Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2008

Besok Tahun Baru.

Besok tahun baru. Setiap kali kalender munjuk angka 31 pada bulan Desember, banyak hati mulai bersuka menantikan hari besok. Sebab besok adalah tahun baru. Kemeriahan itu selalu diiringi dengan terompet, topi hias, dan berjaga menunggu datangnya detik-detik perubahan tahun. Kemudian semua bersorak, gembira mungkin, berharap pasti saja.
Besok tahun baru. Apa yang sudah terjadi dengan tahun lama? Apa yang sudah aku buat dalam tahun yang lewat?

Setiap pergantian tahun selalu diiringi doa harapan semoga di tahun yang baru semua menajdi lebih baik. Apa yang sesungguhnya sudah aku lakukan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik? Jangan-jangan tidak ada. Tanggal 31 Desember 2007 yang lalu aku lalui dengan tidur. Lampu mati dan cuaca hujan membuat tidur sangat nikmat. Ada godaan untuk membunyikan terompet tahun baru, tapi ada pikiran untuk apa, maka tidur lagi.
Malam ini aku tidak tahu mau apa. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya baru. Setiap berganti hari bagiku adalah tahun baru. Setiap merob…

Pembodohan

Seminggu ini saya berlibur di rumah orangtua di kampung. Setiap malam saya melihat aktivitas orangtua saya, juga banyak keluarga, adalah menonton televisi terutama program sinetron. Saya sendiri tidak ikut menonton sebab aku memang sudah berjanji untuk tidak menonton sinetron. Meski saya tidak ikut menonton, toh saya ikut mendengar jalan cerita sinetron itu. Setiap mendengar jalan cerita sinetron itu hati saya menjadi panas, karena melihat suatu proses pembodohan.
Cerita yang sangat tidak logis, tokoh antagonis yang dibuat sangat antagonis (mungkin agar menarik perhatian pemirsa), kekerasan, dan masih banyak lagi terus ada dalam setiap babak. Susahnya bagi mereka adalah karena mereka tidak memiliki pilihan. Setelah seharian mereka bekerja di ladang, nonton televisi adalah satu-satunya hiburan.
Situasi ini lebih runyam lagi, terutama bagi masyarakat di Malang (mungkin dan sekitarnya), mereka semakin tidak memiliki pilihan setelah beberapa stasiun televisi tidak bisa mengudara di kota Ma…

Gitu Aja Kok Dibagi!!

Beberapa waktu yang lalu, setelah tulisan saya di Berita Karmel edisi Desember terbit, saya mendapat beberapa komentar dari beberapa konfrater. Ada yang menanggapi serius, ada pula yang dengan nada sedikit bergurau. Intinya mereka berkomentar mengapa pengalaman makan-makan saja dimasukkan Berita Karmel. Bukankah masih ada banyak pengalaman lain yang lebih berbobot yang bisa masuk. Pengalaman yang lebih spiritual, lebih teologis-biblis-liturgis-akademis. Itulah kira-kira komentar beberapa konfrater terhadap tulisan saya ‘Sate Gule Cak Jumadi’.

Tulisan ini bukan bermaksud membela diri, namun hendak merenungkan berbagai kritik yang masuk dan mengapa saya bergeming dan terus menulis hal serupa. Setelah menulis pengalaman makan sate dan gulai, saya mengunggah (ini bahasa Indonesia dari mengupload) tulisan mengenai makan tahu di milist, dan berencana membagikan pengalaman serupa tatkala makan sayur lodeh. Yang terakhir ini belum saya unggah, tetapi tulisannya sudah jadi.
Semangat berbagi
Berba…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …

Yesus Saja Cukup

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.
Hari-hari ini saya sedang menggumuli catatan retret Beata Elisabeth dari Tritunggal. Kebetulan tahun ini saya belum mengambil waktu retret bersama (member retret sudah, retret sendiri belum) maka di penghujung tahun ini saya mengambil waktu untuk retret 8 hari penuh. Tidak menggunakan pembimbing fisik, tetapi ada pembimbing rohaninya, Beata Elisabet dari Tritunggal.
Tokoh emosional, demikian Rm. Buyung menggambarkan sosok pembimb…

Yesterday

Seniman selalu menemukan ide dalam setiap situasi.
Ketika krisis menghantam, mereka bisa berkreasi sesuai dengan situasi yanga da. Baru-baru ini kita dihajar krisis moneter akibat pasar modal kacau, nah itu juga menginspirasi seniman untuk mengubah lagu.
Nikmati aja.

Yesterday,
All these crisis seemed so far away.
How it looks as though they're here to stay,
Oh, I was rich just yesterday...
Suddenly,
Value's half the price it used to be,
with the Hang Seng falling constantly,
Oh yesterday I was wealthy.
Why the bubble burst, I don't know,
Leverage, they say.
Should I go short or long
It's gone wrong whichever way-ya-ya-ya. ..

Yesterday,
It was such as an easy game to play
Now I need a loan to pay my way,
Oh interest rates, please drop today...

pesan:
tetaplah tersenyum dalam segala situasi, kalau sedang senang jangan terlalu senang, kalau sedang sedih jangan terlalu larut dalam kesedihan, selalu selipkan senyum dalam getir pahit deritamu, jangan lebar bibir senyummu jika senang hatimu.

Gemas

Tulisan ini saya buat sebenarnya untuk masa Pra Paskah nanti. (Wuihh, adohe rek!) Lha kita masih di masa Adven kok sudah disuruh mbaca renungan bwat masa Pra-Paskah. Ya ga usah repot, kalau mau baca saja, kalau ga mau ya ga usah dibaca, gitu aja kok repot, (hehehehe minjem istilahnya Gus Dur).
Ini tek KSnya:
Matius 9: 14-15
9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
9:15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.


Gemas
Bayi kecil montok dan lucu itu sungguh menggemaskan. Mereka yang melihat tentu tak sabar ingin menggendong dan mengajaknya bercanda. Tangan-tangan pun gatal ingin segera mencubit pipi gendutnya. Hati ini gemas dibuatnya, ‘kok lucu banget’.
Melihat pertandingan sepak bola yang tidak k…

Alat Vital

Kalau saya mengatakan alat vital, apa yang kamu pikirkan? Dari seluruh tubuh kita, manakah yang paling vital? Kayak pertanyaan dalam pelajaran biologi, hehehehe. tetapi ini sungguh penting, yaitu mengetahui bagian tubuh kita yang paling penting, untuk mengetahui bahwa kita sungguh-sungguh hidup.
Berikut ini ada cerita yang cukup menarik mengenai hal itu, dikirim oleh temanku, dan kubagikan kepadamu. bacalah ...

Bagian Terpenting Dari Tubuhmu

Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan jawabannya.
"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti…

Dokter Sejati

Injil Markus bab 6: 53-56 mengisahkan Yesus sebagai seorang Dokter Sejati. Membaca teks ini saya teringat akan seorang dokter di kampung saya, yang sampai saat ini tetap setia melayani. Bagi saya dia juga seorang dokter sejati. Renungan saya setelah teks Injil menggambarkan bagaimana luar biasanya dokter tersebut. Silakan membaca.

6:53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.
6:54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.
6:55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.
6:56 Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Dokter Sejati
Sewaktu kecil saya mengenal seorang dokter sejati. Mungkin beliau adalah…