Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2009

GILANG

Gilang putra pertama pasangan Surikno – Ida. Sejak lahir memiliki kekurangan dalam pendengaran. Pasutri Surikno pertama kali menyadari kondisi Gilang ketika Gilang berusia 3 tahun. Mereka mengetahui kelainan ini karena melihat Gilang kecil yang hanya berlarian saja sementara teman-temannya sibuk bermain.
Ibunya melihat ada yang tidak beres dengan putranya. Sepertinya ada komunikasi yang terputus. Maka mereka membawa Gilang ke dokter untuk memeriksa keadaannya dengan saksama. Kenyataan pahit harus diterima, pendengaran Gilang hanya berfungsi sedikit saja. Ia mesti menggunkan alat bantu jika ingin mendengar lebih baik, itu pun tidak banyak membantu.

Dalam perjalanan waktu kondisi Gilang sangat berpengaruh pada kepribadiannya. Dia tidak mampu memahami pembicaraan dengan baik. Hal itu membuat bicaranya tidak lancar, sebab kita berbicara berdasar apa yang kita dengar. Akibat lebih lanjut adalah rasa minder dan sikap agak kasar. Apalagi ketika banyak sekolah yang menolak kehadirannya. Kedua …

Putri Kaca from Banjar (From Banjarmasin with Love part 2 – Journey of Kuliner in Borneo part 4)

Hanya sehari semalam (4-5 Jan 2009) aku tinggal di Banjarmasin. Meski demikian ada beberapa kuliner yang akan saya bagikan. Sebuah pengalaman baru menyantap makanan baru, khas daerah setempat.
Sudah saya ceritakan makanan pertama yang saya santap di Banjarmasin adalah kepiting saus padang, ca brokoli, dan sup tom yam. Bagaimana gambar yang dipajang tidak sesuai dengan barang yang disajikan. Berikut ini beberapa pengalaman berkuliner dan berpetualang di bumi Banjarmasin selama satu hari.

Nasi Kuning Banjar
Berhubung pada hari Minggu saya tidak bisa mengikuti (apalagi) mempersembahkan perayaan Ekaristi, maka hari ini saya berusaha bisa mengikuti perayaan ekaristi. Maka sebelum berangkat tidur saya bertanya kepada tuan rumah, misa harian di paroki ini berlangsung jam berapa. Setelah mengetahui bahwa misa harian berlangsung jam 6 pagi, maka saya mengatur diri agar bisa bangun lebih pagi. Sebab jam 6 pagi di sini sama dengan jam 5 pagi waktu malang, berarti saya harus bisa bangun lebih pagi…

Tears from Banjar (From Banjarmasin with Love part 1 – Journey of Kuliner in Borneo part 3)

Kota kedua yang akan saya jelajahi adalah Banjarmasin. Untuk ke sana saya mesti melewati Palangkaraya. Ibu kota Kalteng ini benar-benar hanya saya lewati dan pandangi saja. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan, apalagi mengenai makanannya.
Judul besar tulisan ini adalah Tears from Banjar, karena memang saya menjumpai lelehan air mata dari ungkapan hati yang mendalam. Tentu agak janggal di kala saya bercerita mengenai journey of kuliner tetapi ada selingan air mata. Air mata ini memang bukan sembarang air mata, karena mengalir dari hati yang ditempa banyak penderitaan dan pengalaman pahit dalam hidup, yang menghantarkan mereka kepada iman yang lebih teguh.

Perjalanan panjang
Palangkaraya yang lengang. Itulah kesan yangs aya peroleh. Karena hanya melewatinya dan berhenti di pos travel selama 2 jam 30 menit. Duduk di teras agen travel ……… sambil memandang lalu lintas yang lalu lalang. Memandang jalan yang lebar namun lengang, melihat bangunan penjara yang tinggi megah, melihat bangunan-b…

Berbagi

Lukas 6:36-38 (bacaan harian tanggal 9 Maret)
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."


Kalau kita memberi, kita akan mendapat. Paham ini diamini dan dijalani oleh banyak orang. Mereka dengan suka hati memberikan sesuatu yang bisa mereka berikan, karena mereka memiliki keyakinan bahwa mereka akanmendapatkan lagi.
Memberi itu seperti menanam. Jika yang ditanam adalah kebaikan maka yang akan dituai adalah kebaikan juga. Demikianpun dengan kejahatan. Jika yang kita tanam adalah kebencian, yang akan kita tuai adalah rasa dendam dan sakit hati. Kita mendapatkan apa yang…

Ini Bujangan Sam! (From Sampit with Love Part 2 – Journey of Kuliner in Borneo part 2)

Setelah semalam menginap di kota Sampit, tanggal 2 pagi saya bersama Dwi meluncur ke arah perkebunan. Sebelum berangkat Dwi membawa sepeda motor ke bengkel untuk servis. Selepas servis kami tidak bisa langsung berangkat. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, malangnya ia tidak membawa jas hujan. Saya sempat kelabakan, karena saya membawa laptop, wah bisa berabe kalau basah. Maka saya cari tas plastic (kresek) untuk membungkus laptop agar tidak basah jika nanti kena hujan.
Akhirnya setelah hujan mulai reda kami meluncur. Saya hanya berdoa semoga tidak semakin deras, karena saya tidak membawa banyak pakaian ganti. Akhirnya setelah meluncur barang 10 menit hujan reda. Perjalanan ini akan cukup panjang. Ada dua medan jalan yang akan kami lalui, medan beraspal dan medan jalan tanah. Sekitar satu setengah jam di jalan beraspal dan satu setengah jam di jalan tanah.

Ini Journey
Mestinya journey itu sebuah perjalanan. Sebagai sebuah perjalanan mestinya yang paling terasa kalau jalan kaki. Teta…

Ngobrol

Seorang teman membuat obrolan imajiner dengan Tuhan. Ia bawa persoalan hariannya kepada Tuhan. Ia laporkan semuanya. Namanya juga imajiner, pasti tidak terjadi sungguhan. Namun sangat pantas untuk dibaca dan direnungkan.

TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-
bincang denganmu.

AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih
baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang
sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah
menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi
produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu,
produktifitas membebaskan waktu.

AKU: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting
seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan wa…

From Sampit with Pecel(From Sampit with Love part 1 – Journey of Kuliner in Borneo part 1)

Agak aneh rasanya bercerita mengenai pecel dari Sampit. Mestinya cerita pecel itu dari Blitar atau Madiun, di mana surganya pecel (setidaknya padan nama warung pecel itu biasanya berbunyi ‘Pecel Asli Blitar’ atau ‘Pecel Pincuk Madiun’). Inilah yang hendak saya bagikan, With Pecel form Sampit (baca with love from Sampit, hehehehe).
Awal tahun 2009, 1 Januari jam 04.30 saya dijemput mobil travel untuk pergi ke bandara Juanda. Jalanan sepi, sisa pereayaan malam tahun baru masih sangat terasa. Setelah putar-putar menjemput penumpang, mobil benar-benar meninggalkan kota Malang pukul 05 lewat 20-an menit. Kendaraan kami sepertinya ‘tak ada lawan’, meluncur sendirian, hingga sampai di bandara baru jam 06.30. Yah sejam sampai dari Malang ke Surabaya benar-benar luar biasa. Pagi itu benar-benar milik kami.

O iya, kali ini saya hendak berpetualang ke Kalimantan. Agak kasar rasanya mengatakan seorang biarawan kok berpetualang (kayak para nabi yang berkeliaran tanpa tujuan). Apa sudah ga punya kerj…

Journey of Kuliner

Bukannya mau menyaingi Bondan Winarno, tetapi hanya mau berbagi pengalaman makan di perjalanan. Maksudnya menikmati sesajian di sepanjang perjalanan yang saya lewati dalam perjalanan ke Kalimantan.
Kebetulan saya berpetualang mulai tanggal 1 Januari hingga tanggal 13 Januari di Kalimantan. Maka saya sangat berhasrat membagikan pengalaman makan-makan saya. Siapa tahu ada yang tertarik mengajak saya ke sana lagi untuk makan-makan lagi, hahahahahaa.