Spon dan Stone..

Sahabat, saya ingin berkisah mengenai spon dan stone (batu). Catatan ini bermula ketika saya kemarin merayakan Ekaristi bersama sahabat saya Rm. Ignasius Budiono, O.Carm. Biasanya kami mengikuti perayaan ekaristi bersama anggota kmunitas. Karena beliau masih batuk-batuk, maka kami merayakan ekaristi berdua saja, tidak bergabung bersama anggota biara yang lain. 
Karena misa hanya berdua kami memilih Injil dari Injil Matius yang diperuntukkan bagi peringatan Santa Katarina dari Siena. Bukan dari Injil Yohanes yang diperuntukkan bagi masa paskah. Injil bercerita mengenai orang kecil dan sederhana yang dipuji Tuhan, karena rahasia Tuhan akan diberikan kepada mereka, bukan kepada orang cerdik pandai.
Menanggapi Injil, kami merefleksikan makna kerendahan hati. Hati yang sederhana yang akan mampu menangkap pesan Tuhan dalam Kitab Suci. Dalam refleksi itu kami menemukan contoh yang bagus sekali yaitu spon dan stone alias batu.

Spon
Kita semua tahu apa itu spon. Spon itu ringan, biasanya menyerap air. Kalau jatuh, spon tidak ada bunyinya. Kalau kita lemparkan kepada orang lain, mereka tidak akan merasa sakit. Mengapa spon bisa menyerap air? Karena di dalamnya ada banyak ruang. Ada banyak rongga-rongga yang membuat air bisa masuk ke dalamnya. Rongga-rongga itu juga yang membuatnya ringan.
Pribadi yang rendah hati itu adalah pribadi yang memiliki hati seperti spon. Kalau jatuh tidak sakit. Hanya 'pluk..', kalem, ringan. Selain tidak sakit, kalau jatuh spon juga tidak melukai. Pribadi yang memiliki hati seperti spon juga mampu menyerap 'cairan' yang ada disekitarnya. Dia menyerap habis. 
Hati yang seperti spon ini berarti memiliki rongga, memiliki banyak ruang di sana. Hati yang tidak tertutup, yang tidak terkunci, yang tidak keras. Maka kalau Sabda Tuhan masuk ke dalam hati, dia akan diserap sampai habis.

Stone
Anda semua pasti tahu apa itu batu. Benda keras yang kalau dijatuhkan ke lantai bunyinya "klotak". Kalau ditimpukkan orang pasti rasanya sakit dan yang bersangkutan akan berterian, "wadohhh". Keras. Itu ciri khas batu. Dia tidak bisa menyerap air. Kalau air terus diguyurkan kepada batu, kemungkinan terkecil adalah batu itu pecah. Itupun membutuhkan waktu yang sangat lama, bertahun-tahun.
Batu itu keras karena padat. Kalau batu yang tidak padat, biasanya disebut batu apung, yang ada rongga-rongganya. Tetapi unsurnya masih sama, keras. Tidak mampu menyerap air, meskipun disebut batu apung juga tidak mampu menyerap air.
Bagaimana kalau hati kita keras seperti batu? Tentu bukan sakit hepatitis yang saya veritakan, tetapi hati yang tertutup, hati yang tidak memiliki rongga-rongga. Hati yang tidak bisa diisi dan hanya membuat orang lain sakit karenanya.

Pilihan dan Latihan
Memiliki hati yang lembut seperti spon, yang mampu menyerap apa yang datang kepadanya adalah sebuah harapan. Namun, memiliki hati yang keras seperti batu, yang hanya bisa membuat sakit, juga sebuah pilihan. Kita bebas memilih untuk memiliki hati seperti apa.
Katakanlah, kita memilih untuk memiliki hati yang lembut seperti spon. Ternyata dibutuhkan latihan-latihan yang rutin. Latihan pertama adalah menyediakan waktu untuk duduk diam. Dalam duduk diam yang dilakukan adalah melakukan pengecekan secara sadar, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita baui, apa yang kita rasakan. Latihan ini juga sangat baik kalau dibantu dengan membaca Kitab Suci. Membaca sebuah perikop, bisa dari bacaan harian Kitab Suci. Kita baca sekali. Kita pejamkan mata, kita baca lagi. Usahakan untuk tidak tergesa-gesa menafsirkan dan mencari tahu artinya. Biarkan Tuhan sendiri bersabda. Ulangi lagi, sekitar 3 kali. Kata kuncinya adalah tidak berusaha menafsirkan, tetapi membiarkan Sabda itu masuk ke dalam hati.
Latihan kedua adalah latihan pengosongan. Hati kita bisa berisi banyak hal. Itu harus dikosongkan agar tidak membatu. Cara pengosongannya sederhana tetapi membutuhkan ketekunan juga. Duduklah dengan tenang. Pejamkan mata, dan mulai dengarkan apa yang berkecamuk di dalam hati. Periksalah dengan perlahan-lahan, siapakah pribadi yang paling kita benci, yang terus kita simpan di dalam hati dengan kemarahan dan dendam. Keluarkanlah dia dari sana. Caranya, katakan dengan perlahan, "Tuhan, aku berdoa bagi ... yang ada di dalam hatiku. Berkatilah dia." Kemudian disambung dengan doa Bapa Kami. Lakukan itu secara rutin.

Sampai kapan melakukan latihan-latihan itu semua? Saya tidak tahu, yang pasti lakukan saja. Perlahan-lahan, secara teratur. Nanti tanpa kita sadari, hati kita akan menjadi lembut seperti spon.

salam dan doa

Hong Kong, 30 April 2014

Comments

nana lucia said…
refleksi yg indah sekali,,,,,

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Mantra Pengusir Setan