be Merciful, Encounter the Cross, day 13


 40 Days Lenten Journey


“Hendaklah kamu murah hati, seperti halnya Bapamu di surga murah hati.”
Permintaan Yesus ini mengalir sejalan dengan permintaan-Nya yang lain agar kita sempurna seperti halnya Bapa sempurna adanya. Hal yang menarik adalah bahwa kemurahan hati itu dikaitkan dengan segala ukuran yang biasa kita pakai dalam hidup sehari-hari. Bahkan dalam hal pengampunan.

Ada baiknya kita belajar dari Daniel, seorang tokoh Israel di pembuangan Babilonia pada zaman raja Nebukadnesar. Di sini kita tidak perlu berdiskusi apakah Daniel itu benar-benar nyata dan pernah hadir. Itu urusan orang lain untuk memperdebatkannya. Yang perlu kita lakukan adalah belajar dari peninggalannya dari buku yang kita kenal sebagai Kitab Daniel.
Daniel adalah satu dari beberapa pemuda yang diangkut ke Babilonia. Teman-temannya yang juga kesohor namanya adalah: Hannaniah, Mishael dan Azariah. Empat pemuda ini dikenal sangat cerdas. Mereka dibawa ke Babilonia untuk dididik di sana. Di sana mereka mendapat nama baru, Daniel diberi nama Beltheshazzar. Sedangkan tiga kawannya diberi nama Sadrach, Meshach dan Abednego.
Keunggulan keempat pemuda ini, dan terutama Daniel, adalah menafsirkan mimpi. Karena kemampuannya inilah Daniel akhirnya diangkat menjadi penasihat raja. Malapetaka terjadi ketika diketahui bahwa Daniel tidak menyembah raja tetapi menyembah Tuhan. Maka dia dimasukkan ke dalam gua singa. Secara ajaib Daniel dan kawan-kawannya ditolong oleh malaikat.
Ini sekidit kisah mengenai Daniel agar kita memiliki bayangan mengenai siapa dia. Oh iya, dalam Kitab Suci Bahasa Indonesia, Kitab Daniel itu diterjemahkan secara kacau. Kita akan kesulitan membaca kisahnya karena terpotong-potong. Maka kalau di antara kalian ada yang ingin membaca kisahnya secara lebih lengkap, sebaiknya tidak membaca yang versi Bahasa Indonesia, tetapi bisa membaca versi yang Bahasa Inggris saja. Ada banyak versi, Anda bisa memilih versi “Jerusalem Bible”, bisa diunduh di handphone. Sangat gampang.

Baiklah kita kembali kepada topik hari ini. Di awal catatan ini saya mengajak kalian untuk belajar dari Daniel. Apakah yang bisa kita pelajari dari Daniel? Satu hal saja, yaitu tentang Doa yang tidak memakai ukuran. Doa yang jujur. Agar kita bisa belajar menjadi rendah hati.
Doa yang dipanjatkan oleh Daniel adalah sebuah doa “pengakuan dosa”. Daniel menyadari siapa dirinya yang sebenarnya dan siapa Allah yang sesungguhnya. Dia menyadari betapa baiknya Tuhan yang selalu mengampuni, yang membuka hatinya tiap kali Daniel datang dengan segenap lumpur dosa yang membalur jiwanya. Daniel mengaku dengan jujur siapa dirinya di hadapan Tuhan yang penuh belas.

Pengakuan secara jujur akan dosa-dosa ini tidaklah mudah dilakukan. Mengapa? Karena kita seringkali beralasan, mencari-cari alasan mengapa kita bisa berdosa. Tujuannya agar kita kelihatan tidak buruk-buruk amat, karena yang buruk adalah orang lain.
Bahkan dalam pengakuan dosapun, peniten kerap menyampaikan cerita-cerita yang panjang agar terdengar indah, agar terdengar bahwa dia sebenarnya tidak ingin berbuat dosa itu, tetapi orang lainlah yang menyebabkan dia berdosa. Atau dia membandingkan dengan orang lain. Melihat orang lain berdosa, maka dia ikut berdosa. Daniel mengajari untuk jujur. Karena dosa adalah urusan pribadi dengan Allah. Penodaan cinta Allah yang tulus.
Doa dan pengakuan dosa adalah pengungkapan kejujuran, bukan mencar-cari alasan dan pembenaran diri. Berdoa tanpa memakai ukuran macam-macam. Berdoa hanya memakai ukuran kasih Allah semata. Karena kemudian Yesus menegaskan, ukuran yang kita pakaikan kepada orang lain akan dipakai untuk mengukur diri kita sendiri. Kalau kita berat hati memaafkan, Allah juga akan berat hati memaafkan. Mengapa kita masih suka memendam kemarahan dan benci daripada pengampuan yang melegakan hati?

Bermurah hatilah seperti Bapa murah hati adanya. Salah satu cara belajar bermurah hati adalah bukan dengan membagikan banyak uang kepada sesama. Ini bisa mendatangkan pujian yang segudang yang tersemat pada nama kita. “Orang ini baik hati dan murah hati, suka berbagi dan menolong!”. Hal ini baik juga, tetapi yang terutama adalah berlatih murah hati dalam mengampuni.
Murah hati dalam pengampunan tidak sama haklnya dengan membiarkan orang lain berbuat semaunya, membiarkan orang lain terus menerus berbuat dosa. Murah hati dalam mengampuni juga berarti murah hati dalam membantu sesama untuk bisa berbuat baik, keluar dari jeratan dosa yang terus menerus.

Kalau hal ini berat dilakukan, baiklah kalau memulai dari yang lebih ringan. Yaitu berhenti menghakimi sesama. Mengapa? Pertama, belum tentu kita lebih baik dari mereka. Kedua, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dalam hidupnya, dalam pergulatan batinnya. Kita hanya melihat apa yang di luar, bukan apa yang sungguh-sungguh menjadi pergulatannya.
Bagaimana kita berhenti menghakimi sesama? Mungkin bisa dengan cara menunda sejenak. Kalau kita melihat sesame berbuat buruk, sebaiknya segera mengambil cermin dan melihat diri kita di sana. Kemudian kita bertanya, apakah aku lebih baik? Kedua, kesulitan apakah yang dia alami sehingga sampai melakukan hal tersebut? Lalu menutup mata dan berdoa, Tuhan ampunilah kami, semoga kami menemukan jalan yang baik untuk bisa sampai di tempat-Mu.

Seperti biasa, sebagai penutup mari kita berdoa mazmur.
Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; 
kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, 
sebab sudah sangat lemah kami.
Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, 
demi kemuliaan nama-Mu! 
Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami 
oleh karena nama-Mu!
Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: 
"Di mana Allah mereka?" 
Biarlah di hadapan kami bangsa-bangsa lain mengetahui 
pembalasan atas darah yang tertumpah dari hamba-hamba-Mu.
Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; 
sesuai dengan kebesaran lengan-Mu,
biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!
 Mazmur 79:8-11

Comments