Nasi goreng pete dan PENTEKOSTA

Sahabat, hari ini adalah Hari Raya Pentekosta, turunnya Roh Kudus atas para rasul. Peristiwa ini sudah dijanjikan oleh Yesus. Merenungkan peristiwa ini, saya jadi teringat nasi goreng pete. Anda boleh tertawa, tetapi sungguh, keduanya memiliki kemiripan. Sulit membayangkan kalau Anda belum pernah mencicipi dahsyatnya nasi goreng pete.
Sebenarnya ini bukan catatan mengenai kuliner, tetapi mungkin ada yang penasaran bagaimana mengolah nasi goreng pete yang dahsyat, nendang abis. Berikut saya bagikan resepnya sehingga nanti bisa dicoba dan direnungkan, apakah benar bahwa nasi goreng pete itu seperti Pentekosta.
Pertama panaskan minyak, kedua masukkan potongan daging ayam. Ini bisa diganti ikan asin, tetapi paduan ikan asin dan pete kurang mantap, perangnya terlalu dahsyat. Kemudian masukkan irisan bawang putih, dikeprak saja dan irisan bawang bombay atau bawang merah. Jika suka pedas bisa dimasukkan cabe keprak beberapa potong dan jangan lupa garam. Ketika ayam mulai menguning masukkan telur dan kemudian pete yang diris-iris. Setelah itu masukkan nasi. Ketika nasi goreng sudah setengah matang, masukkan ebi kering, beberapa sendok, aromanya akan luar biasa. Terakhir jangan lupa dengan sentuhan kecap manis. Setelah matang sajikan dengan telur ceplok di atasnya. Sebagai pemanis beri acar atau irisan mentimun dan tomat.
Kemudian mulailah menyantap. Hmmmmm..... Pasti langsung meledak di dalam mulut. Aroma pete dan ebi yang menyatu akan menghasilkan paduan rasa yang luar biasa. Jangan takut bahwa aroma pete akan meninggalkan bau mulut yang hebat. Itu hanya akan terjadi kalau kita makan pete dalam jumlah yang banyak sekali. Apalagi pete ini sudah tergoreng, jadi aromanya tidak akan kuat lagi. Percayalah, setelah menikmatinya Anda akan dipenuhi dengan kegembiraan. Jangan tidak percaya sebelum mencobanya. 

Pentakosta itu seperti nasi goreng pete

Roh Kudus yang tercurah memberi daya gembira, daya kobar dan daya dorong. Seperti pete yang meledak dalam gigitan, Roh Kudus akan meledak dalam hati insan yang menerima-Nya. Tetapi Roh Kudus hanya akan bekerja kalau seseorang berani memberikan diri dikuasai oleh-Nya.
Kelezatan nasi goreng pete hanya bisa dinikmati oleh orang yang berani menyantapnya. Demikian juga kedahsyatan dan daya ubah Roh Kudus hanya akan bisa dialami oleh mereka yang berani membuka diri untuk dikuasai Roh Kudus. Karena Dia seperti api, membakar dan menggerakkan. 
Peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para rasul selalu diceritakan dengan gambaran api yang turun menjilat-jilat. Seperti ada petir berkilauan, api turun menjilat-jilat. Kemudian, setelah terkena jilatan api tersebut, para murid seolah memiliki kekuatan berlipat. Mereka berani berbicara, berani bersaksi, bahkan berani mati.

Keberanian membuka hati

Pada Injil Yohanes, kisah yang disajikan sedikit berbeda.  Kisah Pentekosta, turunnya Roh Kudus, diceritakan bersamaan dengan kisah kebangkitan dan perutusan. Selalu diawali dengan cerita soal ruangan yang terkunci. Para murid berkumpul dalam ruang yang terkunci. Meski pintu terkunci Yesus bisa masuk.
Gambaran pintu yang terkunci adalah gambaran hati yang terkunci. Dari pengalaman kita bisa tahu bahwa hati yang terkunci kerapkali lebih dahsyat dibandingkan dengan pintu yang terkunci. Yesus mampu menembus pintu yang terkunci, tetapi kalau hati juga terkunci mungkin akan berbeda ceritanya. 
Para murid mengunci pintu ruangan, tetapi tidak mengunci pintu hati. Petrus sudah dibasuh dengan pertanyaan, "apakah engkau mengasihi Aku lebih dari yang lain?" Pertanyaan itu melegakan, sungguh sebuah pelunas dahaga dan ketakutan. Pertanyaan itu memberi kekuatan. Bukan pertanyaan itu sendiri, tentu saja, tetapi melalui pertanyaan itu dimungkinkan sebuah jawaban. "Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau."
Hati yang terbuka memungkinkan untuk diisi. Juga diisi dengan Roh Kudus.

Peace be with you

Salam damai disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Damai itu harus menjadi tanda kehadiran Roh Kudus. Karena setelah memberi salam damai, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada para murid. 
Damai itu tanda cinta. Damai itu dirasakan bukan sekadar diungkapkan. Kita bisa membandingkannya dengan orang yang jatuh cinta. Orang yang benar-benar dikuasai cinta biasanya bisa kita kenali keberadaannya. Aduh, kok mbulet kata-kata saya. Begini saja, bandingkanlah dengan batuk. Kalau batuk itu datang, ia tidak bisa disembunyikan. Cinta itu seperti batuk, kalau datang tidak bisa disembunyikan.
Demikian juga jiwa yang dipenuhi dengan damai dan cinta dari Roh Kudus, dia tidak bisa disembunyikan. Dia akan terbakar dan bergelora. Mereka tidak tahan untuk tidak membagikan damai dan cinta itu kepada orang lain. Bahkan, meski berbeda bahasa, orang akan merasakan dan mengerti apa yang disampaikan. Katanya, bahasa cinta itu bahasa yang universal. Siapa saja akan mengerti. Kalau hati kita dipenuhi dengan cinta ilahi, orang akan memahami apa yang kita bagikan. Terlebih kalau itu berasal dari yang ilahi.

Maka, beranikah kita membuka hati untuk menerima kehadiran Roh Kudus? Beranikah kita membuka hati untuk menerima cinta Allah? Beranikah kita membagikan damai dan cinta dari Roh Kudus kepada sesama? Seperti halnya, beranikah kita menyantap sepiring nasi goreng pete? 

Hong Kong, 8 Juni 2014


Comments

yusi yustina said…
sungguh luar biasa mo