Skip to main content

English muffin dan bau pesing; Fr. Ron Saucci MM

Pagi ini saat sarapan, saya mendapat satu pelajaran yang sangat berharga. Awalnya biasa saja, seperti pagi-pagi yang lain, yang serba biasa. Saya turun ke ruang makan jam 8.15, seusai Ekaristi pagi dan sejenak meditasi.Seperti biasa, saya mengambil sebutir jeruk sebagai pembuka sarapan. Di antara anggota komunitas, cara saya makan jeruk terbilang aneh. Saya kupas jeruk dengan pisau, dengan menyisakan bagian putih (kulit bagian dalam) cukup tebal. Kebanyakan orang membuang bagian ini, tetapi saya memakannya, menikmatinya.Langkah kedua adalah membakar english muffin, setelah membelahnya menjadi dua bagian. Membakar english muffin membutuhkan waktu yang lebih panjang dibandingkan roti biasa. Seperti biasanya, ketika jeruk saya tinggal sedikit, muffin yang saya bakar sudah siap dinikmati. Artinya, saya tidak perlu menggantung gigi begitu lama. Saya oleskan sedikit mentega dan selai blueberry di satu sisi dan selai strawberry di sisi yang lain. Saya mulai menikmati muffin ini, segigit demi segigit. Kemudian masuklah Fr. Ron, dengan menenteng sebuah kantong di tangan kanan. Hal ini di luar kebiasaan. Biasanya beliau sudah ada di ruang makan, bahkan sudah hampir menghabiskan jatah sarapan saat saya memasuki ruang makan. Rupanya pagi ini beliau terlalu asyik bercerita dengan kakaknya melalui saluran skype, sehingga lupa waktu.Beliau mengambil duduk di samping saya. Sebenarnya, saya mengambil tempat duduknya. Karena kursi yang saya duduki, yang biasa dia tempati, adalah posisi terbagus di ruang makan itu. Dari sana bisa menikmati indahnya laut di Stanley Peninsula serta melihat hilir mudiknya kapal-kapal besar yang membawa banyak peti kemas masuk ke Hong Kong.Begitu beliau duduk, saya segera menyadari apa yang dia bawa dalam kantong plastik tadi. Saya tidak perlu menjelaskan di sini. Karena Anda akan segera mengetahui benda apa itu. Saya mengetahuinya dari aroma yang segera tercium. Sebenarnya saya ingin segera mengakhiri makan pagi tersebut untuk terhindar dari aroma yang kurang sedap. Tetapi itu sangat tidak sopan. Maka saya teruskan menggigit muffin saya dengan mendengarkan cerita-cerita yang bertebaran di sana.Fr. Ron ini usianya sudah lebih 80 tahun. Beliau orang Amerika keturunan Italia, maka namanya Saucci. Beliau ini memiliki banyak bakat dan kekayaan. Termasuk di dalamnya berbagai penyakit. Dia pernah bercerita bahwa pernah menderita kanker ini dan itu. Juga banyak organ dalamnya yang sudah dioperasi. Beliau awalnya masuk tentara Amerika. Namun perjalanan waktu membawa dia ke jenjang imamat. Pada usia 31 dia memutuskan untuk menjadi imam, dan misionaris Maryknoll adalah pilihannya. Tahun 1968, untuk pertama kalinya beliau datang di Hong Kong, tepatnya di daerah Chai Wan. Di sana beliau bekerja melayani para pengungsi dan anak-anak sekolah. Setiap hari membuat roti untuk para pengungsi tersebut. Kemudian beliau dipindah ke Amerika, bekerja di bagian publikasi dan penyiaran. membuat banyak program untuk televisi, majalah dan buku-buku. Pada tahun 1980 kembali ke Hong Kong sampai sekarang.Kembali lagi ke Hong Kong, beliau tidak lagi bekerja di paroki, tetapi tetap setia melayani misa di paroki, tepatnya St. Joseph di Central. Tugas utamanya pada waktu itu adalah bekerja di UCAN (Union of Catholic Asian News). Setelah pensiun dari sana beliau bekerja sebagai chaplain untuk orang-orang Amerika di Hong Kong, berkantor di Fenwick Pier.
Oh iya, apa sebenarnya yang hendak saya ceritakan?
Seperti yang saya singgung di atas, Fr. Ron ini "orang kaya", termasuk kaya penyakit. Kemarin beliau baru menyelesaikan periksa rutin. Dan seperti biasa, ada banyak bagian yang harus dijaga dengan sangat teliti. Salah satunya adalah gula. 
"Mungkin gula saya cukup tinggi, meskipun saya sudah menjaga diri dengan baik. Minum sedikit jus ini juga telah membuat gula darah saya naik drastis. Tetapi tidak apa-apa. Saya boleh sakit ini dan itu, saya boleh menderita ini dan itu, tetapi saya tidak boleh kehilangan diri saya. Saya tidak boleh kehilangan kegembiraan." Fr. Ron meneguk kopi pahitnya dan melanjutkan.
"Saya tidak boleh kehilangan kegembiraan. Saya harus tetap gembira. Sebab saya bisa mati kapan saja. Bisa hari ini bisa minggu depan atau kapan saja saya tidak tahu. Tetapi kalau saya kehilangan kegembiraan saya, maka sebenarnya saya sudah mati, meskipun kelihatan hidup."
Kemudian terdengar gumaman-gumaman yang menyetujui ucapan Fr. Ron. 
Saya juga setuju. Saya, sembari menghabiskan kopi di gelas juga menyetujui ungkapannya. Dan saya bersyukur masih bertahan di meja makan untuk mendapat pelajaran berharga ini. Aroma 'sedikit' pesing bukanlah penghalang untuk tetap gembira. Ini tentu tak sebanding dengan beliau yang bertahan dari berbagai penyakit, juga mereka yang bertahan untuk tetap hidup dari gerogotan kanker, dll. 
Maka saya menasehati diri saya sendiri, tentu dalam hati, "kamu ini hanya dengan bau pesing sedikit saja sudah mau menyerah. Tidakkah kamu dengar bagaimana mereka berusaha bertahan dalam kegembiraan, meskipun ada banyak aalasan untuk mengeluh dan mengeluh?" Dan sungguh, bertahan di sana, mendengarkan mereka bercerita juga menjadi kegembiraan tersendiri bagi mereka. Akhirnya, jam 9 tepat kami meninggalkan ruang makan dan kembali kepada aktivitas kami masing-masing.  
Kehilangan kegembiraan berarti kematian. Maka, meski cuaca pagi ini kurang bagus. Ada peringatan badai di HP saya, tetapi saya tetap gembira. Berusaha melatih, dan melatih untuk tidak kehilangan kegembiraan.

Hong Kong, 21 Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …