Skip to main content

“Mengapa Berdoa Kepada Orang Mati?”

Seorang kawan pernah bertanya, “mengapa kamu berdoa kepada orang mati?” Awalnya saya terkejut mendapat pertanyaan seperti itu, namun lambat laun menjadi terbiasa dan bisa memaklumi mengapa mereka bertanya seperti itu. Dengan tersenyum saya katakan bahwa saya tidak pernah berdoa kepada orang mati.

Sejauh ingatan saya yang belum panjang ini; dalam doa, saya selalu berdoa kepada Tuhan. Dalam banyak kesempatan dalam doa itu, saya mendoakan orang yang sudah meninggal. Terkadang, bahkan kerap juga, saya meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal untuk mendoakan saya. “Lho kok bisa?” Itu pertanyaan lanjutan dari teman saya tadi. Baiklah kita lihat sejenak pemahaman mendoakan orang yang sudah mati, dan meminta bantuan doa dari mereka dalam pemahaman iman Katolik.

Dalam kesatuan iman

Sekumpulan umat yang percaya kepada Allah Bapa pencipta dan kepada Yesus yang diutus menyelamatkan manusia serta kepada Roh Kudus yang menyertai hidup manusia disebut Gereja. Dalam pemahaman ini yang disebut Gereja bukanlah bangunan, namun sekumpulan orang. Sementara itu anggota Gereja sendiri terbagi menjadi tiga kelompok.

Pertama adalah mereka yang sudah berbahagia bersama Allah di surga. Kelompok kedua adalah mereka yang masih berjuang di dunia ini, yaitu manusia yang masih hidup. Dan kelompok ketiga adalah mereka yang sudah meninggal dan belum bersatu dengan Allah Bapa.

Apa hubungan antar kelompok anggota Gereja ini dengan praktik mendoakan orang mati? Hubungannya sangat erat sekali. Bahwa manusia yang masih hidup mendoakan mereka yang sudah mati, yang belum bersatu dengan Bapa. Sedangkan mereka yang sudah berbahagia bersama Bapa dapat dimohon doanya. Hal ini dimungkinkan karena hakikat manusia itu saling menolong. Bahkan praktik saling menolong ini terus berlanjut ketika sesamanya itu sudah meninggal.

Sebelum kita melanjutkan membahas persoalan mendoakan dan didoakan berkaitan dengan mereka yang sudah meninggal, baiklah kita pahami pemikiran Gereja mengenai kehidupan setelah kematian. Mereka yang sudah mati akan melewati satu tahap yang disebut pengadilan pribadi. Dari hasil pengadilan pribadi itu bisa didapat tiga kemungkinan tempat.

Yang pertama, jika manusia itu sungguh mencintai Allah, dan selama hidupnya tidak ternoda, maka ia pantas bersatu dengan Allah. Keadaan bersatu dengan Allah ini kita sebut surga. Kemungkinan kedua adalah, jika seseorang itu sungguh memisahkan diri dari Cinta Allah. Ia menolak Allah dalam hidupnya, maka tidak mungkin ia bisa bersatu dengan Allah. Pemikirannya sederhana saja. Yaitu bagaimana mungkin seseorang yang menolak Allah bisa bersatu dengan Allah. Keadaan jauh terpisah dengan Allah inilah yang kiat sebut neraka.

Nah, bagi mereka yang tidak menolak Allah dalam hidupnya, tetapi cintanya tidak sungguh murni, maka mereka masih perlu menunggu. Mereka membutuhkan waktu untuk pemurnian. Seperti emas yang dibakar dalam api untuk melihat kemurnian emas tersebut. Atau barang yang kotor perlu dicuci agar kembali bersih, demikianlah dengan manusia. Ia yang kotor mesti dibersihkan dan dimurnikan baru bersatu dengan Allah. Keadaan ini kita sebut api penyucian atau pencucian, tergantung bagaimana kita memandangnya.

Mendoakan

Mereka yang berada dalam keadaan pemurnian ini tidak bisa menolong dirinya sendiri. Jika tidak ada yang memberi bantuan, maka waktu yang dibutuhkan bisa sangat lama. Sebaliknya jika mereka mendapat bantuan berupa doa-doa, waktu yang dibutuhkan dalam masa pemurnian itu bisa berkurang.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana mengetahui bahwa seseorang yang sudah meninggal masih berada di dalam masa pemurnian atau sudah beralih ke surga? Tentu sulit sekali mengenalinya. Namun bukan berarti tidak ada tandanya.

Mari kita lihat sebuah contoh dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saya gambarkan di atas, kehidupan seseorang sesudah kematian sangat bergantung dari bagaimana ia hidup sebelumnya. Jika selama hidup seseorang mencintai Allah dan memelihara cinta tersebut dengan baik, sangat dimungkinkan bahwa ia segera bersatu dengan Pribadi yang sangat dicintai tersebut.

Seandainya ia masih membutuhkan masa pemurnian, pastilah tidak akan lama. Sebaliknya, jika seseorang selama hidupnya tidak benar-benar meninggalkan Allah, namun segala perilakunya terus melukai cinta Allah, seandainya membutuhkan pemurnian pasti akan lama sekali.

Maka bagaimana doa yang tepat untuk mereka yang sudah meninggal? Sulit juga mengatakan doa yang tepat dan tidak tepat. Namun dalam iman kita berucap demikian, “Tuhan saya berdoa bagi arwah…, jika ia masih berada dalam masa pemurnian, semoga ia segera kau persatukan dengan kemuliaanMu sendiri. Sebaliknya jika sekarang ia sudah berbahagia bersama-Mu, biarlah ia mendoakan kami.”

Satu Pelajaran

Memperdebatkan boleh atau tidak mendoakan orang mati bagi saya tidak terlalu penting. Karena dari semuanya yang jauh lebih penting adalah pelajaran yang bisa kita tarik dari peristiwa tersebut. Peritiwa mendoakan danperistiwa kematian itu sendiri.

Pelajaran pertama adalah berjaga-jaga. Mereka yang sudah meninggal tidak bisa berbuat apa-apa bagi dirinya sendiri. Yang bisa mereka lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum saat itu tiba. Hidup yang baik di hadirat Allah selama masih diberi kesempatan.

Hal baik kedua yang bisa kita peroleh adalah, tidak pernah ada salahnya mendoakan prang lain. Seperti halnya perbuatan baik yang lain, itu tidak pernah salah dilakukan. Mendoakan orang lain adalah sebuah perbuatan baik yang tidak mengeluarkan ‘modal’ sedikitpun. Mungkin hanya membutuhkan waktu 5 menit. Bahkan kerap kali tidak sampai. Mengapa masih mempersoalkan ini?

Pelajaran hidup nomor tiga adalah, hidup kita saling berkesinambungan. Antara kita di alam kelihatan dan mereka yang di alam tidak kelihatan saling berkaitan. Kita berada dalam satu kawanan yang sama. Kita semua adalah satu, dalam perjalanan yang sama. Tujuan yang hendak kita raih sama, maka saling menolong adalah sikap yang terpuji.

Tuhan memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …