Skip to main content

Mengapa saya mengagumi Bartimeus?

Sahabat, terakhir kali saya menulis di sini adalah 12 Mei yang lalu, ketika saya merayakan ulang tahun tahbisan ke-10. Kala itu saya merenungkan "Oseng Pare". Jika ingin membaca kisah mengapa saya begitu mencintai oseng pare, bahkan bagi saya oseng pare menjadi "menu utama" dalam merayakan ulang tahun tahbisan, silahkan mencari sendiri artikelnya. 
Kali ini saya ingin membuat catatan mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus, seorang pengemis buta di kota Yerikho. Tentu saja kali ini bukanlah yang pertama saya membuat catatan mengenai orang hebat ini, yang bagi saya seumpama guru doa. Saya ingat enam tahun yang lalu, di tempat yang sama (pasturan gereja Maria Kusuma Karmel, Jakarta) saya membuat catatan mengenai Bartimeus anak Timeus.  Waktu itu saya menulinya dalam bentuk note di FB. Kemudian beberapa kali juga membuat catatan singkat mengenai Bartimeus entah dalam renungan-renungan singkat.
Sejak awal saya kesengsem dengan Bartimeus sebagai seorang guru doa. Sebagai seorang pribadi yang mengerti bagaimana harus berdoa. Doa yang bukan menekankan kepada metode tertentu tetapi kepada kerinduan hati akan Sang Pencipta. Seperti halnya yang diajarkan oleh Santo Yohanes Salib bahwa inti sebuah doa adalah kerinduan yang mendalam dalam hati untuk bisa menjalin relasi secara pribadi dengan Tuhan. Dalam mengungkapkan kerinduan ini orang bisa menggunakan banyak metode. Setiap metode disesuaikan dengan karakter pribadi yang bersangkutan, sesuai dengan ketertarikan hatinya.

Mari kita lihat apa yang terjadi di pinggir jalan di Yerikho tersebut. Saat itu ada seorang yang buta duduk di pinggir jalan. Disebutkan bahwa nama orang buta itu adalah Bartimeus anaknya Pak Timeus. Dia setiap hari duduk di sana mengemis. Hari itu suasana agak berbeda, bahkan mungkin sangat berbeda, ada keramaian yang melebihi biasanya. Kemudian dia bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. "Yesus dari Nazareth sedang lewat." Itu jawaban yang dia peroleh.
Yesus sedang lewat, bukan sedang duduk mengajar. Artinya, Yesus berada di sana hanya sekadar lewat dan waktunya sangat singkat. Hanya beberapa langkah atau beberapa saat mungkin Dia akan menjauh.
Di sini lain, Bartimeus kemungkinan telah banyak mendegar cerita tentang siapa Yesus. Dan inilah saatnya, inilah saat kerinduan hatinya akan bisa terobati. Waktunya tidak banyak, kesempatan itu akan segera lewat kalau dia tidak memanfaatkannya. Maka dengan engkapan yang singkat namun jelas dia berteriak:

"YESUS ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU!!!"

Teriaknya belum mampu menarik perhatian Yesus, sebaliknya mengganggu orang-orang yang ada di sekitar Yesus. Merekalah yang pertama-tama bereaksi. "Hai orang buta, jangan berisik!!!"

Tetapi Bartimeus pantang menyerah. Dia tahu kesempatan itu bisa saja lewat begitu saja dan dia tidak akan memiliki kesempatan kedua di lain waktu. Dia tida bisa meunggu. Dia tidak mau selamanya duduk di pinggir jalan itu dan mengemis. Maka dengan lebih keras dia berteriak:

"YESUS ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU!!!!"

kali ini teriakannya sampai ke telinga Yesus. Kali ini usahanya membuahkan hasil. Yesus mendengar suara seseorang berteriak. Kemudian Yesus meminta agar orang tersebut dibawa mendekat. Maka orang-orang yang berada di dekat Bartimeus berkata : "Kuatkanlah hatimu, Yesus memanggil engkau!"

Bartimeus tahu diri. Dia mengerti bahwa kondisinya sangat kotor. Dia tidak mampu melihat kotor itu seperti apa dan bersih seperti apa. Namun dia mengerti, bahwa kondisinya tidak pantas di hadapan Yesus. Maka dia lepaskan pakaian luarnya, dia tanggalkan kehidupan lamanya dan siap menemui Yesus, siap menyongsong hidup baru bersama Yesus.

Saya bayangkan bahwa semua orang yang ada di sana terdiam dan memandang ke arah Bartimeus yang dituntun berjalan menuju tempat Yesus berada. Saya bayangkan bahwa hati Bartimeus bergemuruh hebat. Dia dipanggil Yesus. Kesempatan itu akhirnya datang juga. segala kerinduan hatinya akan terpenuhi. Dia akan bisa melihat.

Maka begitu Yesus bertanya apa yang dia inginkan, Bartimeus dengan sedikit tergetar menjawab:

"RABUNI...., SAYA INGIN MELIHAT...!

Yesus mengabulkan permohonan Bartimeus.

Sahabat, mengapa saya begitu mengagumi Bartimeus sebagai guru doa? Karena dia memiliki kerinduan yang besar akan Tuhan sebagai satu-satunya yang mampu mengubah hidupnya. Dengan jelas dan tegas dia bisa mengungkapkan apa kerinduannya. Bukan hanya itu, setelah disembuhkan dia juga mengikuti Yesus. Hal ini yang sungguh luar biasa. Setelah keinginannya terpenuhi, dia tidak lupa akan siapa yang menyembuhkan. Dengan sukacita Bartimeus mengikut Yesus. Dia ingin mengisi hidup barunya sebagai murid Yesus.

Rasanya merenungkan semangat Bartimeus yang dengan penuh kegembiraan mengikut Yesus, mampumenambahkan semangat dalam jiwa yang lelah dalam mengikut Yesus. Rasanya kesederhanaan Bartimeus membantu jiwa yang galau akan banyak hal yang tidak jelas apa yang diminta. Rasanya, tidak ada alasan lain untuk tidak percaya bahwa DIA memang satu-satunya yang mampu mengubah hidupku.

Jakarta, 25 Oktober 2015
Maria Kusuma Karmel



Comments

Buah mangga akan tetap menghasilkan buah mangga tidak berubah menjadi buah durian.
Istas Hidayat said…
Bak kafilah haus dapat air kelapa, begitu kata Rendra, begitu pula tentunya orang-orang yang sudah lama menunggu tulisan Romo. Pas betul dengan Bacaan Injil hari ini. Dan pas sekali kalau Bartimeus disebut “guru doa”, yang rindu sekali akan Yesus. Doa adalah pelampiasan rasa rindu pada Tuhan.
Ada cerita tentang Ibu Teresa dari Kolkata: ketika ditanya apa yang dikatakannya dalam doa-doanya kepada Tuhan, Ibu Teresa menjawab: “Saya tidak berkata apa-apa, cuma mendengar.” “Lalu, kalau Ibu cuma mendengar, apa yang dikatakan Tuhan kepada anda?” sambung si penanya. Ibu Teresa menjawab: “Tuhan juga tidak berkata apa-apa. Kami hanya bersanding, sama-sama rindu. Itulah doa.”
Menunggu tulisan Romo lebih lanjut. Jangan biarkan kami menunggu lama, seperti yang terjadi di rumah makan “Sabar Menanti”.
Istas Hidayat
Romo Waris said…
@ pencari cinta sejati, thanks
@ istas hidayat, omm, bagaimana kabarnya. semoga semuanya sehat dan baik selalu. saya akan usahakan untuk bisa menulis, agar tidak lelah menunggu...
Bnr skali. Slma ni rajin menulis. Saya yakin akn tetap hadir krn yg dicari sdh dpt. Sdh mendapat kepenuhan hidup. Smga tdk hy teori.
Romo Waris said…
@pencari cinta sejati... semoga...

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …