Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2017

Cunthel dan Dedhel, Encounter the Cross, day 24-25, 30-32

40 Days Lenten Journey
Hari-hari ini otak saya cunthel, tidak mau diajak berpikir barang sedikit saja. Sebenarnya ada banyak ide yang ingin saya urai menjadi sebuah catatan yang menarik bak lukisan dewata. Namun apa daya, daya saya tidak ada. Terkadang habisnya daya itu hanya disebabkan oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Hanya mengada-ada saja. Tetapi anehnya, pengaruhnya begitu nyata. Kalau begini adanya siapa yang akan percaya, tetapi saya mengalaminya secara nyata. Ahhh bisa saja. Yang saya katakana di atas itu bisa saja dianggap candaan belaka. Tetapi bisa jadi menjadi sebuah pertanda yang sempurna. Mengapa bisa? Karena seperti dikatakan oleh peribahasa, ehh mungkin bukan peribahasa tetapi oleh analisa data. Halah sok ilmiah dengan mencantumkan kata data segala. Tapi mari kita telaah kata orang bijaksana. Sebuah bendungan yang besar dan kokok itu bisa jebol, hancur bernatakan hanya oleh retakan selebar rambut saja. Hal kecil, sepele, ketika dibiarkan akan menjadi besar dan ben…

Like father like son, Encounter the Cross, day 29

40 Days Lenten Journey Saya tidak memiliki anak, karena saya tidak menikah. Tetapi saya memiliki seorang keponakan yang sangat mirip dengan saya. Bahkan suatu saat saya pernah memasang fotonya sebagai foto profil saya dan banyak yang mengira bahwa itu adalah foto masa kecil saya. Karena saya mengenal secara dekat keponakan hanya pas liburan, maka tidak banyak yang bisa saya mengerti dari dirinya. Tetapi dari yang sedikit itu saya bisa menyimpulkan bahwa keponakan saya ini mirip dengan saya bukan hanya secara fisik, tetapi juga sifat-sifatnya. Terlebih sifat-sifat yang buruk. Kalau sifat yang baik pasti dibawa oleh bapaknya. Sebaiknya tidak saya sebutkan di sini apa saja sifat-sifat buruknya. Khan kasihan dia kalau suatu hari nanti membaca catatan pakdhenya, ternyata pernah mengumbar kejelakan dirinya. Khan tidak bagus. Cukuplah diketahui kalau kejelekan dia mirip banget dengan kejelekan saya. Melihat polahnya, saya seperti berdiri di depan cermin. “Itu gue banget!” kata saya dalam hati…

Aneka Model Orang Mengaku Dosa, Encounter the Cross, day 28

Semangat kelelakian, Encounter the Cross, day 27

40 days Lenten Journey
Saya tinggal di pastoran bersama 3 pastor yang lain. Jelas, semuanya lelaki. Tinggal satu rumah dengan banyak lelaki (saja) bukanlah hal yang asing. Sudah saya jalani dari tahun 1992 yang lalu, ketika saya masih remaja. Pengalaman tinggal bersama para lelaki dan hanya lelaki ini menumbuhkan atau menguatkan dugaan lama, bahwa lelaki itu merasa memiliki logika paling kuat. Merasa lebih rasional daripada perempuan.
Mengapa saya mengatakan lelaki itu “merasa” memiliki logika paling kuat? Karena terbukti tidak selalu begitu. Pada awal tahun 2013 yang silam, selama 6 bulan lamanya saya tinggal serumah dengan banyak perempuan. Ya saya harap mereka semua perempuan tulen. Waktu itu saya mengikuti sebuah program pembinaan bagi para pembimbing rohani. Ada 40 orang peserta dan dari semuanya, hanya ada 5 laki-laki termasuk saya. Hmmm, sebuah pengalaman yang luar biasa tinggal bersama sebagai minoritas dalam hal jenis kelamin. Tentu saja ada banyak hal yang saya pelajari. Misa…

The true joy, Encounter the Cross, day 26