Skip to main content

Posts

Showing posts from 2010

catatan natal

Sahabat, beli bantal di kaki lima,selamat Natal untuk kalian semua.
Ada dua catatan yang saya berikan, hmmm, kalau ntar nambah lagi juga ga papa. Sekarang saya bagikan dua catatan yang saya buat di kompasiana.
Ini pertama kali saya mencoba menggunakan tautan untuk catatan, semoga berhasil. kalau nanti gagal berarti harus menggunakan cara biasa.
Catatan pertama: Robeklah hatimu. Saya merenungkan makna kelahiran Yesus, yang mestinya lahir di dalam hati kita. Sayang bahwa hal itu kerap kali gagal, karena hati kita banyak tertutup oleh sesuatu yang tidak terlalu penting. Agar kita sungguh bisa memberi ruang bagi Yesus agar lahir di sana, maka penutup hati itu mesti kita robek. catatan lengkapnya klik saja di sini.
Catatan kedua: Suami - Istri Idaman. Saya merenungkan pesta Keluarga kudus dengan mengambil sosok Yusuf sebagai titik berefleksi. Bagaimana dia menjadi pribadi yang sungguh pantas dipilih Allah menajdi bapak angkat Yesus, karena ia sosok yang dewasa dan bisa dipercayai, karena ia mamp…

Tuhanku dicuri

Sahabat, natal tinggal seminggu lagi. Ada banyak kejadian telah kita alami. Semoga semuanya menghantar kita kepada persiapan yang hakiki dan sejati. Saya bagikan tulisan yang juga saya muat di media social kompasiana.com. Semoga membantu permenungan kita.Membaca berita mengenai hiasan pohon natal di Abu Dhabi – Uni Emirat Arab, saya menjadi sedih. Kesedihan saya ini mungkin terlalu subjektif sifatnya, tetapi penting bahwa saya masih bisa sedih. Tentu penting bagi saya sendiri dan belum tentu penting bagi orang lain.Ada beberapa alasan mengapa saya sedih. Pertama, banyak orang melakukan sesuatu tanpa memahami makna yang sebenarnya. Kedua, mereka telah membawa makna religius kedalam dunia bisnis. Ketiga, Tuhanku telah dicuri.Aksesoris vs EsensiSetiap memasuki bulan Desember, kota Melbourne mulai merawat diri dengan berbagai hiasan bernuansa natal. Berbagai hiasan dengan dominasi warna merah dan hijau mulai semarak mengepung kota. Bahkan sepanjang jalanan di CBD penuh dengan hiasan binta…

Lupa bilang small

Siang tadi saya makan di rumah makan Vietnam bersama dengan satu keluarga dari Malang, kota asal saya. Kebetulan suami istri tersebut datang mengunjungi anaknya yang sudah menetap di Melbourne. Beberapa hari yang lalu mereka mengontak untuk bertemu. Sayang waktu tidak memungkinkan, jadi baru hari ini terlaksana.Kami berlima masuk di sebuah resto Vietnam yang Pho-nya lumayan otentik. Saya bisa mengatakan demikian karena sebelumnya pernah makan bersama seorang teman yang menganalisa menu tersebut dari berbagai sisi. Tentu saja hari ini saya memesan semangkuk Pho dengan kombinasi rasa yang saya suka.O iya, ukuran menu di Melbourne, mungkin juga di seluruh Australia (saya tidak yakin), itu besar-besar. Saya membutuhkan waktu delapan bulan untuk bisa menyesuaikan dengan ukuran porsinya. Kata teman-teman saya, itulah sebabnya orang sini besar-besar, karena porsi makannya besar-besar. (kemungkinan besar ini tidak benar).Ketika makanan dihidangkan saya sedikit tertegun. Dari kami berlima hany…

Jika aku lemah….

Kata beberapa teman, belajar yang baik itu adalah dengan mengajar. Hal itu saya pahami kebenarannya ketika saya harus mengajar. Sebelum menjelaskan kepada orang lain, saya mesti mempelajarinya dengan seksama untuk mendapat pemahaman yang baik. Jika saya tidak mampu memahami dengan baik, alhasil saya tidak bisa mengajar dengan baik. Kalau dipaksakan, materi yang saya berikan akan ‘mbulet’ dan sulit dipahami. Karena saya sendiri belum mampu memahami dengan baik.Namun demikian, tidak selamanya teori itu bisa berjalan seperti itu. Karena tuntutan harus mengajar, maka siap-tidak siap; jelas-tidak jelas; saya harus menyampaikan sesuatu. Materi pelajaran itu bisa dalam bentuk khotbah, renungan, pengajaran, dll. Karena sudah dijadwalkan, atau karena seorang imam yang harus berkhotbah; maka mau-tidak mau harus ada yang disampaikan, meski terkadang tidak jelas. Lepas dari hal itu, dengan mengajar, saya sungguh belajar sesuatu. Karena harus mempersiapkan, saya menjadi tahu letak kesulitannya ter…

“Mengapa Berdoa Kepada Orang Mati?”

Seorang kawan pernah bertanya, “mengapa kamu berdoa kepada orang mati?” Awalnya saya terkejut mendapat pertanyaan seperti itu, namun lambat laun menjadi terbiasa dan bisa memaklumi mengapa mereka bertanya seperti itu. Dengan tersenyum saya katakan bahwa saya tidak pernah berdoa kepada orang mati.Sejauh ingatan saya yang belum panjang ini; dalam doa, saya selalu berdoa kepada Tuhan. Dalam banyak kesempatan dalam doa itu, saya mendoakan orang yang sudah meninggal. Terkadang, bahkan kerap juga, saya meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal untuk mendoakan saya. “Lho kok bisa?” Itu pertanyaan lanjutan dari teman saya tadi. Baiklah kita lihat sejenak pemahaman mendoakan orang yang sudah mati, dan meminta bantuan doa dari mereka dalam pemahaman iman Katolik.Dalam kesatuan imanSekumpulan umat yang percaya kepada Allah Bapa pencipta dan kepada Yesus yang diutus menyelamatkan manusia serta kepada Roh Kudus yang menyertai hidup manusia disebut Gereja. Dalam pemahaman ini yang disebut Ge…

Mengapa aku mencintaimu, oh Maria!

Saudari-saudara terkasih, mengapa saya begitu mencintai Bunda Maria? Sedikit pemaparan berikut adalah gambaran sederhana mengapa orang-orang Katolik begitu mencintai Bunda Maria. Saya berangkat dari pengalaman pribadi, hidup sebagai orang Katolik, yang saya andaikan dialami oleh sebagian besar orang Katolik yang mencintai Maria juga.Saya tidak menguraikan perdebatan-perdebatan teologis-biblis mengenai Maria. Di sini saya hanya hendak berbagi, bagaimana lebih mencintai Allah seperti Maria. Bahkan bukan hanya seperti Maria, tetapi bagaimana mencintai Allah bersamanya.Cinta pertamaKesan pertama senantiasa menggoda. Selanjutnya terserah Anda yang akan menguraikannya. Demikianlah kesan pertama saya tatkala belajar mencintai Allah. Dulu sekali, ketika saya masih kecil, ibu saya mengajari berdoa. Bukan doa yang rumit-rumit, tetapi doa sederhana yang ia bisa. Tentu ibu saya juga perempuan sederhana, dia tidak pandai merangkai kata, maka doanya juga sederhana. Yang dia tahu hanya Bapa Kami dan…

Sehangat Balutan Sleeping Bag

Sahabat, musim dingin baru saja sirna. Kehangatan musim semi mulai terasa. Semarak bunga-bunga dan keindahan mentari senantiasa menyapa. Kicau burung-burung di pagi hari menghantar lagu gembira. Semuanya bersuka, menyambut musim baru yang ceria.Namun saya tidak akan bercerita mengenai musim semi. Saya hendak berkisah mengenai musim dingin yang baru saja pergi. Banyak cerita yang sayang untuk dibiarkan basi. Satu dua refleksi akan membuat perjalanan hidup kita makin berarti. Musim dingin yang kerap dibalut sepi, sesungguhnya menyimpan banyak arti.Bagi pelajar, musim dingin adalah kesempatan emas untuk belajar giat. Gigitan udara dingin menyengat, membuat hasrat belajar semakin meningkat. Asal tidak dikalahkan oleh panggilan selimut yang menggeliat. Tetapi malam yang datang begitu cepat dan kerap pergi terlambat, adalah kesempatan belajar yang sehat.Melawan dingin malamMusim dingin ini adalah pengalaman pertama saya. Menurut banyak orang lebih dingin dari sebelumnya. Saya merasakan pula…

Beberapa Catatan Ulang Tahun

Sahabat, ulang tahun itu pasti setahun sekali. Jika tiap bulan tentu namanya ulang bulan. Jika tiap hari namanya ulang hari. Tentu ini bukanlah sesuatu yang sangat serius untuk diperbincangkan, apalagi diperdebatkan. Satu hal yang lebih mendasar yang patut direnungkan adalah, mengapa seseorang merayakan ulang tahun.Awal bulan ini saya mengundang banyak umat untuk hadir dalam perayaan Ekaristi. Mengapa harus hari itu? Mengapa saya berpikir bahwa hari itu istimewa? Bukankah setiap hari umat juga turut merayakan Ekaristi di Gereja masing-masing? Bukankah setiap minggu juga ada perayaan Ekaristi yang agung? Ya, semua pertanyaan itu benar adanya. Tetapi saya memiliki alasan khusus untuk melakukannya.Saya mengundang umat untuk hadir dalam perayaan syukur atas rahmat Tuhan yang senantiasa melimpah. Berbicara mengenai rahmat Tuhan, tentu tidak cukup hanya setahun sekali, karena rahmat itu diberikan setiap hari. Maka ucapan syukur itu mestinya diberikan setiap hari. Meski demikian harus ada sa…

Salib di dada

Ini masih kisah yang terjadi di dalam tram. Perjalanan dari Port Melbourne menuju Victoria Parade yang memakan waktu sekitar 30 menit, memberi banyak pengalaman untuk direnungkan. Seperti kisah kemarin pagi, masih dalam suasana yang sama, padat dan dingin. Hari itu saya memilih untuk menunggu tram di Graham Street. Keuntungannya adalah menghemat waktu. Kemungkinan kerugiannya adalah tidak dapat tempat duduk. Mengingat waktu sudah beranjak siang, maka pilihan untuk ke Beacon Cove saya kesampingkan. Pilihan bulat saya arahkan kepada Graham Street. Setelah menunggu sekitar satu menit, tram yang diharapkan datang. Sudah seperti yang terduga, kondisi penuh, tak ada lagi bangku kosong tersisa. Pagi hari memang jam yang sangat sibuk. Seolah tiada henti orang-orang ini datang untuk naik kendaraan umum. Padahal Graham adalah perhentian kedua, dan masih akan ada banyak perhentian lagi di depan. Saya memilih untuk berdiri di samping mesin pembelian karcis. Dengan meletakkan tas di antara dua kak…

Tangisan

Mengapa manusia menangis? Tentu ada banyak hal yang meyebabkan seseorang menangis. Membahas hal ini akan sangat melelahkan, dan sepertinya kurang memberi makna strategis . Bagaimana kalau pertanyaannya diubah, meski agak sedikit melankolis. Demikian yang saya tulis.Apa yang membuat seorang lelaki berurai air mata? Sebenarnya menangis alias adalah hak setiap warga. Entah laki-laki, perempuan, atau setengah laki-laki dan setengah perempuan, semua memiliki hak yang sama. Untuk menitikkan air mata. Persoalan menjadi berbeda ketika dalam masyarakat ada yang menabukan seorang lelaki melakukan hal-hal sederhana. Termasuk menumpahkan air mata. Bahkan sejak masih kecilpun dikatakan, “lelaki tidak boleh menangis, lelaki harus kuat perkasa.” Nasihat itu berkhasiat bagai magis. Jarang sekali kita melihat lelaki menangis. Seolah segala perkara bisa ditepis. Toh tidak semua bisa berlaku manis. Tak jarang kita temui beberapa lelaki menangis. Menjadi mengherankan kalau tangisan itu tampak histeris. P…

Ngopi di Sore Hari

Sahabat, musim dingin di Melbourne hampir berakhir. Sebentar lagi musim semi akan mengusir pergi dinginnya udara Melbourne. Di sana sini telah terlihat bunga-bunga menghiasi ranting-ranting yang telah lama gundul. Terkadang mentari muncul dengan teriknya, mengusir kabut yang sedang malas-malasan meninggalkan kota. Seperti hari-hari ini. Mentari tiba-tiba muncul menampakkan kegagahannya. Sayang, ia tidak hadir sendiri. Angin kencang kerap membonceng kehadirannya, sehingga meski mentari berbinar-binar di angkasa, udara tetap duingin tak terkira. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan ikut menghiasi langit. Dingin menjadi satu-satunya penguasa udara sore, bahkan tidak jarang sejak pagi. Saat seperti itu datang, yang terpikir di benakku hanya satu, ngopi! Ya ngopi di tengah udara dingin sungguh menyenangkan. Seperti sore itu. Sepulang sekolah, setelah lelah mengerjakan berbagai tugas, duduk menikmati segelas latte dan sepiring penganan sungguh menyenangkan. Apalagi kalau kamu suka manis, tamb…

Kedai Tanpa Nama

Nama itu penting. Meski ada yang berujar ‘apalah arti sebuah nama’, toh tidak bisa dipungkiri jika nama itu penting. Orangtua memikirkan nama yang terbaik bagi anak mereka. Nama yang mengandung arti, sesuatu yang menyiratkan harapan dan doa-doa. Lihat saja masyarakat Jawa dalam memberi nama anak-anak mereka. Slamet, Rahayu, Ayu, Bagus, dan masih banyak lainnya. Nama-nama tersebut berarti keselamatan dan sesuatu yang indah. Demikian pula nama-nama sebuah usaha, entah apa pun itu. Selalu ada kata-kata yang berkaitan dengan keberuntungan, kebaikan, dan keindahan. Juga ketika berkaitan dengan usaha makanan, akan selalu berkaitan dengan kelezatan dan kenikmatan. Saya tidak akan menyebut merk, karena Anda bisa merangkai sendiri sejumlah nama usaha yang menggambarkan segala kebaikan. Minggu lalu saya bersama dua orang kawan, ngopi di sebuah kedai. Ya, sebutan ‘kedai’ itu tentu saja saya yang menyematkan. Harus saya ingatkan, sesungguhnya kalau saya menyebut kedai, bayangan kita akan melaya…

Cinta di atas Tram

Sahabat, saya adalah penggemar tram dan train. Entah mengapa saya menyukai dua alat transportasi umum ini. Sebaliknya saya kurang menyukai bus. Setelah hamper 10 bulan tinggal di ‘tanah asing’ ini, saya baru naik bus sebanyak dua kali, selebihnya tiap hari saya naik tram dan hampir setiap minggu saya menikmati layanan train. Setiap hari saya menggunakan tram dari Port Melbourne ke Victoria Parade.

Ada banyak cerita di sana. Meski jalan yang saya lintasi selalu sama, terkadang bersama orang-orang yang sama, tetapi tetap saja selalu ada yang baru. Itu sungguh yang menghibur hati. Pagi hari di musim dingin, ketika dengus nafas berubah menjadi uap, dan tangan kaku gemeretak senantiasa datang, kami berjajar rapi menunggu tram datang. Sore hari, setelah jam mendentang lima kali, gegas langkah itu kembali sama. Bahkan lebih banyak, lebih lelah juga. Tak jarang berjejal, asal badan bisa nyangkut di tram, itu cukup.

Tidak setiap hari seperti itu. Terkadang tram atau train itu begitu lega. Banyak…

Belajar Mati

Sahabat, beberapa waktu saya mengadakan corectio fraterna dengan teman-teman yang tinggal bersama di rumah. Inti koreksio ini adalah memperbaiki saudara. Kami saling memberitahu apa yang kurang, apa yang pantas dan tidak pantas yang telah kami buat.
Sungguh seperti yang dikatakan Injil. Teman yang satu memberitahu teman yang lain dengan dasar kasih. Tujuannya adalah menjagakehidupan saudara agar tetap bik dan kehidupan bersama yang lebih baik. Tentu hati ini terasa sakit juga tatkala ditegor, diberitahu kesalahan-kesalahan kita. Mungkin bukan kesalahan fatal. Itu lebih kepada kebodohan-kebodohan kecil. Tetapi kalau kebodohan kecil itu terlalu banyak memang akan mengganggu.
Salah satu yang mereka sampaikan pada saya adalah, ‘saya bukan seperti yang dulu’. Rupanya segala kesibukan dan apa saja yang saya buat telah mengubah saya. Sayang bahwa itu tidak terlalu positif. Artinya, perubahan itu lebih ke arah negative.
Kemudian kami merenung bersama, mencoba melihat satu persatu apa yang ter…