Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2010

The Pursuit of Happiness : Rekoleksi Keluarga Katolik Indonesia di Melbourne

Pit Stop Ibu Bapak yang terkasih, bagi yang menyukai olah raga balapan, pasti mengenal istilah pit stop. Yaitu saat berhenti di tengah lomba untuk membetulkan sesuatu. Tujuannya, agar kendaraan mampu berlomba hingga akhir. Saya andaikan perjalanan hidup/berkeluarga seperti sebuah lomba. Dibutuhkan saat-saat tertentu untuk mengambil istirahat, untuk masuk pit stop, bahkan bengkel agar hidup ‘kendaraan’ kembali normal dan mampu melaju dengan kencang.
Pit stop dalam hidup adalah saat berhenti sejenak, saat melihat kembali diri sendiri, ngecek apa yang kurang beres, dan mencoba membereskannya; agar perjalanan kembali normal dan tujuan bisa teraih.
Sampai berapa kali kita membutuhkan pit stop dalam hidup? Tidak ada yang tahu. Semuanya sesuai kebutuhan. Namuan sangat baik kalau memiliki jadwal rutin untuk check up komplit. Rekoleksi adalah salah satau cara check up mini komplit. Seperti hari ini.
Muda Ibu Bapak terkasih. Ada seseorang menyampaikan sebuah penilaian yang sangat jujur dan cer…

Awalnya Terbakar Cemburu…

Kawan, awalnya memang terbakar cemburu. Bahkan seperti yang dinyanyikan Padi, ini cemburu buta yang membakar bukan hanya jiwa tetapi juga raga. Kalau sekarang mesti mencari luruhan abu sisa pembakaran itu mungkin tidak akan pernah bertemu kembali. Sekian puluh tahun yang lalu, terkubur bersama hasrat masa kanak-kanak.
Cemburu itu kepada para utusan Tuhan yang tidak pernah rutin datang ke kampung kami. Gelegak dahaga hati kami untuk dekat Sang Pencipta hanya mampu terobati sekali dalam satu putaran purnama. Selebihnya para tetua umat memimpin upacara penyembahan kepada Sang Pencipta dengan sederhana.

Pernah terlontar tanya dari hatinya, kenapa para utusan Tuhan itu tidak bisa datang setiap ahad, mengapa mesti hanya sekali dalam satu putaran purnama? Ternyata jawabannya sederhana. Utusan Tuhan itu hanya seorang sedang dia mesti melayani berpuluh-puluh ladang. Maka tak mengherankan jika tidak petak ladang mesti sabar men unggu giliran disinggahi sang utusan.
Hati itu belum mau menerima ke…