Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Kata ramalan: saya itu....

Sahabat, hari ini saya lumayan ngganggur, maka saya melakukan sesuatu yang tidak penting. Yaitu mencari-cari ramalan berkaitan dengan angka, hari, bulan, dolongan darah, kombinasi dll.
Sekali lagi ini tidak penting, jangan terlalu dimasukkan dalam hati. Anda bisa menemukan banyak hal di internet, dan mencari yang Anda suka. Saya tidak mencari yang menyenangkan, saya hanya mengambil yang ada, yang pertama muncul. Saya juga tidak mempertimbangkan apakah itu benar atau tidak. Karena, saya tidak percaya kepada ramalan-ramalan itu. Saya hanya percaya kepada Sabda Tuhan. 
Agar Anda bisa mengikuti catatan ini, pahamilah dasarnya terlebih dahulu. Seluruh ramalan biasanya berdasarkan hari kelahiran seseorang. Maka, ini saya ambil contoh dari hari kelahiran saya sendiri. Berikut data yang bisa saya dapatkan.
Saya lahir pada tanggal 1 September 1977, maka saya memiliki :
Hari Kelahiran     : Kamis Hari pasaran       : Wage Wuku                  : Pulung Pujut atau Pujut  Zodiak                : Virgo Sh…

Kebenaran itu terkadang menyakitkan

Menerima sebuah kebenaran, kenyataan, terkadang tidaklah mudah. Apalagi jika kenyataan itu begitu pahit. Sebisa mungkin dihindari. Kenyataan bahwa persediaan bahan bakar sudah menipis adalalah kenyataan pahit yang harus diterima. Gebetan dipinang orang lain adalah kenyataan yang menyakitkan (sambil memegang ulu hati). Masih banyak kenyataan, atau kebenaran yang menyakitkan. Misalnya, meninggalnya orang-orang terkasih; kegagalan sebuah proyek, kabar yang buruk, dll. 
Memberitahukan sebuah kebenaran, kenyataan, terkadang tidaklah mudah. Apalagi jika kenyataan itu begitu pahit. Sebisa mungkin mengelak untuk menceritakan. Kenyataan bahwa persediaan bahan bakar sudah menipis adalah kenyataan yang pahit yang sebisa mungkin ditutup-tutupi. Memberitahu sahabat bahwa gebetannya sudah dipinang orang, adalah sesuatu yang sulit. Seorang dokter yang harus memberitahu keluarga pasien mengenai kondisi yang sebenarnya adalah hal yang sulit. Seorang suami yang baru di-PHK akan sangat berat memberitah…

You are nothing

Hari ini, kurang lebih, tiga tahun yang lalu. Hari itu Sabtu pertama di bulan September di tahun 2012. Saya bersama umat merayakan Perayaan Ekaristi mengucap syukur. Saya biasa mengundang umat untuk ikut bersama saya mengucap syukur atas karunia Tuhan. Setelah itu makan bersama. Hari itu, dalam Ekaristi saya menangis. Saya bersyukur bahwa saya bisa menyelesaikan Ekaristi.  Mengapa saya menangis? Ini yang lebih penting. Saya menangis karena bacaan dalam Ekaristi hari itu. Bacaan pertama dari surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Di sana Rasul Paulus mengingatkan umat yang dilayaninya. baiklah saya kutipkan nasihat Paulus tersebut.  "Menurut ukuran manusia tidak banyak di antara kalian yang bijak, tidak banyak yang berpengaruh, tidak banyak yang terpandang. Namun apa yang bodoh di mata dunia dipilih oleh Allah, untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia dipilih Allah, untuk memalukan yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan hina b…

Bercerita tentang HONG KONG

Bercerita mengenai tempat di mana kita tinggal adalah jamak hukumnya. Kata pribahasa, di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Menemukan yang baik untuk dibagikan. Mendapatkan nilai dari pergulatan hidup di mana kita tinggal adalah sebuah keharusan.

Ketika saya masih tinggal di Malang, saya bercerita mengenai Malang. Ketika kemudian saya pindah bekerja di Melbourne, saya juga bercerita mengenai Melbourne. Sekarang saya tinggal di Hong Kong, maka sayapun ingin berkisah mengenai Hong Kong. Kebetulan, saya sudah hampir setahun tinggal di sini, maka sudah banyak cerita yang saya kumpulkan.
Dulu saya memakai wadah Kompasiana untuk berbagi kisah. Maka sekarangpun saya memakai wadah yang sama untuk berbagi kisah mengenai Hong Kong. Karena akun kompasiana saya yang lama sudah mati, maka saya membuat akun baru. hahahaha, sudah tua, sudah sering lupa.
Ini satu catatan yang baru saya buat. Klik saja di sini.
salam Hong Kong 29  Agustus 2014

Pemuda dan Pisang...

Kalau yang kita miliki hanya uang, kita adalah orang miskin.

Demikian bunyi salah satu pepatah China. Rasanya Andapun akan sepakat dengan pepatah ini. Karena dalam hidup kita tidak hanya butuh uang, kita membutuhkan hal-hal yang lain, misalnya pisang. Lho kok pisang, kok bukan persahabatan, senyuman, pelukan, dan harapan. Iya, semuanya benar, tetapi semua bisa bermula dari pisang.
Sebuah video yang dibuat di Thailand, yang mungkin sudah pernah Anda tonton, berkisah mengenai hal ini. Adalah seorang pemuda pekerja biasa yang menjadi pemeran utamanya. Diceritakan ketika dia sedang berjalan menuju tempat kerja, kepala terguyur air yang jatuh dari atas. Dia perhatikan bahwa ada pembuangan di atas sana. Kemudian dia juga memerhatikan ada sebuah pot bunga dengan tanaman yang meranggas dan kering. Lalu dia geser pot bunga itu sehingga air yang jatuh segera menimpanya.
Dia terus berjalan. Di ujung sana dia lihat ada seorang ibu sedang kesulitan mendorong gerobak jualannya ke trotoar. Dia seger…

Jangan NYONTEK....

Ini cerita lama mengenai mengenai seorang ahli Kitab Suci yang baru saja meninggal dunia dan sedang mengantri di pintu gerbang surga. Antrian cukup panjang karena untuk masuk ke dalam surga, mereka harus bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Santo Petrus, penjaga pintu gerbang surga.  Beberapa orang yang berada di depan sang ahli Kitab Suci nampak menelengkan telinganya untuk mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Santo Petrus. Khan lumayan kalau sudah dapat bocoran pertanyaan, bisa menyiapkan jawaban. Dan ternyata pertanyaan yang diajukan itu sama. Siapakah Yesus itu bagimu. Mendengar bahwa pertanyaan yang diajukan oleh Santo Petrus adalah sama untuk semua, sanga ahli Kitab Suci nampak tersenyum lega. Sepanjang hidup sebagai seorang imam dan ahli Kitab Suci, dia sudah tahu harus menjawab apa. Maka, begitu tiba gilirannya, dan Santo Petrus bertanya kepadanya, dengan sopan dia menjawab. "Santo Petrus, bagi saya Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup." Tiba-tiba Sa…

RUJAK : Ini Baru Hidup...

Minggu lalu saya bersama beberapa teman jalan-jalan di pantai Causewaybay. Hmmm, bukan pantai sih, pinggir laut gitu sajalah. Menikmati mentari senja dan menghirup bau laut yang terkadang kurang sedap. Setelah puas memandang senja yang digantikan malam, kami beranjak pulang. Di tengah jalan kami berjumpa dengan teman kami yang berjualan rujak manis. Rupanya dia sudah mau pulang, dan sisa dagangannya hendak dibuang. Aduh sayang sekali kalau makanan itu dibuang. Maka ketika beliau menawari kami beberapa bungkus, kamipun mengiyakan. Saya membawa pulang empat bungkus.
Rujak manis, begitu kami biasa menyebutnya. Tiap kota di Indonesia rasanya memiliki model makanan seperti ini. Rujak manis yang kemarin saya dapat isinya beraneka ragam. Ada mangga yang sudah tua, biasanya khan mangga muda. Rasanya manis masam. Masam tapi ada manisnya. Ada apel,  mentimun, bengkoang, dan cambu biji. Oh iya ada nanas dan pepayanya juga. Komplit! Kemudian sebungkus bumbunya yang kalau tidak alah kecap terdiri…

Jalan-Jalan : Tai Tam Country Park

Sahabat, menikmati Hong Kong tidak akan pernah komplit tanpa jalan-jalan di perbukitan alias hiking.
Saya mencoba bercerita dengan cara yang baru. Berbekal kamera henpon, saya merekam perjalanan. Karena baru pertama kali melakukan, saya kurang mempersiapkan baterei cadangan untuk henpon saya. Maka, ketika perjalanan baru mencapai pertengahan, henpon saya mati. Maka, nikmati saja deh video di youtube. agar gambarnya cukup bagus, pilih kualitas gambar minimal 480p. Oh iya, maaf ya, gambarnya agak goyang-goyang.
Hong Kong, 23 Agustus 2014

SARAPAN : Diet, Budaya, dan Kuliah

Sarapan ,  bagi sebagian orang tidak begitu penting. Sebagian orang yang lain menganggap sangat penting. Sarapan yang baik akan menghiasi seluruh hari dengan nuansa yang baik juga. Sarapan yang buruk akan membawa bencana pada hari itu. Tentu yang baik dan buruk bukan hanya soal rasa yang di makan, tetapi juga soal suasana hati dan setiap hati yang hadir di meja makan.
Bagi saya, sarapan adalah hal yang sesuatu banget. Waktu sarapan bukan hanya menjadi waktu bersosialisasi tetapi juga waktu untuk belajar. Belajar banyak hal, terlebih mengenai manusia, mereka yang bersama-sama hadir mengelilingi meja makan. Entah mengapa, sarapan jauh lebih menarik dari makan malam. Karena berisi harapan untuk sepanjang hari ini.
Seperti sarapan pagi ini. Kami bertujuh mengelilingi meja makan yang bundar, maka tepat untuk mengatakan mengelilingi. Masing-masing dari kami memiliki cara unik untuk memanjakan diri di pagi hari. Misalnya Tom dari Amerika yang akan pergi ke China sebagai volunter. Dia akan m…

Dipanggil terakhir....

Cerita sore ini di meja makan cukup mengasyikkan. Adalah Lo Sahn Fuh, alias Father Lo, alias Romo Lo yang menjadi tema pembicaraan. Beliau adalah imam keuskupan Hong Kong yang meninggal 7 hari yang lalu dan dimakamkan hari ini. Umurnya sudah 93 tahun. Menurut buku Mazmur, beliau sudah mendapatkan bonus selama 13 tahun. Karena katanya batas umur manusia adalah 70 tahun atau 80 jika kuat.  Yang menjadi bahan pembicaraan bukan semata usianya yang lanjut ketika meninggal, tetapi beliau menjadi imam di usia yang sudah "lanjut". Beliau ditahbiskan imam pada usia 62 tahun. Ia menyelesaikan studi sebagai imam di Roma. Sebelumnya beliau adalah pegawai pemerintah karena dia seorang insinyur. Tentu sangat menarik melihat data singkat ini. Bahkan mungkin kita akan berujar, "WOW, umur 62 baru ditahbiskan imam?" Sekarang ini sebenarnya sudah semakin banyak orang-orang yang ingin menjadi imam pada usia yang tidak muda lagi. Tetapi baru dua kali ini saya temui orang yang menjadi …

Tarik Menarik ....

Hari Minggu kemarin, 17 Agustus, mestinya menajdi hari yang menyenangkan. Persis seperti di masa lalu, ketika masih kecil dulu. Setiap kali menyambut 17 Agustus, hati selalu riang. Sudah terbayang berbagai perlombaan yang menyenangkan. Bukan persoalan menang dan mendapat hadiah yang utama, tetapi larut dalam kegembiraan itu yang utama.

Tetapi kemarin semuanya berbeda. Tanggal 17 Agustus jatuh pada hari Minggu. Teman-teman di Indonesia, teman-teman imam maksud saya, merayakan 17 Agustusan bersama dengan umat. Karena Gereja Indonesia menjadikan tanggal 17 Agustus sebagai hari raya, hari Kemerdekaan. Tetapi saya sedikit kurang beruntung. Harus merayakan dua kali Misa namun bukan dengan umat Indonesia, kebanyakan malah dengan umat Philipina. Sedikit mengenaskan.
Mengenaskan karena waktu yang mepet dari satu misa ke misa berikutnya. Harus berlarian mendaki bukit meski panas begitu terik. Meskipun begitu, meskipun sudah harus mandi keringat, misa kedua tetap tak terkejar sesuai waktu biasa…