Lebih DEKAT lebih HANGAT

Lai la wai... lai la wai....
Lai la wai... lai la wai....

Teriakan itu biasa terdengar di pasar-pasar di Hong Kong. Biasanya yang paling kencang suaranya adalah para penjual ikan. Terkadang juga penjual buah dan sayur kalau hari sudah menjelang sore dan pasar sudah harus ditutup. Karena ikan, sayur, dan buah tidak bagus kalau tidak segar. Maka para penjual itu berteriak-teriak menjajakan jualannya agar pembeli mendekat dan memborong.

Terikan itu kalau diterjemahkan sederhana artinya, "datanglah... datanglah...., mendekatlah... medekatlah..."

Lebih dekat lebih hangat...
Seorang penjual menghapakan pembeli datang, mendekat dan merapat ke lapak dagangannya. Kalau pembeli sudah mendekat dan rapat, mereka bisa mengenal lebih dekat aneka dagangan yang ada di sana. Sebaliknya juga kalau pembeli sudah dekat,penjual bisa lebih mudah melancarkan jurus rayuannya.
Soal mendekat dan menjadi lebih hangat ini bisa juga terjadi dalam banyak aspek kehidupan. Ambillah contoh dokter dan pasien. Seorang pasien harus mendekat kepada dokter agar sang dokter bisa melihat sakitnya lebih jelas. Sebaliknya juga sang dokter perlu mendekat kepada bagian yang sakit untuk memastikan penyebab, jenis penyakit, dan obat apa yang pas. Bahkan untuk bisa melihat lebih jelas, biasanya para dokter menggunakan alat bantu. Entah berupa senter atau stetoskop.

Hubungan dekat dan hangat ini juga terjadi dalam ranah ilahi. Antara Allah dan manusia. Dalam sejarah panjang kehidupan manusia, kita bisa menandai banyak kejadian yang menunjukkan hubungan dekat antara manusia dengan Allah. Tentu sumber yang sangat mudah dibaca adalah Kitab Suci. Di sana bisa kita temukan banyaknya kejadian yang menandakan pasang surut relasi manusia dengan Allah.

Pada awalnya kita membaca bahwa Allah adalah Allah yang tidak mau kesepian. Ia menciptakan teman untuk bisa berdialog dan jadilah manusia pertama yang dikenal sebagai Adam dan pasangannya Hawa. Mereka tinggal di sebuah taman yang dikenal sebagai EDEN. Relasi antar mereka juga ditandai dengan pasang surut. Puncaknya adalah ketika Adam dan juga Hawa melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh Allah. Mereka makan buah yang dilarang. Maka mereka diusir dari taman. Sebelum diusir, Allah masih memberi janji kepada perempuan itu akan adanya rencana keselamatan.

Kemudian relasi antara Allah dan manusia juga ditandai dengan relasi antara Allah dan keluarga Abraham. Hubungan mereka sangat dekat yang ditandai sikap saling percaya. Allah memercayai Abraham demikian juga sebaliknya Abraham memercayai Allah sepenuhnya. Relasi antara Allah dan Abraham ini kemudian berkembang begitu besar hingga menjadi relasi antara Allah dan sebuah bangsa, bangsa pilihan.

Relasi antara Allah dan bangsa pilihannya ini juga ditandai pasang surut. Allah selalu setia dalam mejaga relasi, sebaliknya manusia kerap tidak setia. Dalam kurun waktu yang begitu lama, Allah diwakili para nabi berusaha mengingatkan bangsa Israel akan perjanjian antara mereka dengan Allah. Hingga kemudian datanglah Yesus, Mesias Putera Allah.

Yesus menjadi puncak dari kehendak Allah yang ingin dekat dengan manusia. Allah yang tidak mau tinggal jauh dengan manusia, yang tidak mau hanya ada di atas awan belaka. Melalui Yesus yang turun dari surga, Allah ingin memeluk dan merangkul manusia. Allah yang mengalami segala derita manusia. Allah yang bisa kita sentuh, bisa kita sebut sebagai "saudara".

Sebagai manusia, Yesus tidak bisa selamanya tinggal bersama manusia. Pada saatnya Dia mesti kembali ke tempat dari mana Dia berasal. Maka Allah mesti mencari cara agar tetap bisa dekat dengan manusia. Cara pertama yang dipilih adalah mengutus Roh Kudus untuk mendampingi hidup manusia. Cara kedua yang dipilih adalah menciptakan EKARISTI. Cara inilah yang kehangatannya sungguh terasa karena kedekatannya sungguh melekat.

Kedekatan cinta...
EKARISTI membuat Allah tetap bisa dekat dengan manusia. Bahkan bersatu erat. Relasi antara dua pribadi akan terasa sungguh kehangatannya kalau masing-masing pihak memiliki frekuensi cinta dan kadar getar yang seimbang. Maksudnya, Allah sudah menggetarkan frekuensi cintanya sampai 8 skala riter ala gempa bumi, bahkan juga mengobarkan api cinta yang menyala-nyala seprti api tukang pembuat gelas. Kalau di pihak lain, di pihak manusia tidak mengubah frekuensi cintanya sehingga memiliki getaran yang sama, maka api yang dikobarkanpun tidak akan sebanding, dan akhirnya api cinta itu hanya mobat-mabit sepeti nyala api lampu minyak diterjang dingin.
Kedekatan cinta itu akan terasa hangat dan memanas kalau kedua belah pihak sama-sama mencinta, sama-sama memiliki gebu yang sama, sehingga terasa menggebu-gebunya. Kalau hanya satu pihak yang memiliki gebu maka kurang nendang rasanya.
Maka jelaslah sudah, pihak manusialah yang mesti mencocokkan chanel frekuensinya dan mengatur bara api cintanya sehingga nyantol dengan frekuensi cinta Allah dan seirama dengan getaran kasih-Nya.

Bagaimana caranya?

Sebenarnya caranya tidak perlu dibahas di sini. Mengapa? Karena setiap kita pernah memiliki pengalaman cinta, pengalaman dicinta dan mencinta sehingga jadilah pengalaman bercinta. Manusia lahir karena buah bercinta, buah cinta orangtua, buah cinta Allah yang mengijinkan pasangan yang bersatu erat memiliki buahnya. Ketika lahir, si jabang merah bayi mendapatkan cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga pada saatnya nanti muncul cinta-cinta yang lain, yang berada di luar batas relasi keluarga dan pada akhirnya membentuk keluarga sendiri.
Demikianlah hendaknya cinta yang akan dipadu dengan Allah. Cinta yang diawali dengan seringnya perjumpaan, terjaganya komunikasi, dan pemberian diri yang seutuhnya. Misalnya seorang pemuda, kalau dia tidak pernah datang ke rumah pemudi yang diincarnya, dia tidak akan pernah bersatu padu. Dia harus datang ke rumahnya, berkenalan dengan keluarganya hingga akhirnya menajdi bagian dari keluarganya.
Begitulah dengan relasi kasih antara manusia dengan Allah. Kita yang mesti datang mengunjungi rumahNYA, ngapel. Hingga nanti kita menjadi bagian dari keluargaNYA. Komunikasi juga dijaga dengan metode doa. Komunikasi bebas pajak, bebas roaming, bebas batasan pulsa. Murah meriah. Dan persatuan dengan erat itu terasa dalam EKARISTI. Saat kita menyambut TUBUH dan DARAHNYA. Di sana kita bersatu erat, bersatu hangat. Dia yang kita cintai telah menyatu di dalam kita. Betapa hangatnya.

Maka, merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, menjadi satu kesempatan untuk memperbaharui cinta, kesempatan mengobarkan cinta lagi agar menyala terang, agar menggebukan gelora di dalam dada. Mari kita datang mendekat padanya, karena lebih dekat memang akan lebih hangat.

Salam

HR Tubuh dan Darah Kristus
St. Teresa Lisieux Parish
Kowloon - Hong Kong



Comments