Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2014

Petrus dan Paulus : Kisah Rahmat Tuhan

Sahabat, hari ini Gereja merayakan dua santo besar, Petrus dan Paulus. Dua pilar yang menyangga Gereja tetap tegak berdiri. 

Yesus memilih Petrus untuk menjadi paus yang pertama, dan seperti yang dikatakan dalam Injil, Yesus memilih dia untuk menjadi "batu karang" di mana akan menjadi pondasi kuat bagi Gereja.
Tetapi, Petrus yang dipilih oleh Yesus menjadi paus pertama ini adalah Petrus yang sama dengan yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Dia yang mengkhianati gurunya, penyelamatnya, dan sahabatnya. Dia yang tidak berdaya tatkala berhadapan dengan seorang perempuan yang menanyainya perihal latar belakangnya, perihal hubungannya dengan Yesus.
Tetapi, Petrus yang menyangkal Yesus ini juga yang ditanyai oleh Yesus sebanyak tiga kali hingga meleleh air mata. Ditanyai apakah dia mencintai Yesus lebih dari yang lain. Petrus yang sama yang diperintahkan oleh Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Diceritakan bahwa Petrus menyesali seluruh dosanya dan dikatakan pula bahw…

Durian oh durian

Kemarin ada kejadian sedikit menghebohkan di ruang belajar bahasa Kanton. Suster membawa durian ke dalam kelas. Tentu saja kelas menjadi heboh. Aroma durian yang begitu semerbak langsung mengundang berbagai komentar. Guru kami langsung cemberut. Sedangkan kami yang sudah hadir tertawa lebar. Kemudian datang satu suster yang lain, yang belum pernah menikmati durian. Begitu masuk dia bertanya, "aroma apa ini?" Kami tidak menjawab aroma apa, tetapi kami bertanya balik, "enak nggak baunya?" "Iya." Jawabnya. Kamipun serempak tertawa, kecuali guru kami. Pada waktu istirahat, kami menikmati durian. Sekali lagi kecuali guru kami. Kemudian kami bertanya, mengapa beliau tidak mau ikut menyantap buah durian. Ternyata bukan soal baunya, tetapi soal panas yang diakibatkan oleh durian. Ternyata dia pernah mengalami infeksi selama satu minggu gara-gara makan buah durian.  Pagi ini, di ruang makan kami bercerita soal durian. Kembali lagi, seorang suster yang kebetulan d…

EKARISTI; makanan menyehatkan...

Sore kemarin saya terlambat datang untuk makan malam. Saya sudah memberitahu yang menyiapkan makan, bahwa saya akan datang terlambat. Maka mereka menyiapkan saya sepiring penuh makan malam. Biasanya mereka meletakkan semua jenis makanan yang mereka masak dalam satu piring. Kecuali sup mereka pisahkan dalam mangkuk kecil.
Sore kemarin saya terlambat datang untuk makan malam. Saya mengikuti rapat dengan teman-teman JBMI untuk acara debat, maka saya memberitahu yang menyiapkan makan untuk menyisihkan makanan. Meskipun mereka selalu melakukan setiap hari, karena saya selalu datang terlambat untuk makan. Biasanya karena jadwal bis yang tidak memungkinkan saya makan malam sesuai jadwal di rumah kost.  Sore kemarin saya terlambat datang untuk makan malam. Meski saya datang terlambat datang untuk makan malam, ternyata ketika saya masuk kamar makan, masih ada tiga orang di sana. Mereka sudah selesai menyantap makan malam, tetapi belum selesai bercakap-cakap. Saya menyela di antara mereka deng…

English muffin dan bau pesing; Fr. Ron Saucci MM

Pagi ini saat sarapan, saya mendapat satu pelajaran yang sangat berharga. Awalnya biasa saja, seperti pagi-pagi yang lain, yang serba biasa. Saya turun ke ruang makan jam 8.15, seusai Ekaristi pagi dan sejenak meditasi.Seperti biasa, saya mengambil sebutir jeruk sebagai pembuka sarapan. Di antara anggota komunitas, cara saya makan jeruk terbilang aneh. Saya kupas jeruk dengan pisau, dengan menyisakan bagian putih (kulit bagian dalam) cukup tebal. Kebanyakan orang membuang bagian ini, tetapi saya memakannya, menikmatinya.Langkah kedua adalah membakar english muffin, setelah membelahnya menjadi dua bagian. Membakar english muffin membutuhkan waktu yang lebih panjang dibandingkan roti biasa. Seperti biasanya, ketika jeruk saya tinggal sedikit, muffin yang saya bakar sudah siap dinikmati. Artinya, saya tidak perlu menggantung gigi begitu lama. Saya oleskan sedikit mentega dan selai blueberry di satu sisi dan selai strawberry di sisi yang lain. Saya mulai menikmati muffin ini, segigit demi…

Ibu yang menderita kanker pankreas

Pada hari Minggu, 15 Juni 2014, saya berjumpa dengan seorang ibu yang menderita kanker pankreas dalam acara makan siang. Perjumpaan yang memberi saya sebuah pengalaman yang sangat berharga. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan berjumpa dengan seorang ibu yang oleh dokter divonis usianya tinggal 3 bulan, tetapi masih ceria dan tidak tergambar kesedihan dan ketakutan. Bernama Lili Wong, asli Surabaya tetapi tinggal di Hong Kong karena orangtua angkatnya adalah orang Hong Kong. Saya tidak mengenal beliau sampai sahabat saya, Romo Benny, O.Carm meminta saya menghubungi beliau. Kebetulan Romo Benny berkunjung ke Hong Kong menemui kami. Beliau minta tolong pada saya untuk dihubungkan dengan ibu Lili yang dia kenal. Saya menelfon dan menyambungkan kepada Romo Benny.  Singkat cerita saya menjadi "jembatan" komunikasi antara Romo Benny dan Ibu Lily. Hingga akhirnya terjadi kesepakatan untuk bertemu pada hari Minggu siang di Tsim Tsa Tsui. Selama menjadi "jembatan"…

Bapak yang tidak sempurna

Catatan mengenai seorang bapak sangat jarang ditulis. Biasanya seseorang membuat catatan mengenai sosok ibu. Pada hari ini saya ingin membuat catatan mengenai sosok bapak, bukan bapak saya di rumah, tetapi tentang seorang bapak.
Ada tiga atau dua orang sosok bapak yang ingin saya bagikan dalam catatan ini. Yang saya harapkan bisa menjadi inspirasi untuk mencintai sosok bapak, yang kerap kurang sempurna. Sosok bapak yang pertama, yang tidak sempurna, saya lihat dalam sebuah film pendek. Film itu hanya berdurasi 3 menit sekian detik. Berkisah mengenai bapak yang tidak sempurna. Adegan awal menayangkan bapak ini mengantar putrinya yang sudah SMA ke sekolah. Di depan gerbang sekolah, ia menurunkan putrinya dari boncengan sepeda motornya yang tua. Wajah sang bapak nampak gembira, bisa mengantar anaknya sekolah. Sebaliknya sang putri, wajahnya cemberut. Sang bapak menggerakkan kedua tangannya, menggambarkan sesuatu, tetapi si anak tidak mau melihatnya. Dia berjalan begitu saja masuk ke dalam s…

Nasi goreng pete dan PENTEKOSTA

Sahabat, hari ini adalah Hari Raya Pentekosta, turunnya Roh Kudus atas para rasul. Peristiwa ini sudah dijanjikan oleh Yesus. Merenungkan peristiwa ini, saya jadi teringat nasi goreng pete. Anda boleh tertawa, tetapi sungguh, keduanya memiliki kemiripan. Sulit membayangkan kalau Anda belum pernah mencicipi dahsyatnya nasi goreng pete. Sebenarnya ini bukan catatan mengenai kuliner, tetapi mungkin ada yang penasaran bagaimana mengolah nasi goreng pete yang dahsyat, nendang abis. Berikut saya bagikan resepnya sehingga nanti bisa dicoba dan direnungkan, apakah benar bahwa nasi goreng pete itu seperti Pentekosta. Pertama panaskan minyak, kedua masukkan potongan daging ayam. Ini bisa diganti ikan asin, tetapi paduan ikan asin dan pete kurang mantap, perangnya terlalu dahsyat. Kemudian masukkan irisan bawang putih, dikeprak saja dan irisan bawang bombay atau bawang merah. Jika suka pedas bisa dimasukkan cabe keprak beberapa potong dan jangan lupa garam. Ketika ayam mulai menguning masukkan tel…

Yang kedua lebih baik

Yang kedua itu lebih baik. Weits... jangan salah tangkap dan salah sangka. Ini bukan soal kampanye calon presiden. Ini bukan soal menjadi capres. Karena bagi saya soal capres itu nomor dua. Nomor satu adalah "Nderek Gusti".
Iya, catatan saya ini berkaitan dengan Nderek Gusti, alias mengikut Tuhan. Lalu tentang siapa saya berbicara? Tentang siapa yang kedua ini? Saya ingin berbicara mengenai Petrus. Lho? Kok Petrus? Bukankah Petrus hanya ada satu? Lalu apakah ada Petrus yang kedua? Bukan itu. Saya ingin melihat Petrus dalam dua peristiwa. Peristiwa yang kedualah yang lebih baik. Kalau tidak percaya mari kita simak baik-baik.
Peristiwa pertama
Waktu itu Yesus sedang mengadakan perjamuan makan. Menurut catatan, itu adalah makan malam terakhir yang diadakan Yesus bersama murid-muridnya. Dalam kesempatan itu Yesus mengeluarkan hampir semua isi hatinya. Iya saya katakan hampir semua karena masih ada beberapa hal yang tidak diungkapkan. Dalam salah satu bagiannya, Yesus mengungkap…