Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Mereka bilang saya suka makan.

Hari itu kami sedang melihat televisi, program film kartun. Kami semua orang-orang dengan umur yang sudah cukup banyak, tetapi kami menonton film kartun. Tidak menjadi masalah. Film itu bercerita tentang beberapa binatang yang berkumpul menajdi satu, ada kura-kura, landak, bajing, anjing hutan, dll. Seperti pada umumnya film kartun, mereka bisa berbicara. Dalam satu moment, para binatang ini sedang bergossip ria. Mereka berbicara perihal makanan, perihal kebiasaan mereka makan, dan kebiasaan manusia makan. Ini yang diungkapkan satu binatang itu:
"Kita makan untuk mempertahankan hidup, hal ini berbeda dengan manusia. Biasanya mereka mempertahankan hidup untuk bisa menikmati makanan. Singkatnya, kita makan untuk hidup tetapi manusia hidup untuk makan!"
Mendengar ungkapan itu, teman-teman saya serentak menoleh pada saya. "What!!" Protes saya. 
Mereka mengatakan bahwa saya banyak makan. Mereka mengatakan saya suka makan. Mereka mengatakan bahwa saya mengabdi perut. Me…

Mengapa saya mengagumi Bartimeus?

Sahabat, terakhir kali saya menulis di sini adalah 12 Mei yang lalu, ketika saya merayakan ulang tahun tahbisan ke-10. Kala itu saya merenungkan "Oseng Pare". Jika ingin membaca kisah mengapa saya begitu mencintai oseng pare, bahkan bagi saya oseng pare menjadi "menu utama" dalam merayakan ulang tahun tahbisan, silahkan mencari sendiri artikelnya.  Kali ini saya ingin membuat catatan mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus, seorang pengemis buta di kota Yerikho. Tentu saja kali ini bukanlah yang pertama saya membuat catatan mengenai orang hebat ini, yang bagi saya seumpama guru doa. Saya ingat enam tahun yang lalu, di tempat yang sama (pasturan gereja Maria Kusuma Karmel, Jakarta) saya membuat catatan mengenai Bartimeus anak Timeus.  Waktu itu saya menulinya dalam bentuk note di FB. Kemudian beberapa kali juga membuat catatan singkat mengenai Bartimeus entah dalam renungan-renungan singkat. Sejak awal saya kesengsem dengan Bartimeus sebagai seorang guru doa. Sebag…

Mengapa Saya Suka (oseng) pare?

(Penampakan oseng pare masakan saya hari ini!)
Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam merayakan peristiwa yang istimewa dalam hidup mereka. Kebanyakan perayaan, pastilah melibatkan makanan di dalamnya. Demikianpun halnya dengan saya, dalam setiap merayakan peristiwa istimewa dalam hidup saya, saya senantiasa menghadirkan makanan yang istimewa pula. Istimewa bukan karena rasanya atau penampilannya, apalagi karena harganya. Istimewa karena kisah di belakang masakan yang saya tata.
Ada banyak kesempatan di mana saya merayakan peristiwa istimewa dalam tahapan kehidupan saya. Yang umum adalah merayakan pesta ulang tahun kelahiran. Sejak saya berada jauh dari kampung halaman, saya senantiasa merayakan pesta ulang tahun kelahiran dengan menu soto. Soto ayam! Kalau tidak bisa memasak sendiri, saya membelinya di warung. Sederhana saja. Bukan karena saya sangat tergila-gila dengan soto ayam. Seperti saya katakan tadi, yang istimewa adalah kisah di belakang menu soto ayam. Menu ini adalah m…

Peace be with you!

Setelah bangkit dari kubur, Yesus memiliki satu kata favourite. Yaitu "damai" / "peace" / "平安". Biasanya kata damai itu dirangkai dalam sapaan, "damai bersamamu" / "peace be with you" / 願你們平安。Kata sangat sering kita dengar, apalagi kalau kita rajin ikut perayaan Ekaristi. Imam selalu mengulang-ulang perkataan Yesus, "damai-Ku kuberikan kepadamu, damai-Ku kutinggalkan bagimu." Damai itu bukan hanya diucapkan, tetapi juga diberikan dan ditinggalkan.
Ada satu pertanyaan, mengapa Yesus baru memberikan damai itu setelah Dia bangkit? Mengapa tidak sebelum Dia bangkit?
Jawabannya sederhana. Ketika Yesus masih ada, para murid tidak memerlukan damai yang lain, karena Yesus-lah damai itu. 
Damai yg diberikan oleh Yesus ini, bagi kita sekarang bisa menjadi satu obat atau antivirus bagi penyakit dunia modern.
Apa saja penyakit dunia modern itu? Ada banyak. Tetapi kita bisa menyebut beberapa, misalnya: stress, takut, depresi, benci, dll.
Damai …

Mencintai SALIB

Sahabat, sudah beberapa minggu ini pikiran saya selalu diisi dengan kata SALIB. Bemula dari ruang kelas di saat saya menghadapi ujian, kemudian mengikuti dan memberi refleksi ibadat jalan salib, mengajak saya untuk melihat lebih jelas SALIB yang sesungguhnya dalam hidup harian saya. Sebelum melangkah lebih jauh baik kalau kita sadari bahwa setiap orang memiliki SALIBnya sendiri, memiliki persoalan hidup sendiri-sendiri. Ada yang berat ada yang sedikit ringan, ada yang besar ada yang relatif kecil. Tetapi kita tidak bisa membandingkan begitu saja SALIB setiap orang.  Misalnya: ada orang yang memiliki persoalan dalam keluarganya. Relasi antara orangtua dan anak-anak tidak bagus. Ada yang memiliki persoalan di dalam tempat kerjanya. Entah persoalan antar teman, dengan atasan atau bawahan, atau persoalan mencari pekerjaan. Yang lain memiliki persoalan dalam menemukan makna yang mendalam dalam hidup mereka, karena mereka seolah hidup tanpa arah, tanpa makna, melangkah tanpa tujuan bak daun…

Mengapa percaya?

Tahun 2015 belum genap 30 hari, tetapi sudah ada begitu banyak pengalaman pahit yang harud dikecap oleh banyak pihak. Ada kekerasan karena sentimen agama, ada pembunuhan juga karena sentimen agama, ada kecelakaan, ada bencana, ada drama politik. Singkatnya, ada begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang harus dialami. Padahal tahun yang baru, baru saja bergulir.
Rentetan peristiwa-peristiwa buruk ini membuat sebagian orang bertanya, masihkan kita percaya kepada Tuhan yang akan membuat segalanya baik? Masihkah kita percaya akan adanya Tuhan yang membuat segalanya indah? Bahkan berbagai macam kekerasan bahkan pembunuhan atas dasar sentimen agama telah membuat para pembenci Tuhan bersorak riang.  'Lihatlah mereka yang setiap hari bersujud syukur kepada Tuhan, kini mereka saling bunuh! Tuhan macam apakah yang mereka abdi? Tuhan macam apakah yang mereka sembah setiap hari?" Demikianlah para pembenci Tuhan bersorak. Dari penjuru yang lain datang sebuah paparan keluhan. Sebuah …