Semangat kelelakian, Encounter the Cross, day 27

 40 days Lenten Journey


Saya tinggal di pastoran bersama 3 pastor yang lain. Jelas, semuanya lelaki. Tinggal satu rumah dengan banyak lelaki (saja) bukanlah hal yang asing. Sudah saya jalani dari tahun 1992 yang lalu, ketika saya masih remaja. Pengalaman tinggal bersama para lelaki dan hanya lelaki ini menumbuhkan atau menguatkan dugaan lama, bahwa lelaki itu merasa memiliki logika paling kuat. Merasa lebih rasional daripada perempuan.

Mengapa saya mengatakan lelaki itu “merasa” memiliki logika paling kuat? Karena terbukti tidak selalu begitu. Pada awal tahun 2013 yang silam, selama 6 bulan lamanya saya tinggal serumah dengan banyak perempuan. Ya saya harap mereka semua perempuan tulen. Waktu itu saya mengikuti sebuah program pembinaan bagi para pembimbing rohani.
Ada 40 orang peserta dan dari semuanya, hanya ada 5 laki-laki termasuk saya. Hmmm, sebuah pengalaman yang luar biasa tinggal bersama sebagai minoritas dalam hal jenis kelamin. Tentu saja ada banyak hal yang saya pelajari. Misalnya, hobby perempuan (baca para suster) itu nyuci baju. Hal ini saya simpulkan dari ruang cuci yang selalu penuh sesak. Tali jemuran yang selalu penuh. Sampai saya harus berteriak, “tolong dua helai tali jemuran ini khusus dialokasikan kepada kaum lelaki.” Kalau tidak, saya harus menjemur pakaian luar dalam di antara pakaian mereka, juga luar dalam. Pokoknya seru.
Hal lain yang saya pelajari adalah, tidak semua lelaki itu rasional dan tidak semua perempuan itu emosional. Meski kecenderungan untuk itu memang besar. Tentu saya tidak akan membeberkan contohnya di sini. Sebab kalau mereka membaca, saya bisa dikirimi pisang goreng sebakul. Khan saya nanti jadi gembira. Ohh jangan sampai. Setidaknya pengalaman tinggal bareng selama setengah tahun itu mengajari banyak hal. Buanyak banget.

Kembali kepada pengalaman sekarang di paroki. Anggapan lama bahwa lelaki itu susah sekali percaya kembali muncul. Setiap pagi saya bersama pastor paroki dan pastor yang lain bercakap-cakap dan berdiskusi ringan sambil sarapan. Baiklah saya ceritaka sedikit latar belakang mereka, sehingga memiliki gambaran akan kondisi teman-teman saya ini.
Pastor paroki saya sudah senior. Beliau tahun ini berumur 75 tahun namun semangatnya seperti masih 50 tahun. Kondisi fisiknya juga masih sangat prima. Bahkan kalau kami semua bepergian bersama, beliau selalu menjadi sopirnya. Karena beliau yang memiliki mobilnya dan memiliki SIM. Yang lain bisa nyetir tapi tidak memiliki SIM.
Beliau ini asli Hong Kong. Lahir dari keluarga Budha dan menjadi Katolik pada usia remaja. Setelah beberapa tahun menjadi Katolik kemudian memutuskan masuk seminari. Menempuh pendidikan di Roma dan di Chicago. Sempat diproyeksikan untuk menjadi staff pengajar di Seminari namun menolak setelah menjalaninya selama 2 tahun. Kesukaannya adalah bersama umat dan membagikan kekayaan rohani. Sebagai imam keuskupan, beliau juga anggota aktif Focolare Movement.  
Teman saya yang lain adalah imam Dominikan dari Singapura. Sebelum memutuskan menjadi imam, beliau ini sudah menyenyam Master dari Kanada. Beliau juga menempuh pendidikan di banyak tempat. Selain di Spanyol karena masa pendidikan sebagai imam Dominikan, dia juga belajar di Roma dan di Hong Kong, di Chinese University. Keahliannya adalah bidang perbandingan agama. Terutama agama-agama Asia Timur seperti Budha, Tao dan Konfusianisme.
Satu lagi pastor keuskupan Hong Kong orang Taiwan yang masuk Opus Dei. Namun dia jarang sekali bergabung bersama kami makan. Sepertinya beliau memiliki acara sendiri yang sangat padat. Maka kami bertigalah yang hampir pasti selalu menghiasi meja makan dan ngobrol bareng. Tentu saja saya lebih banyak sebagai pendengar. Kalau kita melihat sekilas latar belakang kedua teman saya tadi, saya ini sepeti semut di tengah dua gajah.
Nah, karena saya ini seperti semut, maka kerapkali hanya bisa toleh kanan dan kiri. Karena mereka duduk di kanan dan kiri saya. Oh iya, meja makan kami bulat, jadi meski saya di tengah, tetap enak untuk ngbrol dengan mereka.
Hal lainnya, kalau saya ikut mengungkapkan pendapat, saya selalu ditanya, “buktinya apa? Siapa yang pernah ngomong? Ditulis di mana?” wah seperti ujian skripsi saja rasanya. Lalu kalau saya bilang, ini feeling saya yang ngomong. Atau ini tadi asal njeplak saja. Mereka tidak terima meskipun jeplakan saya kerap benar. Tapi saya kesulitan memaparkan secara ilmiah.
Untunglah pastor paroki yang sudah berpengalaman ini mulai memahami. Karena dia sendiri juga begitu. Namun bahasanya lebih dalam. Misalnya, “suara hati saya mengatakan….”. Dia memakai kata “suara hati” atau term yang dia gunakan “inner voice” tetapi saya memakai istilah “asal njeplak”. Beda banget, beda kelas dan beda kualitas. Beliau sering meminta saya untuk terus berusaha mendengarkan suara hati dan mengikutinya. Meskipun kerap kali bertentangan dengan keputusan orang-orang sekitar atau keputusan pimpinan.

Oh iya, sebenarnya cerita saya ini arahnya ke mana sih? Lalu mengapa saya menceritakan ini? Sebenarnya saya tersenggol cerita Yohanes mengenai seorang pegawai istana yang anaknya sakit. Dia meminta tolong kepada Yesus agar berkenan datang ke rumahnya untuk menyembuhkan anaknya. Tetapi jawaban Yesus agak mengejutkan. “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Apakah artinya ini?
Kiranya harus kita pahami, waktu itu Yesus sudah sangat terkenal. Dan berita mengenai diri-Nya yang banyak membuat mukjizat (sign and wonder) sudah tersebar di mana-mana. Bukan tidak mustahil bahwa pegawai istana ini sudah mendengar banyak mengenai Yesus, dan meskipun dia belum melihat secara langsung, dia percaya. Hal itu terbukti ketika Yesus kemudian memberi perintah, “Pergilah, anakmu hidup!”
Dalam banyak cerita senada dalam Kitab Suci, perintah diberikan, atau mukjizat terjadi ketika orang tersebut percaya dan memiliki iman. Iman, pertama-tama bukan lahir karena sekadar melihat, tetapi sungguh mengamini apa yang ada. Meskipun ada kemungkinan bahwa dia tidak mampu memahami dengan akal budinya.

Lalu apa hubungan ini semua dengan semangat kelelakian? Saya sebenarnya ingin berkata, lelaki itu sulit sekali beriman. Karena dia merasa sangat rasional. Sedangkan iman itu kebanyakan irasional.
Lalu, apakah memang iman itu benar-benar tidak rasional? Jelas tidak juga. Kalau mengatakan iman itu pasti tidak rasional itu pasti salah. Beriman tanpa rasio (logika/akal budi) itu juga tidak benar. Akal budi mesti selalu dipupuk, diperkaya, dipertajam dengan banyak membaca atau mendengarkan pengajaran-pengajaran. Lalu itu dipakai untuk menimbang, menilai, dan menerima sebuah nilai-nilai dalam hidup yang kerap sulit disandingkan dengan logika sederhana.
Selain memperkaya isi kepala, isi hati juga mesti diperkaya dengan membersihkan yang kotor-kotor. Detox segala zat-zat kotor yang memperkeruh hati. Caranya dengan meditasi, doa rutin, menerima sakramen, dll. Dari situ kita berharap bahwa iman kita itu perlahan-lahan akan bertumbuh. Semoga.

Oh iya, teman saya yang doctor itu, yang bisa stress kalau nggak membaca buku barang sehari, akhirnya berujar, “Paulus, yang kamu katakana itu benar. Sekarang aku menuruti nasihatmu.” Terkadang saya lupa nasihat apa yang pernah saya berikan. Karena kerap kali hanya asal njeplak saja.

Salam
Hong Kong, 27 Maret 2017

Comments