Menjadi Misionaris

Sahabat, sekarang ini saya menyebut diri saya sendiri seorang misionaris. Sebenarnya saya menyebutnya dengan pelan, agak bisik-bisik, karena predikat misionaris itu berat. Konsekuensinya berat. Dan kalau menimbang dan memerhatikan apa yang saya buat, ke-misionaris-an saya itu tipis dan kecil saja. Sudah tipis dan kecil.
Apa yang Anda pikirkan kalau mendengar kata "misionaris"? Pasti seseorang yang berasal dari negara lain, bangsa lain, yang datang untuk mewartakan kabar gembira. Kita semua yang berasal dari Indonesia menegnal para misionaris dari Eropa, dari Belanda, Jerman, Itali, dll. Mereka bisa para imam / pastor yang melayani di paroki kita, para suster atau bruder yang bekerja di sekolah atau rumah sakit. Kita mengenal mereka, mengalami betapa luar biasanya mereka bekerja. Lalu, bagaimana dengan sekarang. Ketika romo-romo atau para suster dan bruder dari Eropa itu sudah semakin habis. Ternyata ada pergeseran.
Meskipun ada pergeseran, entah makna atau pelaku, namun hal yang mendasar tetap sama. Misionaris dan menjadi messionaris tetap memiliki arti yang sama. Yaitu datang ke budaya yang berbeda dan mewartakan kabar gembira. Siapakah yang menjadi objek dari karya missioner itu? Siapakah yang di-missi-i? Apakah orang-orang yang belum mengenal Kristus? Yang dikenal dengan misi Ad-Gentes, atau mewartakan kabar kembira kepada bangsa lain, meskipun mereka sudah menegnal Kristus, intinya bangsa lain.

Kisah missioner...

Sebelum melanjutkan refleksi mengenai missioner dan menjadi missionaris, saya ingin berbagi cerita. Pengalaman ini terjadi ketika saya belum ada sebulan tinggal di Hong Kong. Hari itu kami diajak oleh seorang imam Maryknoll untuk makan dim-sum. Nah, ketika kami sedang menunggu antrian, kami dikejutkan oleh suara tangisan anak kecil.
Anak itu menangis menjerit-jerit. Ibunya berusaha menenangkan dia, mencoba memeluknya. Tetapi anak itu masih menangis, bahkan makin keras. Kemudian datang seorang gadis, saya yakin orang Indonesia, mendekati ibu itu dan mengambil anak itu. Anak itu langsung diam dalam pelukan gadis muda tersebut. Anak itu merasa aman, merasa dekat dan terjamin bersama gadis, cece pengasuhnya.
Kisah ini ternyata bukan hanya sekali. Kemudian banyak saya dengar kisah-kisah serupa. Banyak kawan berbagi cerita, bagaimana anak-anak itu lebih dekat dengan para pengasuhnya daripada dengan orangtuanya sendiri. 
Saya ambilkan satu contoh. Sebut saja namanya Melati. Dia berperawakan gemuk. Sudah beberapa tahun ini dia melayani pada satu keluarga yang memiliki dua anak, masih kecil. Sering kali, saat anak-anak itu sakit, mereka tidak mau tidur bersama orangtuanya, mereka maunya tidur dengan pengasuhnya, Cece Melati. Ini ada ungkapan yang cukup mengharukan. Suatu hari si anak tidur dalam pelukan pengasuhnya. Kemudian anak ini berkomentar, "Cece, cece ini semakin gemuk saja. Sekarang ranjangnya menjadi sempit karena Cece makin gemuk. Tetapi aku sayang sama Cece." Masih ada banyak cerita yang lainnya. 

Missioner sejati...

Sahabat, saya membagikan kisah para pengasuh tadi karena memiliki alasan. Sebelum sampai ke sana mari kita lihat pengalaman missioner dalam Gereja. Pada awal-awal lahirnya Gereja, para murid berkeliling untuk mewartakan kabar baik. Tujuan misi mereka sangat jelas, yaitu memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang/bangsa yang belum mengenal Yesus.
Kegiatan missioner mereka tidak jarang mengalami kesulitan, namun mereka tidak mengenal lelah. Kita bisa membaca dalam buku Kisah Para Rasul, bagaimana para murid, Petrus, Yohanes, Filipus, Paulus, Barnabas, dll. tak pernah lelah berkeliling ke berbagai tempat untuk mewartakan kabar gembira, yaitu Yesus Kristus.
Mereka mengalami berbagai kesulitan. Berkali-kali Paulus mengalami kapal karam, atau bahkan dilempari batu. Namun itu semua tidak menyurutkan semangat mereka dalam bermisi, mewartakan kabar baik.
Semangat itu terus membara dalam sejarah perjalanan Gereja. Kemudian muncul berbagai tarekat yang semangat dasarnya missioner. Misalnya Maryknoll, SVD, PIME, MEP, CM, dan masih banyak lagi. Bukan hanya tarekat yang semangat dasarnya misi yang melakukan karya misi, banyak tarekat religius melakukan karya misi. Alasannya, kabar gembira harus diwartakan dan dibagikan oleh siapa saja.
Mereka datang ke negara-negara lain untuk mewartakan kabar gembira. Seperti yang saya sebut di awal catatan, dulu kita mengenal para missionaris dari Eropa datang ke Indonesia. Sekarang banyak orang Indonesia datang ke negara-negara lain untuk mewartakan kabar gembira. Mereka missionaris, tetapi apakah mereka missioner sejati? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, para pastir, suster, bruder, jarang yang berhubungan langsung dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Bahkan bisa jadi mereka tidak pernah bertemu dengan mereka. Mereka tinggal dalam sebuah rumah/komunitas yang seluruh penghuninya orang yang percaya kepada Kristus.
Tetapi ada missioner sejati yang saya temui, dan mereka saya sebut sebagai missionaris domestik.

Missioner domestik...

Missionaris domestik itu ungkapan dari saya. Jangan dicari dalam buku-buku teologi atau apa, pasti tidak ada. Ungkapan ini saya pakai untuk menggambarkan kerja di missioner di ranah domestik, di dalam rumah. 
Kembali kepada pengalaman saya ketika menjumpai anak kecil yang menangis, dan juga cerita-cerita yang lain dari teman-teman BMI, saya meyakini bahwa merekalah para missioner sejati. Para buruh migrant yang datang ke negara-negara lain untuk mencari nafkah. Mereka sungguh saya alami sebagai para missioner sejati.
Mengapa?
Pertama, mereka tinggal bersama 'orang asing'. Mereka tidak bisa memilih hanya mau bekerja pada majikan yang beragama Katolik. Kebanyakan dari mereka, majikannya bukanlah orang Katolik. Bahkan tidak jarang, majikan mereka tidak beragama. Kawan-kawan Buruh Migrant ini tinggal bersama mereka. 
Mereka membawa sebuah nilai. Contoh cerita bagaimana seorang anak yang sakit lebih rela  tidur dengan pengasuhnya dari pada dengan ornagtuanya adalah gamabran sederhana bahwa mereka hadir dengan sebuah 'nilai'. Mereka datang dan hidup sebagai seornag yang beriman kepada Kristus. Tidak jarang, sikap hidup mereka, cara mereka menghadapi persoalan, dll sudah menjadi sebuah pewartaan. 
Mereka bermisi tidak dengan berkhotbah, tetapi dengan menjalani hidup sebagai seorang Katolik. Mereka tidak mampu berkhotbah, tetapi sikap hidup mereka adalah sebuah khotbah.

Jangan takut...

Banyak pengalaman yang tidak jarang melahirkan rasa takut. Banyak cerita dari teman-teman buruh migrat, atau juga cerita-cerita dari umat yang lain, cerita mengenai ketakutan. Ada kisah dari seorang istri yang bergitu tertekan karena ulah suaminya. Ada cerita mengenai suami yang merasa gagal. Ada kisah mengenai ibu yang menderita karena merasa tidak mampu mendidik anak-anaknya. Semua kisah ini tak pelak membuat takut.
Namun, hari ini kita diingatkan untuk tidak takut. Karena Yesus menjanjikan penghibur, menjanjikan pembela, yatu Roh Kudus. Jangan takut untuk terus menjadi missionaris. Jangan takut untuk terus hidup dalam iman Katolik. Jangan takut untuk terus percaya kepada Yesus. Karena kita diberi seornag pendamping, seorang pembimbing, seseorang yang akan membela kita. Namanya Roh Kudus.
Jangan takut, walau kita hidup bersama orang yang tidak mengenal Kristus. Jangan takut walau pasangan kita yang mengatakan pengikut Yesus tetapi nyatanya tidak. Jangan takut dengan itu semua, karena kita memiliki seorang pendamping.
Jangan takut juga untuk terus mendoakan kami, orang-orang yang belajar menjadi missionaris. Doakan kami, di manapun kami berada, kami terus mewartakan kabar baik. Doakan kami agar kami tidak dikalahkan oleh gemerlapnya dunia. Doakan kami agar terus menyatukan cinta kami dalam ikatan cinta yang diteldankan oleh Yesus sendiri. Doakan kami agar sungguh menyatukan cinta kami dalam kasih Yesus sendiri.
Jangan takut menjadi missionaris, minimal di rumah Anda sendiri. Di rumah sendiri atau di rumah majikan. Jangan takut menjadi missionaris. Jangan takut untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus, jangan takut untuk menjadi Katolik. 

Hong Kong, 25 Mei 2014
Pesta Santa Maria Magdalena de Pazzi

Comments