai Sabda Bahagia, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,” (Mat5:44-45). Saya tidak mengetahui agama Jackie Milliar, tetapis aya yakin dia menghayati ajaran Yesus ini. Memaafkan dan mengampuni sungguh memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia memberi kesembuhan dan kesegaran dalam hidup. Jika tidak percaya, silahkan mencoba, memaafkan dan mengampuni.

Tuhan memberkati.

Comments