ELIA, YESUS dan kisah para JANDA

Menghubungkan Nabi Elia dan Yesus dengan para janda sepertinya sedikit dipaksakan. Tetapi tidak, mereka memiliki hubungan yang erat dengan kisah para janda. Baiklah saya ceritakan beberapa kisahnya agar Anpa percaya bahwa mereka memiliki hubungan yang erat dengan para janda. Oh iya, sebelum saya melanjutkan cerita, soal hubungan erat dengan para janda ini jangan terlalu dipikirkan secara negatif. 

Kisah pertama:
Saat itu Yesus sedang berada di kampung-Nya. Sudah cukup lama Yesus meninggalkan kampung berkelana bersama para murid-Nya. Mungkin Yesus sudah kangen dengan makanan masakan mama-Nya, atau juga kangen dengan teman-teman masa kecil. 
Seperti biasa, setiap hari Sabat mereka berkumpul di Sinagoga untuk berdoa. Dan mereka pasti mereka sudah mendengar desas desus mengenai sepak terjang Yesus di luar sana. Maka setelah membaca dari Kitab Suci, Yesus diberi kesempatan untuk berkhotbah. Juga seperti biasanya, Yesus tampil memukau.
Alih-alih percaya kepada Yesus, banyak orang yang mendnegarkan Yesus malah bersungut-sunggut. Menggerutu dan ngedumel. "Dari mana Yesus belajar semua ini, bukannya dia ini anaknya Yosep yang biasa membuat meja kursi ini, bukannya dia bersama kita bermain-main dan kita tahu siapa dia sebenarnya."
Tentu saja Yesus mengerti segala gerundelan itu. Wong pikiran orang saja bisa dibaca. Maka, seperti biasanya juga, Yesus langsung saja menyemprot mereka dengan cerita. Saya bayangkan cara Yesus menyemprot mereka itu begini:
"Heh teman-teman, kalian tahu nggak ada berapa janda di Israel pada jamannya Elia? Tahu nggak? Banyak banget. Meskipun ada banyak janda waktu itu, tetapi tidak kepada satupun janda di Israel Elia disuruh pergi. bahkan elia disuruh pergi kepada seorang janda yang jauh di luar negeri sana. Atau, kalian ingat nggak, berapa orang yang sakit gatal-gatal, sakit kusta pada jamannya Elisha, muridnya Elia itu? Kalian tahu nggak berapa jumlahnya? Buanyak banget! Tetapi tidak satupun dari mereka disembuhkan. Malahan seorang yang datang jauh bernama Na'aman yang disembuhkan. teman-teman, kalian tahu tidak, dari dulu sampai kini, tidak ada nabi yang dihormati dikampungnya."

Kisah kedua:
Elia baru saja menabuh genderang perang dengan Ahab raja Israel dan terutama dengan Izebel. Oh iya, Izebel berasal dari luar negeri. Anaknya Etbaal raja orang Sidon. Ketika dipersunting oleh Ahab, dia memberi syarat, yaitu boleh membawa dewa-dewanya ke Israel, yaitu baal. Rupanya pengaruh istri ini begitu kuat. Ahab membangun banyak kuil untuk baal, membangun banyak patung untuk dewa-dewa baal. Bahkan pada akhirnya seluruh Israel menyembah baal dan meninggalkan Tuhan Allah. 
Tinggal seorang yang setia. Namanya Elia yang berasal dari kampung Tisbe di Gilead. Elia ini bujangan yang tak takut mati. Dia sudah tahu bahwa tinggal dia seorang yang setia kepada Tuhan Allah, tetapi dia nekat menantang Ahab dan istrinya. Dia pergi dari Tisbe menuju istana raja. Di sana dia menantang perang. Dengan lagak bujang lapuk tak takut mati, Elia berteriak di depan istana.
"Hai Ahab, kamu telah membawa seluruh rakyat meninggalkan Tuhan Allah. Kamu lebih memilih bersembunyi di bawah ketiak istrimu dan memunggungi Allah. Dengarkan! tidak akan ada lagi hujan di Israel. Jangankan hujan, embunpun tak akan turun. Sampai aku meminta supaya turun."
Setelah berkata demikian Elia pergi ke sungai Kerit. Di sana dia bisa minum dengan baik. Ketika sungai itu mulai mengering, Elia diminta pergi ke kampung Sarfat. Di sana ini bertemu dengan seorang janda. Nama janda itu tidak pernah disebut, hanya dikenal sebagai janda dari SArfat. Apakah dia satu-satunya janda di kampung Sarfat, saya tidak tahu. Mungkin setelah Elia numpang di sana orang mengenal sebagai janda yang  memberi tumpangan pada orang asing.
Perjumpaan elia dengan sang janda juga agak norak. Elia bukan bertamu baik-baik, tapi langsung tembak tatkala berjumpa di ladang. Waktu itu si janda sedang mengumpulkan kayu bakar untuk masak. Dengan enteng, Elia meminta kepada si janda agar membuatkan dirinya sepotong roti bundar. Untung janda itu sopan, coba macam saya, pasti sudah saya semprot. Orang kok ga sopan. Kenal saja tidak, ehhh seenaknya minta roti bundar.
Sekali lagi, untunglah janda itu sopan. Maka dengan halus dia menjawab, 'maaf tuan, saya tinggal memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Setelah makan roti ini, saya dan anak saya akan mati karena kami tidak memiliki persediaan makanan lagi." Dasar Elia tidak sopan, dia masih ngotot. "Buatkanlah dulu aku sebundar kecil, baru kamu buat buat anakmu." 
Untunglah, sekali lagi untunglah janda itu sopan, maka dia membuatkan Elia sepotong roti bundar kecil. Barulah kemudian dia membuat sepotong roti kecil juga untuk dirinya dan anak perempuannya. Mungkin saat membuat roti itu, si janda berurai air mata. Inilah dengan sadarnya dia tahu akan mati. Karena dia tidak memiliki apa-apa lagi untuk di makan. Mungkin sewaktu membuat roti kecil itu, selain derai air mata juga mengalir derai doa kepada Allahnya, bahwa inilah kesempatan terakhir berbuat baik.
Selanjutnya diceritakan bahwa tepung itu tidak pernah habis dan minyaknya juga tidak pernah kering. Sehingga keesokan harinya, janda itu masih bisa membuat roti lagi dan lagi, untuk dia, anaknya dan Elia yang menumpang di rumahnya. 

Kisah ketiga: 
Kisah berikut adalah pertemuan Yesus dengan seorang janda yang kehilangan anak lelakinya yang tunggal. Saat itu Yesus sedang berjalan menuju ke kota Nain. Di gerbang kota, Yesus berjumpa dengan iring-iringan pembawa jenazah. Kesedihan rombongan itu begitu terasa. Bisa dipahami, karena yang meninggal adalah anak muda dari seorang janda. Sungguh menyedihkan, karena janda itu sudah kehilangan suaminya, sekarang kehilangan anaknya. Artinya dia kehilangan seluruh harapan hidupnya.

Cerita tentang janda yang kehilangan satu-satunya harapan dalam hidupnya adalah malapetaka tak tertahankan. Kesedihannya tak terperikan, seluruh orang yang mengenalnya ikut sedih, bahkan orang yang baru berjumpa akan ikut sedih. Tergerak oleh belas kasih itulah kemudian Yesus membangkitkan anak muda tersebut. "Jangan menangis, Bu. Janganlah sedih. Biarkan AKU memanggul bebanmu." Mungkin khayalan saya akan apa yang disampaikan oleh Yesus bisa jadi benar. Yesus tidak mau janda tersebut bersedih sendiri. 

Para janda:
Menarik bahwa kisah para janda ini kerap muncul dalam kisah-kisah penting dalam Kitab Suci. Terutama kisah-kisah yang menggambarkan belas kasih Allah. Karena para janda adalah gamabran dari mereka yang lemah dan terlupakan. Oh iya, par ajanda ini biasanya yang miskin dan tua. Kalau janda muda dan kaya, akan mudah menjadi tidak janda lagi, atau dengan gampang mendapatkan jaminan hidup. Tetapi para janda yang miskin dan tua, mereka sungguh tidak memeiliki apa-apa dan siapa-siapa untuk bertahan. Mereka hanya memiliki Tuhan.
Gambaran Tuhan Allah yang menjadi pembela bagi mereka yang lemah, juga menjadi sangat kuat dalam kisah mengenai para janda di dalam Kitab Suci. Janda Naomi dan anaknya Ruth mendapatkan belas kasih melalui Boas, kakek buyut Daud. Janda Sarfat yang mendapat belas kasih allah melalui Elia, dan janda dari Nain yang mendapatkan kemurahan hati Yesus.
Para janda ini juga mewakili kelompok orang yang dalam hidupnya mendapatkan banyak cap kurang baik. Kalau dia berjalan dengan seorang pria akan segera digosipkan. Kalau dia belanja sesuatu akah segera dicurigai, hanya karena statusnya yang janda. Maka, para janda ini sungguh wakil lengkap dari kelompok lemah dan tersisih, mereka yang rentan mendapat perlakukan kurang adil di masyarakat. Namun di sisi lain, mereka adalah wakil dari kelompok orang yang mendapatkan belas kasih dari Allah, karena merek ahanya mengandalkan diri kepaa Allah.

Maka hari ini saya sungguh terus berpikir mengenai para janda ini. Eh salah, berpikir mengenai belas kasih Allah kepada para janda ini. Saya terus merenung, bagaimana saya bisa meniru sikap belas kasih Yesus, sikap belas kasih Allah terhadap mereka yang kesulitan, mereka yang menderita. Yang menderita, bukan hanya para janda, karena sebenarnya yang menderita itu bukan hanya para janda, tetapi semua orang juga memiliki pengalaman menderita. Maka, saya sungguh didamprat oleh Yesus untuk ikut serta dengan Dia menjadi teman bagi yang menderita. 

salam
St. Teresa Church, Kowloon, Hong Kong






Comments