Skip to main content

Bapak yang tidak sempurna

Catatan mengenai seorang bapak sangat jarang ditulis. Biasanya seseorang membuat catatan mengenai sosok ibu. Pada hari ini saya ingin membuat catatan mengenai sosok bapak, bukan bapak saya di rumah, tetapi tentang seorang bapak.

Ada tiga atau dua orang sosok bapak yang ingin saya bagikan dalam catatan ini. Yang saya harapkan bisa menjadi inspirasi untuk mencintai sosok bapak, yang kerap kurang sempurna.
Sosok bapak yang pertama, yang tidak sempurna, saya lihat dalam sebuah film pendek. Film itu hanya berdurasi 3 menit sekian detik. Berkisah mengenai bapak yang tidak sempurna. Adegan awal menayangkan bapak ini mengantar putrinya yang sudah SMA ke sekolah. Di depan gerbang sekolah, ia menurunkan putrinya dari boncengan sepeda motornya yang tua. Wajah sang bapak nampak gembira, bisa mengantar anaknya sekolah. Sebaliknya sang putri, wajahnya cemberut.
Sang bapak menggerakkan kedua tangannya, menggambarkan sesuatu, tetapi si anak tidak mau melihatnya. Dia berjalan begitu saja masuk ke dalam sekolah. Di dalam kelas, si anak masih diliputi kekesalan. Ketika menghapus papan tulis, dia tumpahkan kekesalannya. Dia hentakkan tangannya ke papan, seolah ingin mengeluarkan seluruh amarah.
"Aku juga ingin memiliki ayah yang sempurna...", katanya dalam hati.
"Aku juga ingin bisa membagikan persoalanku kepadanya...", gerutunya lagi.
"aku juga ingin didengarkan seperti anak-anak yang lain."
Si anak kesal, jengkel dan marah. Rasanya ia menanggung semua ketidak adilan itu seorang diri. Mengapa ia harus memiliki seorang bapak yang tidak sempurna. Yang tidak bisa mendengar keluh kesahnya. Yang tidak bisa memberi nasihat yang baik seperti bapak-bapak yang lain. Dia marah. Akhirnya sepulang sekolah ia pergi, keluyuran sampai larut malam.
Tentu saja bapaknya gelisah. Menunggu dari siang hingga malam menjelang. Pikirannya kalut, putri semata wayangnya belum juga datang. Perlengkapan kerjanya dia banting berulang kali, karena kalut dan cemas. Ketika akhirnya putrinya datang, dia tidak bisa menahan diri, dia ungkapkan kekesalannya, dia marah. Sang putri juga marah. 
Keesokan harinya, sang putri pergi. Si bapak menyiapkan kue ulang tahun bagi putrinya. Di depan kue dengan lilin menyala, sang bapak mengungkapkan isi hatinya, si bapak mengungkapkan permohonan maafnya karena tidak bisa menjadi ayah yang baik, ayah yang sempurna.
"Maafkan karena bapak terlahir tidak sempurna, tidak bisa mendengar dan tidak bisa bicara. Bapak memang tidak sempurna..."
GLODAK...
Terdengar suara dari  balik pintu. Secepat yang dia bisa, bapak itu membuka pintu. Didapati anaknya tergeletak di sana. Maka sekonyong-konyong dia rengkuh anaknya, dia bawa lari ke rumah sakit.
Di ruang gawat darurat, dia berusaha menjelaskan kepada semua staff rumah sakit agar anaknay tertolong. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menjelaskan, hanya tangan yang bergerak-gerak...
Dia sedih, pada saat yang sangat penting, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian layar memperlihatkan moment saat bapak berbicara di depan kue ulang tahun sendirian. Dia ingin mengatakan bahwa dia memang bukan bapak yang sempurna, tetapi cintanya sungguh penuh dan utuh untuk buah hatinya. Layar ditutup dengan adegan bapak ini memberikan darahnya bagi sang putri, dan sang putri menggenggam tangannya.
....
Tidak ada bapak yang sempurna? Benarkah?
Kalau kita bertanya kepada diri kita masing-masing, tentang pengalaman hidup bersama seorang bapak, mungkin kita akan selalu dengan mudah mampu memberi daftar dosa dan kekurangan dari bapak kita. Begitu panjang sampai kita akana heran, bahwa dia adalah bapak kita. Orang yang membuat kita ada di dunia. Orang yang dengan apa ada dirinya berusaha membuat kita hidup bahagia. Mungkin bapak kita tidak pernah mengatakan, tetapi kalau diberi kesempatan mungkin dia akan berkata, "maafkan bapak, bapak bukanlah bapak yang sempurna, tetapi cinta bapak utuh."
Cinta itu terwujud dalam pemberian diri. Ada seorang bapak yang sangat mencintai anak-anaknya. Karena begitu besar cinta Bapak ini, maka dia berikan "anaknya yang tunggal" kepada anak-anak yang lain, kepada dunia. Dia itu Bapak kita yang ada di surga. Dia begitu mencintai kita, maka Dia berikan Anak-Nya yang tunggal untuk kita. Agar kita menegrti bahwa Dia sangat mencintai kita.
Pemberian adalah bahasa sederhana yang mudah dipahami. Bapak kita yang ada di surga ingin kita membalas cinta-Nya. Maka, Dia ingin agar kita menerima Anak-Nya yang diberikan kepada kita. Barang siapa percaya kepada Anak, dia akan diselamatkan.

Apakah kita sadar bahwa kita memiliki seorang Bapak yang begitu baik? Bapak yang bukan hanya memberikan Anak-Nya, tetapi juga menjaga kita dengan Roh yang keluar dari cinta Bapak dan Anak.
Mereka, Tritunggal Mahakudus, menjagai kita selalu. Bapak yang begitu mencintai, mencipta segala yang ada. Kemudian Anak yang diberikan kepada kita, yang menyelamatkan hidup kita, dan Roh Kudus yang menjagai, yang menguduskan hidup kita. Mereka mungkin rahasia terbesar hidup kita, rahasia yang akan kita pecahkan saat kita kembali ke rumah-Nya, kelak, di surga sana.

Selamat berhari Minggu. Selamat merayakan misteri iman, Allah Tritunggal Mahakudus. Selamat bergembira bersama Bapak tercinta.
Happy Father's day

Hong Kong, 15 Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …