Kebutuhan karena MELIHAT

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih tinggal di kota Malang, Jawa Timur, belanja adalah salah satu hobby. Mengapa bisa begitu? Ceritanya begini.

Saat itu saga bekerja di sekolah. Tingkat stress cukup tinggi. Apalagi kalau menghadapi anak-anak yang nakal-nakal. Maka saya membutuhkan sarana untuk melepas stress. Kebetulan rumah di mana saya tinggal juga ada orang lain yang tingkat stressnya juga tinggi. Maka kami biasa melepas stress bersama-sama. Nah cara melepas stress ini yang agak lucu. Yaitu jalan-jalan ke mall saat mall sudah mau tutup.
Karena rumah (biara) kami dekat dengan mall (Matos, Malang Town Square) maka kami biasa ke sana ketika jarum jam sudah mendekati angkau sembilan. Mengapa kami memilih berangkat malam hari? Pertama, kami sudah makan di rumah, artinya kami tidak akan tergoda untuk mencari makan di luar. Kedua, mall sudah akan tutup sehingga tidak tergoda untuk membeli sesuatu.
Karena ternyata, kebutuhan itu muncul karena melihat. Misalnya melihat BENDA A tiba-tiba saya merasa butuh. Melihat BENDA B, tiba-tiba saya merasa butuh. Dan tentu saja saya membelinya. Sesampai di rumah baru saya sadari, benda tersebut tidak sangat saya butuhkan karena saya sudah pernah membelinya dulu.

Sahabat, mungkin saya bukan satu-satunya orang yang jika meliha sesuatu terus merasa membutuhkan barang tersebut. Dan saya percaya bahwa saya bukan satu-satunya orang yang suka berbelanja. Puji Tuhan, sekarang saya sudah tidak lagi memiliki hobby berbelanja. Saya juga sudah tidak membutuhkan lagi banyak barang meski melihat barang-barang itu setiap saat dan ada dorongan untuk membelinya. Sekarang saya sudah jauh lebih baik dalam mengendalikan nafsu berbelanja. 
Penyebabnya adalah, pertama: saya tidak memiliki uang untuk membelinya. Kedua, saya tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Bahkan sekarang saya lebih suka membagi barang kepada orang lain. (Nahhh, kalau barang sudah habis saya memiliki alasan untuk membeli yang baru.)

Cerita saya di atas hanyalah gambaran kecil bahwa menentukan sesuatu itu sungguh saya butuhkan atau tidak adalah sesuatu yang sulit. Ketika saya pergi ke mall atau pasar, kemudian dengan tiba-tiba muncul ide untuk membelinya (karena merasa butuh) bagaimana mengendalikannya? Terlebih kalau sedang memegang uang.

Ini yang saya lakukan semarang.
Ketika saya sedang tertarik untuk membeli baju baru karena baju tersebut bagus dan harganya pas, saya tidak akan langsung membelinya. Saya akan mengingat dan menghitung masih ada berapa baju di lemari pakaian saya. Cara ini, sampai sekarang cukup ampuh untuk mengerem nafsu belanja baju. Kecuali karena dibutuhkan, misalnya membeli baju kotak-kotak pada waktu kampanye. Meski saya memiliki baju kotak-kotak, tetapi tidak ada yang berwarna merah, maka saya membelinya dengan senang hati. Intinya, sekarang saya benar-benar menghitung, apakah saya membutuhkan benar atau tidak. kalau memang membutuhkan, saya akan beli, meskipun mahal.
Hal kedua yang saya lakukan untuk mengurangi nafsu belanja adalah mensyukuri apa yang sudah ada. Misalnya dalam mengenakan baju dan celana. Saya memang memiliki baju favorit dengan warna favorit. dulu, saya akan memakai baju tersebut dengan frekuensi yang cukup sering. Sehingga ada yang berkomentar, "Romo tidak memiliki baju yang lain, ya?"
Sekarang, semua baju saya adalah favorit saya. Maka, saya akan memakai baju sesuai dengan urutan. Baju yang selesai dicuci akan saya taruh di belakang, jadi semua baju akan saya kenakan. Apalagi dengan cuaca panas dan lembab, setiap hari harus berganti baju, maka tidak ada lagi baju favorit, karena semua dipakai, semua menjadi favorit. 

Sahabat, mengapa saya bercerita soal belanja, soal kebutuhan, sola melihat? Karena ternyata dalam hidup kita sehari-hari, menentukan apa yang sungguh kita butuhkan itu tidak gampang. Terlebih menentukan apa yang berguna, apa yang penting untuk kehidupan kita.

Saya pernah disindir oleh Nabi Yesaya. Dia mengatakan demikian, "mengapa kamu belanjakan uangmu untuk sesuatu yang tidak penting? untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?" Sindiran Nabi Yesaya itu sebenarnya hendak menohok saya yang telah melupakan apa yang utama dalam hidup saya. Mengapa saya harus mengeluarkan banyak uang untuk sesuatu yang tidak ada harganya, yang tidak membawa saya kepada kebahagiaan yang sebenarnya, yang kekal. Karena semua tawaran sudah diberikan.
Masih terngiang dengan jelas tawarannya. Datanglah padaku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Mengapa saya datang ke tempat lain sewaktu stress dan letih lesu menyerang saya? Masih jelas tergambar tawarannya, hai kamu semua yang haus, marilah dan minumlah. Tawaran itu diberikan, cuma-cuma, tetapi saya tidak mengambilnya karena saya merasa bisa menemukan yang lebih baik di tempat lain.

Santo Paulus lebih tegas lagi dalam menohok saya. Dia tidak hanya menyindir, karena rupanya saya tidak bisa disindir. Dia bercerita mengenai pengalamannya sendiri. Dia sudah menemukan apa yang utama dalam hidupnya. Dia sudah menemukan apa yang harus dikejar dan dipertahankan. Bukan soal baju, bukan soal makanan, bukan soal istri abru atau pacar baru. Tetapi soal CINTA TUHAN.
Paulus sudah melihat dengan jelas cinta Tuhan yang begitu hebat. Maka dia berkata, siapakah yang bisa memisahkan dari cinta Tuhan (kasih Kristus)? Tidak ada! Bahkan kematianpun tidak mampu memisahkan. Mungkin kita merasa heran, apa iya ada kematian yang mengancam seseorang karena mencintai Kristus? Ternyata ada.
Saudara-saudara kita di Mosul, Iraq, mereka mengalami pembunuhan karena mempertahankan cinta mereka kepada Kristus. Mereka sudah menemukan apa yang utama dalam hidup, mereka memegang penuh kasih Allah dan mempertahankannya. Mereka MELIHAT mencintai Allah sebagai sesuatu yang pentung dan utama. Bahkan karena itu, mereka harus menghadapi kebiadaban kelompok teroris ISIS. Mereka menghadapi kelompok yang haus darah. 

Melihat ini, saya menjadi malu. Apalagi kalau saya masih mempersoalkan masalah baju dan makanan. Saya belum mampu MELIHAT apa yang utama seperti saudara-saudara saya yang bertaruh nyawa karena mencintai Kristus. Saya malu karena saya masih bergulat soal, baju saya serasi apa tidak? Tetapi saya tidak pernah mempersoalkan, apakah cinta saya kepada Tuhan sudah pantas atau tidak. Itulah yang utama.

Hong Kong, 3 Agustus 2014


Comments