Senantiasa BERJAGA

Berjaga-jagalah senantiasa.
Bersiap-siaplah selalu. 
Waspadalah!

Ungkapan dengan irama nada yang sama ini kerap diujarkan oleh Yesus. Dengan mengambil contoh, berjaga karena akan adanya pencuri. Berjaga seperti seorang pembantu yang menunggu tuannya pulang. Berjaganya seorang istri yang menunggu suaminya yang lama tidak pulang seperti Bang Toyib. Kalau ini saya yang menambahkan. 

Sebenarnya, perkara apakah yang mengharuskan kita mesti berjaga secara demikian? Kalau hanya Bang Toyib yang nggak pulang-pulang ya biarkan saja. Mungkin dia sudah mendapat nyonya Toyib yang lain. Atau soal pencuri? Cukuplah kalau kita merapatkan setiap pintu dan jendela, atau tempat lain yang mungkin akan dipakai para begal menerobos rumah kita. Lalu soal apa?

Ini soal kematian.

Iya, kematian. Dia datang tidak tahu kapan. Pasti akan datang tapi tidak tahu kapan. Setiap dari kita akan mengahdapinya. Tidak ada yang bisa mengelakkannya, meskipun dia pandai, kaya, tampan, cantik, berkuasa, siapapun dia tidak akan mampu mengelakkan datangnya. 

Kalau kematian adalah sebuah keniscayaan yang tak seorangpun mampu mengelakkannya, lalu mengapa kita mesti ribut? Biarkanlah dia datang kapan dia mau, biar saja dia berkunjung sehendak hatinya.

Bukan itu persoalannya.

Kematian bukanlah akhir dari sebuah pertandingan. Dia hanyalah pintu masuk kepada gelanggang yang lain. Sebuah gelanggang keabadian. Ada pilihan yang harus dipilih sebelum kita menyebrang pintu kematian. Di sana ada gelanggang kebahagiaan dan gelanggang kesedihan.

Mungkin kata gelanggang kurang tepat. anggap saja sebuah keadaan, karena tempat tidak begitu penting. Tempat kebahagiaan kekal karena di sana akan bersatu dengan Tuhan. Tempat kesedihan kekal karena akan terpisah dengan Tuhan.

Nah, untuk menentukan kepada keadaan apakah kita akan dimasukkan; semua dihitung berdasarkan apa yang kita buat selama hidup di dunia ini. Katekismus Gereja Katolik menuliskan bahwa setelah kita mati, kita akan 'diadili' sesuai dengan kehidupan kita. 

Kehidupan yang bagaimana?

Santo Yohanes Salib menulis dengan indah sekali. Pada senjakala kehidupan kita, hanya cinta kitalah yang akan diperhitungkannya.

Sederhananya, seberapa besar cinta yang pernah kita pintal selama kita merajut hidup di dunia ini? 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menerjemahkan ungkapan dari Santo Yohanes Salib itu dengan sangat tepat. Melakukan kegiatan sehari-hari bahkan yang kecil sekalipun dengan cinta yang luar biasa. 

Contoh:

Santa Theresia tinggal di biara di kota Lisieux di Normandy, Perancis. Pada musim dingin, Santa Theresia selalu merapikan mantel yang ditinggalkan oleh para suster setelah mereka berdoa. Waktu itu belum ada alat pemanas ruangan yang elektrik. Yang ada hanya di ruang tengah yang dihangatkan dengan api. Sementara itu ruang doa selalu dingin.

Santa Theresia berpikir alangkah baiknya kalau setiap kali para suster itu kembali ke tempatnya berdoa dan mendapati mantel-mantelnya sudah terlipat rapi dan siap dipakai. Maka dia melakukannya. Melipat setiap mantel yang ditinggalkan begitu saja oleh para suster yang lain. 

Tidak ada seorang susterpun yang tahu siapa yang melakukan itu. Dan Santa Theresia melakukannya dengan hati yang riang dan sepenuh cinta. Meskipun itu hal kecil saja, namun Santa Theresia melakukannya dengan cinta yang luar biasa besar.

Itulah cara Santa Theresia menyiapkan diri menjemput kematian yang adalah pintu untuk bertemu dengan Tuhan yang amat ia cintai. Segala cara dia pakai untuk menyiapkan diri. Setiap hal kecil yang dia lakukan, dia lakukan dengan sepenuh cinta, karena hanya dengan cintalah setiap manusia akan diukur hendak masuk ke manakah setelah kematian menjemputnya. 

Bagaimana dengan kita? Sudahkah berjaga-jaga dan bersiap siaga? Kalau bingung hendak berjaga secara bagaimana? Mari kita tiru saja Santa Theresia Lisieux. Melakukan tugas harian kita, bahkan yang sekecil apapun, kita kerjakan dengan sepenuh cinta, dengan kasih yang melimpah, dengan hati yang semarak senang; niscaya akan mengalirkan cinta yang meluber-luber.

Tuhan memberkati.

Comments