Menilai!

Jangan gampang menilai dan menghakimi. 
Pesan ini sangat kuat saya rasakan pagi ini. Pengalaman menjadi penelis debat, mau tidak mau membuat saya menilai kemampuan para calon legislator. Melihat penampilan teman-teman BMI yang terkadang aneh-aneh membuat saya juga tergoda untuk menilai. Dan penilaian itu bisa salah fatal.
Ini contohnya: ketika saya memimpin sesi tanya jawab, saya melihat seorang 'pria' mengangkat tangan. Kemudian saya berkomentar, "okelah, karena dari tadi yang bicara perempuan, sekarang kita beri kesempatan yang laki-laki." Mendengar ini banyak yang tertawa. Saya pikir ada yang lucu, ternyata oh ternyata, dia bukan laki-laki. Dandananya memang laki-laki tetapi dia ternyta perempuan. "Waduh, saya salah, ternyta dia bukan laki-laki," komen saya kepada sesama panelis. Mendengar itu kawan panelis berbisik pelan, "di sini harus hati-hati, Romo, yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya."
Menilai, memberi komentar, menghakimi, amatlah mudah kita lakukan. Menurut pengalaman saya, kita akan menilai kalau sesuatu itu tidak pas dengan apa yang kita yakini. Kita akan menilai negatif terhadap sesuatu yang tidak kita senangi.
Ada seorang umat mengirim sms, dia melapor bahwa di gerejanya tadi siang ada sedikit kehebohan. Seorang perempuan cantik, berkaos ketat, bercelana pendek (banget) ikut misa. Membaca kabar itu saya langsung berkomentar miring, "pasti banyak yang terganggu, pasti banyak yang nyinyir, pasti romonya akan menegur." Komentar saya tidak berhenti sampai di sana, saya masih menambah, "itu tidak pantas, harusnya dia tahu tempat, tahu sopan santun, tahu diri..."

Pagi ini saya ditegur. Jangan mudah menghakimi. Apalagi kalau penghakiman itu berasal dari perasaan tidak senang, dari keinginan diri sendiri. Lebih dari itu saya diminta lebih murah hati, memiliki kasih untuk mengampuni.

Ini teguran selengkapnya:

"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
"Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Hong Kong, 17 Maret 2014, 09:13am


Comments

Unknown said…
Met siang mo.....

Makasih mo tuk santapan rohaninya setiap hari ......
Dan ini memang sangat sangat memberi saya kenyang tpi saya tidak akan bosan tuk memakan nya
Winda Carmelita said…
Hahaha iya bener Romo. Kadang komentar itu lebih tajam daripada masalah sesungguhnya ya hehehe..

Apa kabar Romo? Semoga sehat selalu yaaa. Lama tak jumpa :)
MoRis HK said…
Yusi, sama-sama

Winda, kabar baik ini.
Bagaimana kamu? Oh iyam aku ga pakai twiter lagi, hahahahaha sepele sih sebabnya, lupa password.
Maka sekarang cuman ngeblog sama pakai G+

Popular Posts