Kemesraan ini… Encounter the Cross (day 37-39)

40 days Lenten Journey


Kita sudah hampir sampai di penghujung peziarahan masa pra paskah. Dalam tiga hari peziarahan iman kita ini saya rangkai dalam satu tema, kemesraan. Tentu akan menyenangkan merenungkan kemesraan sembari duduk di pinggir pantai dan memetik gitar, lantas bersenandung, kemesraan iniiii janganlah cepat berlaaaluuu…. Tetapi, berhubung saya sedang di kamar, ya sudah bermain gitar dan bersenandungnya dilakukan di dalam hati saja.
Kemesraan dengan orang terkasih memang jangan sampai cepat berlalu. Bahkan harus dipertahankan selama mungkin. Pada bagian ini saya termenung agak lama. Kira-kira dengan siapakah akan saya pertahankan kemesraan ini? Tidak usah menebak-nebak. Sebaiknya mari kita masuk ke dalam kemesraan yang lebih tinggi lagi, kemesraan dengan yang ilahi.

Tinggal dalam kemesraan (day 37)
Pada saat-saat terakhir hidupnya, Yesus banyak berkisah dan bercerita mengenai siapa diri-Nya, mengenai perutusan-Nya, dan mengenai relasinya dengan Bapa yang mengutus-Nya. Tidak lupa, Yesus juga melibatkan kita, sebagai pembaca, untuk masuk ke dalam misteri-Nya.
Relasi antara Yesus dengan Bapa-Nya itu sangatlah istimewa. Saya sudah membicarakannya pada catatan-catatan sebelumnya, ketika saya masih agak rajin. Nah, sekarang ini, Yesus hendak melibatkan kita di dalam relasi mesra tersebut. Dan kalau kita mau masuk dan tinggal dalam relasi mesra itu, niscaya kita akan mendapatkan hidup kekal. Yaitu tidak akan mengalami kematian.
Tentu kita akan protes, seperti halnya orang-orang yang mendengarkan Yesus pada waktu itu, mereka juga protes. Bagaimana kita tidak akan mati. Karena pada kenyataannya, semua orang akan mati. Yang dimaksudkan oleh Yesus dengan kematian adalah keterpisahan abadi dengan Allah.
Kematian badan yang akan semua orang alami, adalah sebuah peralihan kepada kehidupan kekal. Karena seluruh tujuan hidup manusia adalah bersatu secara kekal dengan Allah. Tinggal dalam kemesraan abadi. Sedangkan kematian kekal adalah, kalau setelah badan kita mati, roh dan jiwa kita juga terpisah dari Allah. Sungguh malapetaka yang tak terperikan.

Tinggal dalam kemesraan, bagi Yesus adalah tinggal dan hidup dalam segala Sabda-Nya. Kisah ini juga sudah kita renungkan pada peziarahan hari ke-36. Di sana Yesus mengatakan bahwa barang siapa tinggal di dalam Sabda-Nya, dia akan disebut murid-murid Yesus. Dan sekarang Yesus melanjutkan, kalau kita menyimpan Sabda-Nya dalam hidup kita, kita tidak akan mati.
Tinggal dan menyimpan Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari memang bukan hal yang sederhana. Kerapkali kita digoda untuk memahami terlebih dahulu segala Sabda yang kita terima. Kalau kita tidak mempu memahaminya, biasanya kita akan melewatkan SAbda itu, membiarkannya berlalu.
Karena kemarin kita sudah merenungkan perihal “beriman” dalam rangka tinggal dalam Sabda-Nya dengan mencontoh Bunda Maria dan Abraham, maka hari ini kita tidak perlu bersusah hati. Kita lanjutkan permenungan itu. Kita teruskan usaha untuk bisa tetap setia, tinggal dalam kemesraan dengan-Nya.


Menjaga kemesraan (day 38)
Kalau kita sudah tinggal dalam kemesraan dengan Allah. Sekarang saatnya kita menjaga agar kemesraan itu janganlah cepat berlalu. Bahkan sebaiknya kemesraan itu tetap abadi selamanya. Kemesraan iniiii ingin kujaga selaaaluu….(sing mode)
Bagaimana menjaga kemesraan dengan Allah? Ini soal tindakan nyata, bukan sekadar aksi cuap-cuap semata. Bandingkan saja dengan orang yang sungguh kau cinta. Apakah cukup ungkapan cinta dengan seribu kata setiap harinya? Tidak akan cukup. Tetapi, memberinya coklat sebagai kecutan, memberi kecupan dan ciuman, bekerja mencari nafkah untuk kesehariannya, mengajaknya bertamasya, dan hal-hal nyata lainnya akan mengatakan lebih kencang ungkapan cinta yang sesungguhnya.
Janganlah sampai ada orang berkata, “petirnya berkilat-kilat, tetapi hujan setetespun tak turun.” Atau, jangan sampai kau diibaratkan, “anjing menggongong tetapi tidak menggigit.” Kau hanya banyak omong tetapi kerja nyata sedikit.
Menjaga kemesraan itu bukan sekadar ungkapan kata manis di atas kertas, tetapi usaha setiap hari yang tak kenal batas. Misalnya, menajga komunikasi. Tanpa komunikasi yang baik, hubungan yang super mesrapun akan memudar dengan cepat. Maka dengan Allah, komunikasi yang baik harus terus dijaga. Komunikasi yang baik itu juga bukan soal pinta meminta, atau sekadar berkeluh kesah saja.
Bayangkan, orang yang Anda cintai setiap saat dalam komunikasinya dengan Anda hanya soal meminta ini atau itu, atau berkeluh kesah ini atau itu. Apakah Anda tidak akan bosan? Saya pasti akan bosan, segera bosan.
Komunikasi itu juga soal mendengarkan. Orang yang Anda kasihi juga perlu didengarkan. Maka, Allahpun juga perlu didengarkan. Dalam komunikasi, ada dan wajib ada, di mana kita diam, memberi kesempatan Tuhan berbicara dan kita mendengarkan. Karena dalam banyak waktu Allah juga pengen curhat.


Kemesraan ini, jangan kau tinggalkan… (day 39)
Kemesraan itu adalah soal pilihan. Memilih tinggal bersama yang terkasih. Memilih untuk selalu menjaga kemesraan. Karena Allah itu juga pencemburu. Dia tidak mau diduakan. Yesus tegas sekali berkata, barang siapa tidak mengumpulkan dengan aku dia melawan aku. No choice!
Kala itu, orang-orang yang mengenal Yesus secara langsung karena mendengarkan segala pengajaran-Nya memiliki pilihan. Memilih untuk bergabung bersama Yesus atau memilih di pihak yang melawan Yesus. Ternyata, meskipun mereka melihat Yesus melakukan banyak perbuatan baikpun mereka tetap hendak membunuh Yesus.
Kita ingat cerita kemarin (Jumat/7 April), ketika Yesus bertanya, “banyak perbuatan baik yang aku lakukan, karena perbuatan baik yang mana engkau hendak melempari aku dengan batu?”
Ternyata bukan karena Yesus telah melakukan segala perbuatan baik itu, mereka memusuhi Yesus. Tetapi karena mereka sudah memutuskan bahwa Yesus itu orang berdosa dan bersalah. Mereka sudah memiliki keputusan sebelum keputusan itu dijatuhkan. Dengan demikian mereka sudah memilih untuk berada di pihak yang berseberangan dengan Yesus.
Sisanya adalah orang-orang yang sederhana, yang mengenal Yesus karena sungguh melihat, mendengar, dan merasakan kuasa yang dibawa oleh Yesus. Mereka memilih untuk berada di belakang Yesus. Mereka menangisi Yesus dengan diam-diam. Mereka memuja Yesus juga dengan diam-diam.
Tentu sekarang kita juga mesti memilih. Meskipun sebenarnya pilihanitu tidak ada. Kenapa? Masak iya kita hendak memilih celaka daripada keselamatan? Masakan kita hendak memilih kematian kekal daripada kehidupan? Masak iya kita memilih derita daripada kemesraan?
Huh, sebenarnya tidak ada pilihan. Tinggal di dalam kemesraan dengan Allah itu adalah suatu keharusan kalau kita menginginkan kehidupan kekal. Persoalannya, sanggupkah kita juga memanggul salib bersama Dia? Tunggu saja besok jawabannya.

Salam.
Hong Kong, 8 April 2017


Comments