Preparing for Christmas, day 24!


PREPARE HIM ROOM

Preparing for Christmas

Daily Meditation with St. Therese of Lisieux


Day 24

Tuesday, 4th week of Advent 

20 December 2016


Kutipan Injil:

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."  

Refleksi:

Let It Be!


Kidung Maria. Begitu popular bukan hanya di kalangan para religious. Tetapi para legioner setiap hari mengidungkannya, mendoakannya. Sebuah lagu ungkapan iman dari Maria akan panggilan Tuhan.
Tetapi sebelum Maria mengidungkan lagu pujiannya, yang akan kita dengarkan beberapa hari lagi, yang kita dengar adalah lagu pujian dari Malaikat. Bagaimana Malaikat memuji Maria sebagai yang terberkati, dan dengan atribut-atribut yang lain. Maka, akan sangat baik kalau kita mencoba merenung lebih dalam lagi perihal panggilan Maria ini.

Personal calling.
Pagi ini di ruang makan pastoran, kami bercakap-cakap perihal “personal calling”. Obrolan sampai ke sana karena teman saya yang orang Singapura bertanya, “mengapa ada orang yang ngotot pengen jadi pemimpin sebuah kota? Padahal pekerjaan itu adalah pekerjaan yang membuatnya mendapat kritik setiap hari. Meskipun dia berbuat baik sekalipun.”
Saya menjawab secara diplomatis dan sedikit sok bijaksana. Personal calling. Ada orang-orang yang dipanggil untuk urusan politik. Ada banyak politisi, namun sedikit yang sebenarnya memiliki panggilan sebagai politisi. Di Indonesia hal ini teramat banyak. Bahkan seniman pun kepengen menjadi politisi. Bukan karena panggilan, tetapi kerapkali karena uang.
Lalu ada orang yang dipanggil menjadi dokter. Ada banyak dokter, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh mendapat panggilan menjadi dokter. Kebanyakan mungkin merasa terpanggil karena unsur ekonomis, banyak uangnya, dlsb.
Hal sama juga terjadi pada panggilan hidup biarawan/imam. Mungkin kita berjumpa dengan begitu banyak biarawan/wati atau imam. Namun jika ditanya lebih lanjut, benarkah semuanya memiliki panggilan yang suci dan luhur itu? Saya tidak berani menjawabnya. Sama halnya dengan panggilan berkeluarga. Tidak semua orang terpanggil untuk hal tersebut.
Personal calling, demikian saya menyebutnya, adalah kuasa Allah semata. Hak prerogative Allah untuk memanggil tiap orang sesuai kebutuhannya.

Ada pertanyaan.
Apakah seseorang bisa menjadi sesuatu meskipun dia tidak terpanggil untuk itu? Misalnya, apakah seseorang bisa menjadi seorang imam walau sebenarnya dia tidak mendapat panggilan untuk menjadi imam?
BISA! Tetapi akan berbeda halnya kalau memang itu panggilan. Hidup sebagai imam yang dijalaninya akan menjadi sangat berat dan akan berefek kepada orang lain, umat akan ikut merasakan “keberatannya” itu. Mungkin dalam forum bersama, di depan umat, dia bisa saleh sekali. Namun tatkala dia sendirian di kamar, atau di tempat lain, dia bisa menjadi pribadi yang berbeda sama sekali. Meskipun tetap menjadi seorang imam. Demikianpun dengan panggilan yang lain.

Hari ini, Maria mendapat personal calling dari Allah. Mendapat sebuah tugas yang maha berat, menjadi ibu bagi Penebus. Tugas itu menjadi berat karena dia belum tinggal bersama suaminya. Ada risiko bahwa dia akan mendapat banyak kesulitan akan hal tersebut. Dan pertanyaan lain yang muncul karena “panggilan” yang tiba-tiba datangnya.
Personal calling yang diterima Maria berbeda dengan personal calling yang saya ceritakan di atas. Bagi sebagian besar orang,  personal calling itu akan mendorongnya untuk melakukan apa yang sungguh menarik hatinya. Maka muncullah istilah follow your heart atau follow your calling.
Untuk ini saya memiliki satu contoh teman saya sewaktu SMA. Selepas SMA dia melanjutkan pendidikan hingga mendapat gelar S1 bidang arsitekture. Hanya setahun dia bekerja sebagai arsitek, kemudian dia melepaskannya. Dia memilih mengikuti panggilan hatinya, bukan sebagai arsitek, tetapi sebagai guru music, guru piano. Dan dia Nampak sangat bahagia menjalani profesinya tersebut.
Contoh serupa bisa kita temukan di banyak tempat dan banyak orang. Mereka meninggalkan apa yang selama ini mereka geluti dengan dengan susah payah untuk memulai sesuatu yang baru, yang sesuai dengan dorongan hatinya. Follow their heart, follow their calling.

Tidak demikian dengan Maria. Personal calling-nya datang dengan sangat gamblang. Seorang malaikat datang menemuinya, menjelaskan semua rencana Allah akan dirinya, dan bagaimana semuanya akan terjadi.
Apakah kegamblangan rencana Allah itu membuat semuanya mudah? Ternyata tidak. Diceritakan bahwa Maria juga masih belum memahami sepenuhnya. Bahkan kemudian, dalam seluruh perjalanan hidup Maria, dia harus terus berusaha mencerna apa maksud Allah tersebut. Dia mencoba mencerna satu persatu, hingga akhir.

Bagi saya, kisah personal calling yang diterma oleh Maria ini memberi gambaran yang sangat jelas bahwa tiap orang memiliki personal calling yang berbeda. Saya memiliki personal calling yang berbeda dengan (bahkan) sesama imam yang lain. saya tidak harus sama dengan yang lain. yang harus saya lakukan adalah mengenali personal calling yang ada di dalam hati. Kemudian melihat dengan lebih jelas, apakah saya sudah menjawabi personal calling tersebut atau belum.

Let it be!
Berani menjawab panggilan Tuhan bukan karena melihat kemampuan diri atau karena mengerti semua rencana Allah, tetapi karena percaya. Itulah yang diteladankan oleh Maria. Let it be done to me.
Biarlah itu terjadi dalam hidup saya sesuai dengan yang engkau katakan. Demikian Maria menjawab semua penjelasan malaikat. Bukan karena dia memahami semuanya. Bukan! Tetapi karena Maria percaya.
Saat itu Maria mungkin baru berumur 14 atau 15 tahun dan mendapat tugas yang demikian berat. Bahkan untuk orang dewasa sekalipun belum tentu bisa ditanggung. Namun Maria memberi teladan iman. Biarlah itu terjadi, karena aku ini hanya buatan tangan Tuhan.
Di sini ada unsur yang mesti dimiliki agar bisa seperti Maria. Membuka hati untuk rencana Tuhan. Kalau hati tertutup akan rencana Tuhan, tidak mungkin hati ini akan mendengar panggilannya. Kalau hati ini tertutup akan panggilan Tuhan, tidak mungkin akan mengikuti-Nya.
Kerapkali dicontohkan seperti botol yang berisi penuh dengan air. Isi botol tersebut harus dituang terlebih dahulu agar bisa diisi dengan yang baru. Demikianlah juga dengan hati yang luas dan dalamnya tak mudah diselami itu. Terkadang penuh dengan sampah-sampah tak berguna, penuh dengan keinginan-keinginan yang tak jelas arah dan tujuannya. Hati yang semacam ini harus dibersihkan, dituang, dikorek, dibakar, agar bisa diisi dengan sesuatu yang baru.
Membuka hati untuk rencana Allah ini terbuka untuk siapapun. Baik tua maupun muda. Kita tidak bisa berkata, “ah aku sudah tua”. Kita ingat Zakharia dan Elisabeth yang dipakai Allah di usia senja mereka, bahkan yang dikatakan mandul. Kita juga tidak bisa berkata, “ah aku terlalu muda”. Lihatlah Maria yang dipanggil untuk karya besar pada usia yang sangat muda.
Sebaliknya juga, kita tidak bisa mengadili seseorang hanya karena dia muda atau tua. Allah bisa bekerja melalui siapapun. Allah bisa memanggil siapapun. Yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka untuk setiap rencana-Nya.
Let it be done to me.

Salam

Comments