RUJAK : Ini Baru Hidup...

Minggu lalu saya bersama beberapa teman jalan-jalan di pantai Causewaybay. Hmmm, bukan pantai sih, pinggir laut gitu sajalah. Menikmati mentari senja dan menghirup bau laut yang terkadang kurang sedap. Setelah puas memandang senja yang digantikan malam, kami beranjak pulang. Di tengah jalan kami berjumpa dengan teman kami yang berjualan rujak manis. Rupanya dia sudah mau pulang, dan sisa dagangannya hendak dibuang. Aduh sayang sekali kalau makanan itu dibuang. Maka ketika beliau menawari kami beberapa bungkus, kamipun mengiyakan. Saya membawa pulang empat bungkus.

Rujak manis, begitu kami biasa menyebutnya. Tiap kota di Indonesia rasanya memiliki model makanan seperti ini. Rujak manis yang kemarin saya dapat isinya beraneka ragam. Ada mangga yang sudah tua, biasanya khan mangga muda. Rasanya manis masam. Masam tapi ada manisnya. Ada apel,  mentimun, bengkoang, dan cambu biji. Oh iya ada nanas dan pepayanya juga. Komplit! Kemudian sebungkus bumbunya yang kalau tidak alah kecap terdiri atas gula merah, kacang tanah, sedikit asem, cabe dan garam. 
Sesampai di rumah kost, empat bungkus rujak itu saya taruh di dalam kulkas. Besoknya baru saya nikmati satu bungkus. Keesokan harinya baru bungkus berikutnya. Tidak ada yang menyentuh makanan itu kecuali saya. Ada bermacam alasan, pertama, kebanyakan dari mereka tidak pernah menyentuh makanan yang berasal dari luar. Mereka suka menikmati buah yang segar, kelihatan mata dan mengupas sendiri. Yang tahu bahwa itu rujak juga tidak mau makan karena menurutnya, terlalu pedas!!
Setalh hari kedua, sebelum menyantapnya saya cuci dulu buahnya. Bengkoangnya sudah berubah warna. Pepayanya sudah mulai akan hancur. Mentimunnya sudah mengkeret terhisap kulkas. Setelah saya cuci, beberapa bagian saya buang, terutama pepaya. Barulah bumbunya saya tuangkan dan saya nikmati pelan-pelan. Teman-teman di meja makan tidak saya tawari. Saya nikmati sendiri dengan tidak peduli. Egois ya? Salah sendiri.
Oh iya, menikmati rujak ini rasanya seperti menjalani kehidupan. Anda boleh mengatakan saya membual. Tetapi ini benar. Rujak ini disebut rujak manis meskipun rasanya pedas. Bahkan ketika seseorang megap-megap kepedasan pun, kalau ditanya makan apa dia akan menjawab 'makan rujak manis!' Aneh tapi nyata. 
Manis itu terkandung dari bumbunya, dari gula merah yang digunakan. Juga dari beberapa buah yang memiliki kandungan rasa manis. Mangganya memiliki kandungan rasa manis meskipun ada unsur asam. Kemudian bengkoangnya manis dan segar. Nanasnya asam, dll. Tetapi ketika semua diracik menjadi satu, diaduk dengan bumbunya yang manis pedas, rasanya luar biasa. 
Kecut itu ada di sana. Manis itu ada di sana. Asam itu ada di sana. Pedas itu ada di sana. Tetapi perpaduan dari semuanya meninggalkan jejak rasa yang aduhai. Apalagi disantap dalam udara yang panas. Segar sekali meskipun keringat berleleran. Bayangkan kresnya bengkoang. Ada segar ada manis berpadu dengan pedas dari bumbu. Semuanya bergelut menjadi satu. Yang ada hanya kata, lagi dongggg.....
Itulah hidup. Siapapun pernah mengalami kepahitan dan rasa asam dalam hidup. Siapapun pernah mengalami pedasnya sebuah pertemanan. Siapapun memiliki kenangan manis persahabatan yang tidak akan hilang meskipun jarak dan waktu memisahkan. Setiap pengalaman memadu menjadi satu. teraduk dalam setiap keping peristiwa. Ada manis menghambur, ada pedas menyembul dan ada asam yang tak pernah lepas merangkul.
Namun paduan rasa itu meninggalkan jejak nikmat yang tiada tara. Setiap keping peristiwa yang memiliki aneka warna dalam hidup itu mendewasakan setiap pribadi yang tergumulinya. Balutan asam-kecut-pedas-manis peristiwa itu mendewasakan. Rasa pahit dan pedas meninggalkan jejak kesadaran untuk menikmati yang manis itu sungguh berharga. Hamburan rasa manis juga meninggalkan satu pesan untuk tidak lupa diri, karena di belakangnya ada iringan asam dan getir juga.
Itulah rujak, itulah hidup. Menikmati sepiring rujak, berarti menikmati sepiring kehidupan. Tidak ada orang yang rela menggigit cabe begitu saja. Orang masih mau menikmati mangga, meskipuns elalu berkata, jangan banyak-banyak ndat diabet. Atau, mana ada orang rela maan garam begitu saja. Tetapi ketika semua dipadu dalam bumbu, dalam sajian rujak, hmmm banyak orang mau menyantapnya. Oh iya, kalau nanti beli rujak lagi jangan lupa dengan kerupuk dan tahunya ya. Pasti mantap.

Hong Kong, 23 Agustus 2014

Comments

yusi yustina said…
terimakasih banyak mo

sungguh makanan rohani yg mampu mengugah duriku


TUHAN MEMBERKATI