Kesandung CINTA

Kesandung CINTA. Kebetulan yang menyenangkan. Sesuatu yang tidak tersangka-sangka, yang tidak pernah terpikirkan, terbayangkanpun tidak. Pernahkah Anda mengalaminya? Mungkin Anda mengharapkan tetapi tidak pernah menjadi kenyataan. Sebaliknya Anda bisa bertanya kepada saya, pernahkah saya tersandung CINTA? Saya tidak akan menjawab.
Kesandung CINTA bisa bermacam ragam bentuknya. Tetapi muaranya hanya satu HIDUP YANG BERUBAH. Hidup yang mungkin pernah dibayangkan, tetapi tidak pernah benar-benar berani diharapkan. CINTA yang saya maksudkan di sini bisa bermacam ragam bentuknya.
Misalnya, angan-angan seorang petani penggarap yang tiba-tiba menemukan harta karun tatkala mencangkul di ladang. Mungkin dia pernah membayangkan hal seperti itu, tetapi untuk benar-benar mengharapkan bahwa angan-angan itu akan terjadi? Walaualam.
Tetapi jika hal itu benar terjadi, misalnya petani penggarap itu benar-benar menemukan harta karun tatkala mencangkul di ladang, apa yang akan dia lakukan? Mungkin dia akan membawa harta itu pulang ke rumahnya. Tetapi ini tidak benar. Karena harta itu berada di tanah yang bukan menjadi miliknya. Tanah itu milik tuan yang mengupah dia untuk bekerja di ladang itu.
Yang bisa dilakukan adalah, menjual seluruh hartanya yang lain dan membeli ladang itu. Dengan demikian ladang itu menjadi miliknya dan dia berhak atas harta karun yang ada di ladang tersebut. 
Petani penggarap ini tersandung cinta, yang mengubah seluruh hidupnya. Pasti, dia tidak akan menjadi petani penggarap lagi. Pasti hidupnya akan berubah. dan seterusnya.

Bagaimana kalau tiba-tiba kita tersandung CINTA KEPADA TUHAN? Apakah itu bisa terjadi? Tentu saja bisa terjadi. Dan... semestinya untuk menjalin CINTA dengan TUHAN tidak perlu menunggu untuk tersandung terlebih dahulu.
Relasi intim dengan Tuhan bisa mulai dibangun. Langkah pertama adalah mengorbankan seluruh harta yang lain untuk diganti dengan harta yang lebih berharga.
Kalau relasi dengan Allah yang intum adalah harta yangs angat berharga, maka kita harus mau merelakan diri membuang harta lain untuk diganti dengan yang lebih berharga. Seperti petani penggarap yang menjual seluruh hartanya untuk bisa membeli ladang yang ada harta karunnya.

Harta lain yang melekat pada diri kita itu apa saja?
Banyak sekali. Kebanggaan kita. Apa yang selama ini kita banggakan yang bisa menjauhkan kita dari CINTA Allah. Bersediakah kita membuang sesuatu yang selama ini kita banggakan demi ditukar dengan CINTA dan relasi yang intim dengan TUHAN?

Santo Yohanes Salib menulis demikian:
Demi mencari Kekasih
kan kudaki gunung-gunung; kususuri pantai,
takkan kupetik bunga-bunga,
tak pula kutakut binatang-binatang buas;
manusia-manuia perkasa dan perbatasan kan kulalui.

Demi sebuah nilai yang dipandang sangat tinggi, maka hal lain harus rela dikorbankan. Hal ini mestinya sudah umum. Banyak orang rela meninggalkan keluarganya, demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negeri orang. Demi pendidikan yang lebih baik, banyak orang harus rela berjalan kaki berjam-jam lamanya, membayar begitu mahal, dan seterusnya.

Apakah kita bernai menjadikan RELASI YANG INTIM DENGAN TUHAN sebagai nilai tertinggi? Jika kita berani, maka mestinya langkah kedua adalah melepaskan hal-hal lain. Rela bekerja keras, mendaki gunung-gunung. Melatih diri, ketat mengupayakan sesuatu. menyusuri pantai.
Tetapi juga tidak memetik bunga-bunga. Sesuatu yang indah yang ada dalam perjalanan hidup. Pujian-pujian, kenikmatan-kenikmatan, keagungan-keagungan, kebolehan-kebolehan, dan seterusnya.
Semuanya demi mendapatkan SANG KEKASIH.

Kita masing-masing mengerti apa yang harus kita korbankan demi mendapatkan nilai yang tertinggi. Maukah kita melepaskannya demi sesuatu yang lebih agung tersebut?

Hong Kong, 27 Juli 2014

Comments