Skip to main content

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 

Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.

Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah tahu diri, tahu menempatkan diri.

Kalau saya, hmmm sepertinya saya masih belum bisa menempatkan diri, masih kerap ngelunjak. Contoh, guru bahasa kanton saya memberi tugas menghafal doa Bapa Kami. Aduh, saya bingung karena harus menghafal doa. Pengalaman menghafal doa Bapa Kami yang berbahasa Inggris saja membutuhkan waktu bertahun-tahun, lha ini hanya diberi waktu seminggu. Wah saya harus mencari akal. Maka saya sampaikan dalih bahwa doa itu nggak perlu dihafal, karena toh nanti kalau saya memimpin misa, saya bisa membaca. 

Alasan saya tidak diterima. Saya tetap dipaksa menghafal, namun diberi kelonggaran. Kalau yang lain disuruh seminggu, saya diberi waktu dua minggu. Lumayan! Tetapi, waktu dua minggu ini juga tidak saya gunakan dengan baik. Maka saya cari alasan lain, saya menyanyikan doa itu. Maka ketika disuruh mendoakan saya menyanyikan, dengan bagian yang tidak hafal saya 'rengengkan'. Tentu saja gurunya tahu bahwa saya belum hafal.

Ini contoh sederhana, bahwa saya belum bisa menempatkan diri. Saya masih suka ngelunjak, sudah diberi kesempatan tambahan masih meminta yang lebih lagi. Kemudian ketika saya renungkan lebih jauh, ada banyak lagi saya temui sikap-sikap saya yang menggambarkan betapa tidak tahu dirinya saya. Terlebih sikap saya terhadap Tuhan. Berkali-kali saya diberi kesempatan kedua, ketiga, keempat, kelima, atau entah kesempatan keberrapa, namun saya tidak juga berubah. Tuhan sudah begitu baik kepada saya, namun saya masih suka melanggar kehendak-Nya. Saya masih suka menuntut yang lebih lagi.

Sikap saya ini seperti kisah yang digambarkan oleh Yesus, sikap para penggarap kebun anggur. Mereka itu hanya penggarap tetapi berulah seolah pemilik. Bahkan ketika pemiliknya datang untuk meminta hasil panenan, mereka marah, bahkan anak dari pemilik kebun itu dibunuhnya. betapa tidak tahu dirinya para penggarap kebun anggur itu.

Sikap saya persis seperti mereka, para penggarap kebun anggur, ketika saya merasa memiliki hidup ini. Padahal apasaja yang saya terima, hanya mungkin karena kebaikan Tuhan. Contoh sederhana, mengapa saya bisa bekerja di Hong Kong, dulu di Melbourne, dulu sekali di sekolah bahkan sempat menjadi pejabat kepala sekolah. Apakah ini semua terjadi karena saya hebat? Apakah ini terjadi karena saya memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan teman-teman saya? Tidak!

Semuanya terjadi karena kebaikan Tuhan semata. Bahkan kalau saya jujur mengatakan, tidak ada satu hal pun yang patut saya banggakan. Contoh, sudah tiga tahun bekerja di Melbourne namun bahasa Inggris saya masih kacau, bahkan sampai ditertawakan tetangga. Sudah hampir setengah tahun belajar bahasa Kanton namun belum bisa bercakap-cakap bahasa Kanton. Ini contoh sederhana betapa 'terbatasnya' saya (untuk tidak mengatakan bodoh). Meski demikian saya kerap bergaya seolah-olah saya hebat, seolah-olah saya ini luar biasa, dll. Sikap ini sungguh menggambarkan sikap yang tidak tahu diri. Juga ngelunjak, karena sudah diberi kesempatan oleh Tuhan namun kerap menyepelekan, dll.

Maka, kalau teman dan sahabat semua merasa saya kerap 'ngelunjak', sudah dibaik-baikin tetapi masih kurang ajar, laporkan saja pada Tuhan. Mungkin Tuhan akan menjawab, "sama, dia juga suka ngelunjak pada-Ku." Maka, sekali lagi maka, doakanlah saya agar segera bertobat, agar tidak menyusahkan Tuhan lagi, agar tidak menyusahkan kalian lagi.

Hong Kong, 20 Maret 2014, 11:30pm

Comments

Popular posts from this blog

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …