Dipanggil terakhir....

Landri saat mencium cincin paus
Cerita sore ini di meja makan cukup mengasyikkan. Adalah Lo Sahn Fuh, alias Father Lo, alias Romo Lo yang menjadi tema pembicaraan. Beliau adalah imam keuskupan Hong Kong yang meninggal 7 hari yang lalu dan dimakamkan hari ini. Umurnya sudah 93 tahun. Menurut buku Mazmur, beliau sudah mendapatkan bonus selama 13 tahun. Karena katanya batas umur manusia adalah 70 tahun atau 80 jika kuat. 
Yang menjadi bahan pembicaraan bukan semata usianya yang lanjut ketika meninggal, tetapi beliau menjadi imam di usia yang sudah "lanjut". Beliau ditahbiskan imam pada usia 62 tahun. Ia menyelesaikan studi sebagai imam di Roma. Sebelumnya beliau adalah pegawai pemerintah karena dia seorang insinyur.
Tentu sangat menarik melihat data singkat ini. Bahkan mungkin kita akan berujar, "WOW, umur 62 baru ditahbiskan imam?" Sekarang ini sebenarnya sudah semakin banyak orang-orang yang ingin menjadi imam pada usia yang tidak muda lagi. Tetapi baru dua kali ini saya temui orang yang menjadi imam pada usia di atas 50 tahun.
Kisah ini mengingatkan saya pada cerita dalam Kitab Suci, di mana ada banyak pekerja menunggu untuk disewa. Mereka bergerombol di pasar menunggu orang memerlukan ajsa mereka. Nah, ada yang dipanggil bekerja dari jam 6. Ada yang dipanggil dari jam 9, jam 12, jam 3 sore dan ada juga yang baru dipanggil pada jam 5 sore. Padahal batas bekerja adalah jam 6 sore. Maka mereka yang bekerja mulai jam 5 sore ini hanya bekerja selama 1 jam saja.
Kebanyakan orang akan mengira bahwa yang bekerja mulai dari jam 6 pagi akan mendapatkan upah yang paling banyak. Sedangkan yang bekerja mulai jam 5 sore pasti akan mendapat upah yang sangat sedikit. Hal itu adalah hitungan umum sesuai asas keadilan. Namun terkadang ada perhitungan lain yang sama adilnya. Yaitu perhitungan dengan dasar belas kasihan. Akhirnya semuanya mendapatkan upah yang sama. Itu yang terjadi dalam kisah dalam Kitab Suci. Semua pekerja mendapatkan upah yang sama. 
Kembali kepada kisah Father Lo. Beliau mungkin bisa dibandingkan dengan pekerja yang dipanggil pada pukul 5 sore. Dia hanya memiliki waktu yang singkat untuk bekerja. Tetapi waktu yang singkat itu bukan berarti ia akan mendapatkan ganjaran yang sedikit pula.
Menurut banyak kesaksian, Father Lo adalah salah satu imam yang menjadi panutan di keuskupan Hong Kong. Beliau juga sangat aktif di Tribunal Pernikahan. Memproses kasus-kasus pernikahan. Hidupnya juga baik. Hal itu bisa dirasakan oleh umat yang beliau layani.
Dipanggil pada jam 5 sore juga terjadi pada banyak aspek kehidupan. Contoh yang lain adalah Landri. Siapa landri ini? Saya juga baru tahu malam ini setelah melihat-lihat foto Asian Youth Day di Korea. Landri adalah utusan dari Indonesia. Dia mengenakan baju adat Dayak. Dalam foto itu dia sedang mencium cincin paus dengan penuh kehangatan.
Tentu saja saya penasaran dengan gadis tersebut. Ternyata dia adalah yang mengaransemen theme song World Youth Day di Brazil tahun lalu versi Indonesia. Dan dia juga yang diminta oleh Paus menyanyikan lagu itu. Yang menarik, dia baru saja menjadi Katolik. Dia baru 5 tahun ini menjadi Katolik. Mungkin kita bisa menyebutnya dipanggil terakhir, tetapi bukan berarti tidak mendapatkan ganjaran yang sepantasnya. Landri dengan kemampuannya bermain musik dan mengaransemen musik telah memberikan apa yang dia bisa untuk Gereja.
Bahkan saya yang dipanggil dari jam 6 pagi, sudah selayaknya malu dengan mereka. Karena meskipun saya menjadi Katolik sejak bayi, menjadi imam dalam usia muda, tetapi saya belum sungguh-sungguh menjadi orang katolik yang baik, apalagi menjadi imam yang baik. Masih harus diperjuangkan.

Hong Kong 20 Agustus 2014



Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Mantra Pengusir Setan