Skip to main content

Merdeka itu....

Merdeka itu.... bebas melakukan apa saja? bebas melakukan apa yang aku inginkan? bebas dari segala belenggu penjajahan? bebas dari segala kekangan peraturan? BUKAN! Itu bukan merdeka, itu adalah melakukan sesuatu sekehendak sendiri, semau sendiri.


Meredeka itu BEBAS MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN. Merdeka itu bebas dari belenggu si jahat. Sebaliknya, ikut serta dalam rencana keselamatan TUHAN.

Rencana keselamatan Tuhan adalah menyelamatkan seluruh manusia. Santo Paulus dengan lantang berkata, "Tuhan menghendaki agar semua orang diselamatkan". Dan dalam proses penyelamatan ini, Tuhan memberikan anak-Nya bagi manusia. Tuhan memberikan anaknya menjadi manusia dalam diri Yesus.

Maka, selama Yesus menjadi manusia Dia memiliki misi yang harus dijalankan. Dia tidak boleh meleng ke kanan atau ke kiri. Tugasnya adalah di tanah terjanji. Maka, selama menjalankan project itu, Yesus tidak pernah meninggalkan Palestina untuk jalan-jalan ke Hong Kong atau Indonesia, ke China atau Australia, apalagi ke India atau Amerika. Tidak! Tidak pernah. Yesus tidak pernah jalan-jalan ke sana. Nanti, daerah-daerah itu akan menerima pewartaan kabar gembira, pewartaan rencana keselamtan Tuhan dari Tubuh Kristus yaitu Gereja.

Ada satu peristiwa unik ketika seorang perempuan Kanaan memohon dengan penuh iman, penuh kerendahan hati dan penuh ketekunan; Yesus mengubah rencana-Nya. Hal ini memberi kita satu petunjuk, rencana keselamatan itu untuk seluruh jiwa. Yesus datang untuk menggagalkan rencana jahat, "mengklik undo" atas kerja si jahat. 

Hal ini sangat revolusioner, lebih dari sekadar revolusi mental. Bayangkan, jaman dulu, jaman para nabi, rencana keselamatan itu hanya hak bangsa terpilih, tetapi sekarang menajdi hak semua orang. Undangan itu diberikan kepada semua orang, termasuk kita. Undangan bukan hanya untuk menerima keselamatan, tetapi juga menjadi pewarta keselamatan.

Mari menempatkan diri kita sebagai perantara. Menempatkan diri kita seperti perempuan Kanaan yang memohon belas kasih dari Tuhan untuk orang lain yang membutuhkan.  Orang lain yang membutuhkan itu seperti gadis kecil dari cerita Injil. 

Kita bisa memulai dari kelompok yang paling kecil, paling sederhana, dari keluarga kita, sahabat dan teman, komunitas, stasi, paroki, keuskupan, dan seterusnya. Kita menjadi penghubung rahmat Tuhan dengan mereka yang membutuhkan rahmat tersebut. 

bagaimana carny? pertama melalui doa-doa kita. Kita membawa setiap orang yang membutuhkan rahmat Tuhan dalam doa-doa kita. kemudian melalui contoh tindakan nyata. sikap kita sehari-hari, pola hidup kita akan menjadi sarana yang baik. Kalau hidup kita baik, orang di sekitar kita akan mudah melihat dan mengikuti. kemudian melakukan karya nyata, tindakan nyata menolong sesama, menjadi perantara rahmat. bergabung dalam kelompok kemanusiaan, volunter membantu aktivitas sosial di paroki, lingkungan, komunitas, dll.

Namun ada satu yang harus diingat. Sebelum kita menjadi perantara bagi rahmat Tuhan untuk sesama, kita terlebih dahulu harus menjalin relasi yang akrab mesra dengan Tuhan. Atau kalau relasi itu sudah ada, harus diperdalam lagi. Mengapa ini penting? Karena akan memudahkan kita menjadi saluran rahmat bagi orang lain.

Di situ kita akan terlahir sebagai manusia yang benar-benar MERDEKA.

Hong Kong, 17 Agustus 2014
Peringatan Kemerdekaan Indonesia ke 69
*Bacaan saya ambil dari Hari Minggu biasa ke 20.


Comments

Lusia Putu said…
sippp romo...merdeka di segala hal dan terkendali

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …