Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2014

Permainan CREDO

Permainan CREDO, itulah salah satu selingan dalam khotbah paskah ekumene pada tgl 27 April kemarin. Credo berarti "aku percaya".  Pertama-tama Romo Budi menutup mata saya dengan penutup mata. Kemudian beliau memberi aba-aba yg harus saya ikuti. Aba-abanya adalah siap - jatuh. Ketika saya selesai mengucapkan kata jatuh, maka saya menjatuhkan diri ke belakang.  Sebelum memberi instruksi untuk jatuh, Romo Budi mengatakan bahwa ia akan menopang saya, maka saya tidak perlu takut. Maka saya pun tidak takut untuk menjatuhkan diri. Adegan ini diulang dua kali. Yg kedua kalinya, posisi Romo Budi agak jauh. Hal ini saya rasakan karena pada saat saya menjatuhkan diri, rasanya agak lama baru ditopang.
Takut? Saya tidak takut pada saat menjatuhkan diri, meskipun sempat 'ndredeg'. Ada dua alasan mengapa saya tidak takut. Pertama, saya percaya bahwa Romo Budi akan menopang saya. Saya mengenal beliau dengan baik, maka saya percaya penuh kepadanya. Saya juga percaya bahwa dia akan s…

Spon dan Stone..

Sahabat, saya ingin berkisah mengenai spon dan stone (batu). Catatan ini bermula ketika saya kemarin merayakan Ekaristi bersama sahabat saya Rm. Ignasius Budiono, O.Carm. Biasanya kami mengikuti perayaan ekaristi bersama anggota kmunitas. Karena beliau masih batuk-batuk, maka kami merayakan ekaristi berdua saja, tidak bergabung bersama anggota biara yang lain.  Karena misa hanya berdua kami memilih Injil dari Injil Matius yang diperuntukkan bagi peringatan Santa Katarina dari Siena. Bukan dari Injil Yohanes yang diperuntukkan bagi masa paskah. Injil bercerita mengenai orang kecil dan sederhana yang dipuji Tuhan, karena rahasia Tuhan akan diberikan kepada mereka, bukan kepada orang cerdik pandai. Menanggapi Injil, kami merefleksikan makna kerendahan hati. Hati yang sederhana yang akan mampu menangkap pesan Tuhan dalam Kitab Suci. Dalam refleksi itu kami menemukan contoh yang bagus sekali yaitu spon dan stone alias batu.
Spon Kita semua tahu apa itu spon. Spon itu ringan, biasanya menye…

Kembali....

Sahabat, selamat berjumpa kembali. Setelah delapan hari mengunjungi saudara-saudari di negeri Panda, saya kembali ke rumah, Hong Kong. Delapan hari perjalanan yang sangat berkesan. Terutama melihat dan merasakan pengalaman iman dari saudara-saudari di sana. Maka, kembali ke rumah, saya merasa diberi kekuatan baru.
Saya bersyukur karena memiliki pengalaman indah selama delapan hari ini. Pesawat didelay, hujan, hanyalah bagian kecil warna pengalaman. Karena di samping itu juga tersaji senyum keramahan, sharing pengalaman, dan kesaksian hidup. Karena saya percaya bahwa setiap pengalaman, setiap perjumpaan, adalah sebuah pembelajaran. Tidak ada yang kebetulan. Itulah yang saya percayai. Tuhan telah mengatur segala sesuatu, tergantung saya mau diatur atau tidak. Kalau saya mau diatur, rencana Tuhan akan indah pada waktunya.
Bagaimana kalau pengalaman itu adalah pengalaman buruk? Pengalaman yang menyakitkan? Apakah ada yang bisa disyukuri? Apakah yang harus dibuat kalau yang terjadi adalah…

Kisah Tiga Hari yang Suci

Sahabat, mulai hari kamis ini, kita diajak memasuki masa yang suci. kita biasa menyebutnya Tiga Hari yang Suci (Tri hari suci). Banyak orang menyebut tiga hari yang suci itu sebagai: Kamis putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah. 
Mari kita refleksikan tiga hari yang suci itu sebagai sungguh-sungguh tiga hari, yang sungguh-sungguh suci. Hari pertama, hari kedua, dan hari ketiga. Oh iya, cara menghitung hari harus jeli dan jelas. hari dimulai pada jam 6 sore, dan berakhir pada jam 6 sore keesokan harinya. Ini yang harus dipegang. Maka, hari Kamis malam sejatinya sudah dihitung hari Jumat, hari Sabtu sore (di atas jam 6) sudah dihitung sebagai hari Minggu. Mari kita lihat dengan lebih saksama
Hari Pertama : Kasih sejati Hari pertama dimulai pada hari Kamis malam. Berakhir pada saat Yesus dimakamkan. Hari pertama ini sangat padat, sangat banyak kejadian yang menggincang iman. Kerap kita terlena, dan tidak menyadari betapa pergantian tiap peristiwa membawa kita kepada pengenalan iman yang l…

Drama Kisah Sengsara Tuhan (5)

Drama Kisah Sengsara Tuhan (4)

Drama Kisah Sengsara Tuhan (3)

Kisah sebelumnya...

Diceritakan bagaimana Yesus mengadakan Ekaristi. Pemberian diri sepenuhnya, memberikan tubuh dan darahnya sebagai makanan dan minuman. Pemberian diri itu akan dipenuhi dalam kematian di salib.
Kisah pemberian diri itu dilanjutkan dengan drama kemanusiaan Yesus di taman Getshemani. Kita dipertontonkan sisi manusiawi Yesus, Yesus yang benar-beanr takut bukan rekayasa. Bagaimana malaikat mencoba menopang Dia. Mungkin teks yang tersaji kurang menampilkan itu dengan teliti, tetapi apa yang ada di balik itu semua sungguh menguras emosi. Kisah dilanjutkan dengan penangkapan Yesus. Sekarang kita simak kisah Yesus yang diadili.

#babak VIII : Di hadapan Sanhedrin (Mat 26:57-68)
Setelah ditangkap, Yesus dibawa ke pengadilan Agama Yahudi (Sanhedrin). Semuanya serba terburu-buru. Hari masih amat pagi, bahkan matahari belum menampakkan diri. Tetapi persoalan itu harus segera diatasi, itu piker sebagian dari mereka. Agak aneh bahwa pada hari sepagi itu, di pengadilan agama sudah berku…