Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2014

Dosa, Pendosa, PENGAMPUNAN

Sahabat, seorang kawan bercerita bahwa dia sudah tidak mengaku dosa selama 5 tahun. Saya hanya mengangguk, tidak memberi komentar. Oh iya, kisah ini saya bagikan karena dia berkisah bukan dalam sesi pengakuan dosa. Dia bercerita begitu saja, maka saya tidak terikat janji menyimpan rahasia pengakuan dosa.
Kembali kepada kawan yang bercerita sudah lama tidak mengaku dosa tersebut. Dia mengatakan bahwa terakhir mengaku dosa adalah saat berada di Singapura. Lalu dia berkata ingin mengaku dosa, tetapi tidak tahu kapan. Karena menurutnya, dia selalu jatuh dalam dosa yang sama. Maka malas untuk mengaku dosa, karena toh akan jatuh lagi dan lagi. Lantas buat apa mengaku dosa karena toh akan berdosa lagi. Saya tidak mengomentari, karena saat itu kami ngobrol sambil berjalan. Ada banyak orang di sekitar kami, tetapi mungkin tidak ada yang mengenal bahasa kami. Saya tidak menanggapi karena alasan sederhana, biarlah itu menjadi sebuah ungkapan saja. Biarlah tanggapan saya berikan kalau dia sungguh d…

Membakar Muffin

Ini masih cerita hidup di kost. Terutama aktivitas pagi hari saat sarapan. Karena kost, maka saya tidak bisa memilih menu sarapan seperti yang saya inginkan, misalnya sarapan pecel atau nasi goreng dengan telor mata sapi. Semua itu tidak ada. Menu sarapan yang bisa dipilih hanya ada tiga macam. Pertama sereal, yang kedua roti gandum dan ketiga adalah muffin. Ketiganya pernah saya coba. Awalnya saya selalu sarapan roti gandum. Kemudian saya mencoba sereal, ternyata perut saya menolak. Terakhir saya mencoba muffin.  Baru saya tahu ternyata memproses muffin ini beda dengan roti gandung biasa. Proses 'membakarnya' lebih lama. Suatu hari ketika saya sedang berdiri menunggu muffin selesai 'terbakar', saya diledek oleh teman-teman. Mereka mengatakan demikian, "Ada ungkapan bahwa kalau sedang merebus air jangan ditunggui, karena air itu tidak akan mendidih. Kalau muffin itu kamu tunggui, dia juga tidak akan matang." Lalu kami ngobrol soal menunggu dan waktu. Kami j…

Siapa BERTELINGA ...

Di tempat kost saya ada seorang imam yang menggunakan alat bantu dengar. Pada awalnya Fr. Bill, demikian biasa kami sebut, sempat kurang percaya diri dengan alat bantu dengar tersebut. Beliau sedikit malu karena merasa 'cacat'. Bukan hanya itu saja, sekarang beliau harus menyediakan waktu tambahan untuk merawat alat bantu dengar tersebut.
Dalam perjalanan beliau menemukan keasyikan tersendiri dengan alat bantu dengarnya. Dalam suatu kesempatan beliau mengatakan, "Sekarang kalau saya tidak ingin mendengarkan sesuatu, gossip misalnya, saya tinggal mematikan alat ini dan saya tidak mendengar apa-apa lagi." Sekarang beliau bisa memilih apa yang ingin didengar dan mana yang tidak. Dengan setangah bercanda tetapi serius saya nyeletuk, "Ada nggak ya alat bantu dengar yang hanya bisa mendengar Sabda Tuhan, atau ada nggak ya alat bantu lihat yang hanya bisa melihat kehendak Tuhan?" Celetukan saya ini tidak terjawab. Mereka hanya tertawa dan mengira saya sungguh han…

Berteman SENJA

Ada banyak hal sederhana yang kerap membuat saya girang. Pertama adalah pelangi, kedua adalah senja dan ketiga adalah bintang di langit. Kerap saya berlarian untuk bisa menjerat pelangi atau senja. Pernah saya stress karena kumpulan pelangi hasil menjerat berhari-hari hilang dibawa virus. Pelangi tidak datang setiap hari. Dan kalau dia datang, belum tentu saya membawa jerat. Maka ketika kumpulan pelangi itu hilang, hatipun meradang.

Demikianpun dengan senja. Saya tidak tahu daya apa yang begitu perkasa yang membuat saya bisa duduk diam memandangi senja. Kerap karena saya merencanakannya, maka saya juga membawa alat penjerat senja. Tetapi tidak jarang pula ketika saya berada dalam perjalanan, di dalam bis atau di dalam kereta dan saya hanya bisa memandang senja senyampang bis atau kereta bergerak. Bagi saya, senja tetaplah sebuah hadiah yang selalu sayang untuk dilewatkan. Bintang di langit hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di luar kota. Di mana polusi udara dan cahaya kura…

Panggilan yang menggetarkan jiwa

Saya pernah ditanya oleh seorang kawan, "kalimat apakah yang mampu menggetarkan jiwa?" Dengan cepat saya menjawab, "Aku cinta padamu...". Dan ternyata jawaban saya benar. Ungkapan yang memiliki kekuatan besar, yang mampu menggetarkan jiwa dan menggerakkan adalah ungkapan "aku cinta padamu". Maka agak aneh kalau orang mendapat ungkapan, "aku cinta padamu" dan hatinya tidak tergetar. Pasti ada yang salah. Bisa jadi telinganya sedang bermasalah, atau hatinya yang bermasalah. Atau lainnya. Mengapa saya menghubungkan telinga dengan hati? Karena keduanya berkaitan. Telinga hanyalah gerbang pertama yang menangkap suara, tetapi 'rasa' dari ungkapan itu hanya bisa dicerna oleh hati. Telinga hanya mampu menangkap suara keras atau lembut. Namun hati bisa mengurai lebih jelas, isi dari suara itu. Hati yang mampu mencerna apakah suara itu berasal dari hati yang marah, sedih, cemburu, gembira, atau dari hati yang sedang jatuh cinta.  Maka sekali lagi…

Angka 30 itu...

Apakah yang spesial dari angka 30? Rasanya tidak ada. Lihat saja, tidak ada perayaan-perayaan besar yang berkaitan dengan angka 30. Yang ada adalah 25, 40, 50, 60, dan 75. Namanyapun bagus-bagus, pesta perak, pesta emas, pesta rubi, pesta intan, dan entah apa lagi. Tetapi bagi saya angka 30 itu tetap memiliki makna. Setidaknya ada tiga alasan mengapa saya menyebutnya istimewa.
Pertama, kemarin kami merayakan pesta ulang tahun imamat Romo Heribertus Heru Purwanto, O.Carm yang ke-30. Bukan acara besar, hanya makan bersama. Yang spesial, beberapa teman-teman BMI, membuatkan tumpeng komplit dengan bubur ketan merah putih. Dan banyak lagi bermacam-macam penganan. Yang menarik adalah, Romo Heru, demikian beliau dipanggil di Hong Kong, memulai misi di Hong Kong ketika usia imamatnya menginjak angka 30. Kedua, Raja Daud mulai memerintah pada usia 30 tahun. Sebagian dari kita pasti membayangkan Daud muda yang pipinya kemerah-merahan. Itu benar, pada masa remaja dan mulai menjadi pemuda, Daud …

Hari ini, 25 Januari 2014

Hari ini adalah hari spesial bagi saya. Pesta bertobatnya Santo Paulus. Saya sudah merancang untuk merayakannya dengan spesial pula. Seperti cerita saya sebelumnya, bahwa tanggal ini memiliki arti tersendiri bukan hanya karena bertobatnya Santo Paulus, tetapi Paulus Waris ini juga bertobat. Tetapi rencana yang telah saya susun harus saya relakan untuk dipinggirkan. Ada rencana lain yang harus saya ikuti, yaitu rencana Tuhan. Sebenarnya saya ingin mengisi hari ini dengan berdiam diri. Bahkan kebiasaan saya hiking setiap Sabtu juga saya kesampingkan. Saya ingin mengisi pesta bertobatnya Santo Paulus dalam keheningan. Maka saya tidak mengikuti jadwal komunitas. Saya tidak ikut misa bersama, saya ingin merayakan misa sendiri. Maka setelah sarapan saya segera menuju ke kamar dan membaca. Jam 10 pagi saya mempersiapkan diri untuk misa.  Tiba-tiba ada telfon berdering. ternyata seorang kawan BMI. Suaranya lemah karena sedang sakit. Dia meminta saya untuk menemani di rumah sakit karena hari …

25 Januari 2011

25 Januari 2011. Ya tiga tahun yang lalu, saya memulai sebuah hidup yang baru. Bangkit dari keterpurukan dan berani maju meski tidak ada yang pantas untuk dibanggakan. Apakah itu? Apakah mengenai sebuah perjuangan melawan ketidakadilan? Bukan! Itu hanya soal membuat khotbah setiap hari.
Sejak akhir tahun 2009 saya membantu melayani misa harian di paroki Port Melbourne, misa bahasa Inggris. Setiap malam saya menyiapkan khotbah meski hanya singkat. Saya begitu percaya diri dan bangga. Hingga suatu hari seorang suster mendekati saya dan mengatakan, "Romo, saya tidak mengerti satu katapun yang Romo katakan, sebaiknya tidak usah khotbah lagi, berlatihlah membaca dengan baik. Kalau Romo sudah membaca Injil dengan baik, itu sudah cukup bagi kami." Perkataan suster tersebut bagai petir di siang hari. Bukan bermaksud mendramatisir, tetapi saya seperti dibanting ke batu karang. Semangat saya sontak hancur berkeping-keping. Dan sejak saat itu saya tidak pernah lagi membuat khotbah. Ha…

Menjadi MANUSIA

Sahabat, kemarin saya menulis tentang psikologi PRIA. Tidak ada yang komplen. Karena mayoritas yang membaca perempuan. Jadi mereka sorak-sorak bergembira, mendapat senjata untuk mengolok para pria. Itu sah-sah saja, sekali-kali bergembira di atas senyum kecut para PRIA.  Ada yang berkomentar, bagaimana ya menjadi seperti Yonathan itu. Lelaki muda yang dewasa, yang berkepala dingin meski hatinya galau. Pelajaran hari ini mengajari saya satu pengertian. Jika ingin menjadi seperti Yonathan, berarti kita mesti belajar menjadi MANUSIA. (kalau bingung apa urusannya dengan Yonathan, sebaiknya membaca dahulu catatan psikologi PRIA)
Gambaran manusia  Secara umum dikenal bahwa menusia itu terdiri dari jiwa dan raga. Manusia sempurna jika raganya sempurna, berdiri tegap, sehat dan kuat. bagimana dengan jiwanya? Untuk memahami jiwa, saya tidak hanya melihat jiwa sebagai jiwa (spirit, soul). Saya mengajak Anda untuk melihat jiwa secara lebih luas. Jiwa adalah bagian dari manusia yang tidak bisa kita …

Psikologi PRIA

Menulis tema ini sebenarnya agak susah. Itu seperti menelanjangi diri sendiri. Tetapi itulah pelajaran yang saya peroleh hari ini. Soal pria. Soal psikologi. Agak memalukan sebenarnya, tetapi tidak apa-apa saya akan menuliskannya sedikit. Mengapa sedikit? Pertama, saya tidak tahu banyak soal psikologi. Kedua, kalau terlalu banyak saya tidak tahan dengan malunya.  Oh iya, sebelum masuk ke dalam inti tulisan saya perlu menjelaskan, mengapa tiba-tiba saya menulis psikologi pria. Pertama, yang membaca catatan saya kebanyakan perempaun. Apakah ada hubungannya dengan tema? Saya tidak mau menjawab. Kedua, dan ini yang jauh lebih penting, yaitu pelajaran dari relasi tiga pria yang saya jumpai hari ini. Antara Saul, Daud, dan Yonatan. Tiga pria, satu dewasa tua, dua pemuda, dewasa juga. Rasanya dua alasan itu cukup untuk menulis mengenai psikologi pria. Minimal, para pembaca yang mayoritas perempuan ini bisa memahami sedikit mengenai pria. 
Jangan pernah dibandingkan Ini kunci mendasar memaham…

KEKECILAN

Sahabat, apa yang Anda bayangkan dengan kata kekecilan? Baju kekecilan? Celana kekecilan? Sepatu kekecilan? Bagaimanakah kalau kita mengenakan sesuatu yang kekecilan? Pasti rasanya tidak enak. Baju kekecilan pasti menyiksa sekali, apalagi sepatu kekecilan, pasti sangat tidak nyaman.
Tetapi yang hendak saya bahas bukan itu. Kekecilan di sini berkaitan dengan hati, berkaitan dengan pikiran. Bukan juga soal berkecil hati, atau pendek pikir, bukan juga itu. Lalu mengenai apa?
Kekecilan yang saya maksdukan adalah nilai dari sesuatu yang kecil. Siapakah yang kecil itu? Ya diri kita. Kalau menggunakan bahasa asing dikatakan SMALLNESS. Dan saya bingung hendak menerangkan makna smallnes tersebut, maka saya menggunakan kata kekecilan.
Yang kecil itu indah Saya sudah lama memahami bahwa yang kecil itu indah. Orang mengatakan small is beautiful. Pertanyaan lanjutannya adalah, kecil yang bagaiamanakah yang indah itu? Kecil yang seperti apa? Apakah semua hal yang kecil? Apanya yang kecil? Nah, saya…

Don't Judge the Book by the Cover...

Peribahasa ini kiranya sudah kerap kita dengar. Janganlah menilai sebuah buku dari covernya. Kalau kita mau iseng bisa kita tambahkan, dari tebal tipisnya, dll. Tetapi nilailah buku dari isinya. Bacalah dari depan hingga selali, baru dinilai. Demikian kata pepatah. Kita semua pasti pernah mendengar dan paham.
Pepatah ini biasanya dikenakan kepada orang agar tidak segera menilai orang lain dari penampilan fisiknya. tetapi dari keseluruhan pribadinya. Dari sifat-sifatnya, dari kesukaannya, dst. Artinya, kenalilah orang tersebut baru memberi penilaian. Mungkin Anda pernah menjadi salah satu korban yang dinilai hanya berdasarkan penampilan fisik. Sukur-sukur dinilai baik. Misalnya, karena Anda gagah atau cantik atau angun, sehingga Anda dinilai sebagai orang yang baik dan sholeh. Wahh susah kalau yang terjadi adalah sebaliknya. Kalau Anda dinilai sebagai orang yang kurang... (titik-titik) silahkan diisi sendiri, saya kurang tega mengisinya. penilaian negatif itu hanya didasarkan pada pen…

Keadilan sosial, itu ajaran khas Yesus...

Hari ini Yesus dicecar pertanyaan, "mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa?" padahal murid-murid Yohanes Pemandi dan murid orang-orang Farisi berpuasa. Pertanyaan ini sangat mendasar karena berkaitan dengan praktik hidup religius. Yesus adalah guru hidup rohani, mengapa Dia tidak mengajarkan murid-muridnya berpuasa?
Konflik ini hanya satu konflik dari banyak konflik antara Yesus dengan orang-orang Farisi. Injil Markus mencatat sekurang-kurangnya ada lima konflik antara Yesus dengan orang-orang Farisi. Konflik pertama adalah soal pengampunan dosa. Mengapa Yesus bisa mengampuni, kuasa dari mana, dst. Konflik kedua adalah ketika Yesus makan semeja dengan orang-orang berdosa. Orang Farisi beranggapan, sebagai seorang guru Yesus harus menjafa citra alias jaim. Maka ketika Yesus makan semeja dengan orang-orang yang digolongkan sebagai pendosa, hal itu dianggap sebagai skandal. Konflik ketiga adalah soal puasa ini. Mengapa Yesus yang adalah seorang guru tidak mengajari muridnya ba…

Lihatlah Anak Domba Allah...

Sahabat, selamat berhari Minggu. Selamat menikmati berkat Tuhan yang Dia berikan setiap hari, hingga guliran kala telah membawa kita ke minggu kedua masa biasa. Hari ini kita mendapat hidangan Sabda dari Injil Yohanes, yang berkisah mengenai kesaksian Yohanes Pembatis terhadap Yesus. Kesaksian itu diberikan oleh Yohanes kepada kita agar kita mengamini dan mengimani.

Anak Domba Allah Yohanes menunjukk Yesus sebagai Anak Domba Allah. Kata-kata Yohanes Pembaptis kemudian selalu diulangi dalam perayaan Ekaristi. Kita selalu melihat dan mendengar imam mengatakan, "Lihatlah, inilah Anak Domba Allah.... / Behold the Lamb of God...". Kata-kata ini memiliki makna simbolis. Umat yang mendengarkan kesaksian Yohanes adalah umat yang memahami Kitab Suci dengan baik. Kitab Suci yang ada waktu itu adalah Kitab Suci Perjanjian Lama. Mereka pernah mendengar ungkapan yang serupa, ungkapan yang disampaikan oleh Nabi Yesaya mengenai Anak Domba. Bahwa nanti Messias akan datang, Dia seperti Anak …

Menarikan tarian kehidupan

Sebuah refleksi atas hidup rohani dalam keseharian. Kebetulan saya waktu itu saya sedikit jutek, atau kurang senang dengan sebuah kelompok tari yang sangat mendominasi acara, mulai dari persiapan hingga pementasan. Tetapi saya membaca kepada refleksi yang lebih dalam agar saya tidak terbawa arus ketidaksenangan. Dari pada marah-marah dan jutek, mending menulis. Maka ketika mereka terus berlatih dan menyita banyak waktu, saya asyik menulis. Berikut tulisan itu.

http://filsafat.kompasiana.com/2014/01/19/penari-tarian-dan-koreografer-628777.html
salam Hong Kong, 18/01/2014

Apakah Tuhan bisa dipaksa?

Iya, apakah Tuhana bisa dipaksa? Seharusnya tidak bisa. Seharusnya, tak satupun bisa memaksa Tuhan untuk membuat ini atau itu. Pertanyaan lain; adakah yang suka memaksa Tuhan? Rupanya ada. Dari dulu hingga kini, ada banyak orang suka memaksa Tuhan. Tetapi apakah Tuhan bisa dipaksa?

Doa sebagai sebuah petisi Persoalan bahwa Tuhan bisa dipaksa sungguh menggelitik saya. Apalagi membaca kisah umat Israel yang menuntut kepada Samuel agar mereka diberi raja. Samuel marah kepada umat Israel. Bagi Samuel, Tuhanlah raja bagi bangsa Israel. Tetapi umat Israel menuntut seorang raja seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Seorang raja yang kelihatan, yang berdiri di depan kalau perang, yang memiliki pakaian indah dan bisa dipandang dengan penuh keagungan. Samuel marah dan melapor kepada Tuhan. Apa jawaban Tuhan? Tuhan yang mengetahui seluruh isi hari manusia itu rupanya mengabulkan permintaan umat-Nya. Dia meminta agar Samuel mengabulkan permintaan bangsa itu, karena sebenarnya mereka meno…