Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2010

Salib di dada

Ini masih kisah yang terjadi di dalam tram. Perjalanan dari Port Melbourne menuju Victoria Parade yang memakan waktu sekitar 30 menit, memberi banyak pengalaman untuk direnungkan. Seperti kisah kemarin pagi, masih dalam suasana yang sama, padat dan dingin. Hari itu saya memilih untuk menunggu tram di Graham Street. Keuntungannya adalah menghemat waktu. Kemungkinan kerugiannya adalah tidak dapat tempat duduk. Mengingat waktu sudah beranjak siang, maka pilihan untuk ke Beacon Cove saya kesampingkan. Pilihan bulat saya arahkan kepada Graham Street. Setelah menunggu sekitar satu menit, tram yang diharapkan datang. Sudah seperti yang terduga, kondisi penuh, tak ada lagi bangku kosong tersisa. Pagi hari memang jam yang sangat sibuk. Seolah tiada henti orang-orang ini datang untuk naik kendaraan umum. Padahal Graham adalah perhentian kedua, dan masih akan ada banyak perhentian lagi di depan. Saya memilih untuk berdiri di samping mesin pembelian karcis. Dengan meletakkan tas di antara dua kak…

Tangisan

Mengapa manusia menangis? Tentu ada banyak hal yang meyebabkan seseorang menangis. Membahas hal ini akan sangat melelahkan, dan sepertinya kurang memberi makna strategis . Bagaimana kalau pertanyaannya diubah, meski agak sedikit melankolis. Demikian yang saya tulis.Apa yang membuat seorang lelaki berurai air mata? Sebenarnya menangis alias adalah hak setiap warga. Entah laki-laki, perempuan, atau setengah laki-laki dan setengah perempuan, semua memiliki hak yang sama. Untuk menitikkan air mata. Persoalan menjadi berbeda ketika dalam masyarakat ada yang menabukan seorang lelaki melakukan hal-hal sederhana. Termasuk menumpahkan air mata. Bahkan sejak masih kecilpun dikatakan, “lelaki tidak boleh menangis, lelaki harus kuat perkasa.” Nasihat itu berkhasiat bagai magis. Jarang sekali kita melihat lelaki menangis. Seolah segala perkara bisa ditepis. Toh tidak semua bisa berlaku manis. Tak jarang kita temui beberapa lelaki menangis. Menjadi mengherankan kalau tangisan itu tampak histeris. P…

Ngopi di Sore Hari

Sahabat, musim dingin di Melbourne hampir berakhir. Sebentar lagi musim semi akan mengusir pergi dinginnya udara Melbourne. Di sana sini telah terlihat bunga-bunga menghiasi ranting-ranting yang telah lama gundul. Terkadang mentari muncul dengan teriknya, mengusir kabut yang sedang malas-malasan meninggalkan kota. Seperti hari-hari ini. Mentari tiba-tiba muncul menampakkan kegagahannya. Sayang, ia tidak hadir sendiri. Angin kencang kerap membonceng kehadirannya, sehingga meski mentari berbinar-binar di angkasa, udara tetap duingin tak terkira. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan ikut menghiasi langit. Dingin menjadi satu-satunya penguasa udara sore, bahkan tidak jarang sejak pagi. Saat seperti itu datang, yang terpikir di benakku hanya satu, ngopi! Ya ngopi di tengah udara dingin sungguh menyenangkan. Seperti sore itu. Sepulang sekolah, setelah lelah mengerjakan berbagai tugas, duduk menikmati segelas latte dan sepiring penganan sungguh menyenangkan. Apalagi kalau kamu suka manis, tamb…

Kedai Tanpa Nama

Nama itu penting. Meski ada yang berujar ‘apalah arti sebuah nama’, toh tidak bisa dipungkiri jika nama itu penting. Orangtua memikirkan nama yang terbaik bagi anak mereka. Nama yang mengandung arti, sesuatu yang menyiratkan harapan dan doa-doa. Lihat saja masyarakat Jawa dalam memberi nama anak-anak mereka. Slamet, Rahayu, Ayu, Bagus, dan masih banyak lainnya. Nama-nama tersebut berarti keselamatan dan sesuatu yang indah. Demikian pula nama-nama sebuah usaha, entah apa pun itu. Selalu ada kata-kata yang berkaitan dengan keberuntungan, kebaikan, dan keindahan. Juga ketika berkaitan dengan usaha makanan, akan selalu berkaitan dengan kelezatan dan kenikmatan. Saya tidak akan menyebut merk, karena Anda bisa merangkai sendiri sejumlah nama usaha yang menggambarkan segala kebaikan. Minggu lalu saya bersama dua orang kawan, ngopi di sebuah kedai. Ya, sebutan ‘kedai’ itu tentu saja saya yang menyematkan. Harus saya ingatkan, sesungguhnya kalau saya menyebut kedai, bayangan kita akan melaya…

Cinta di atas Tram

Sahabat, saya adalah penggemar tram dan train. Entah mengapa saya menyukai dua alat transportasi umum ini. Sebaliknya saya kurang menyukai bus. Setelah hamper 10 bulan tinggal di ‘tanah asing’ ini, saya baru naik bus sebanyak dua kali, selebihnya tiap hari saya naik tram dan hampir setiap minggu saya menikmati layanan train. Setiap hari saya menggunakan tram dari Port Melbourne ke Victoria Parade.

Ada banyak cerita di sana. Meski jalan yang saya lintasi selalu sama, terkadang bersama orang-orang yang sama, tetapi tetap saja selalu ada yang baru. Itu sungguh yang menghibur hati. Pagi hari di musim dingin, ketika dengus nafas berubah menjadi uap, dan tangan kaku gemeretak senantiasa datang, kami berjajar rapi menunggu tram datang. Sore hari, setelah jam mendentang lima kali, gegas langkah itu kembali sama. Bahkan lebih banyak, lebih lelah juga. Tak jarang berjejal, asal badan bisa nyangkut di tram, itu cukup.

Tidak setiap hari seperti itu. Terkadang tram atau train itu begitu lega. Banyak…

Belajar Mati

Sahabat, beberapa waktu saya mengadakan corectio fraterna dengan teman-teman yang tinggal bersama di rumah. Inti koreksio ini adalah memperbaiki saudara. Kami saling memberitahu apa yang kurang, apa yang pantas dan tidak pantas yang telah kami buat.
Sungguh seperti yang dikatakan Injil. Teman yang satu memberitahu teman yang lain dengan dasar kasih. Tujuannya adalah menjagakehidupan saudara agar tetap bik dan kehidupan bersama yang lebih baik. Tentu hati ini terasa sakit juga tatkala ditegor, diberitahu kesalahan-kesalahan kita. Mungkin bukan kesalahan fatal. Itu lebih kepada kebodohan-kebodohan kecil. Tetapi kalau kebodohan kecil itu terlalu banyak memang akan mengganggu.
Salah satu yang mereka sampaikan pada saya adalah, ‘saya bukan seperti yang dulu’. Rupanya segala kesibukan dan apa saja yang saya buat telah mengubah saya. Sayang bahwa itu tidak terlalu positif. Artinya, perubahan itu lebih ke arah negative.
Kemudian kami merenung bersama, mencoba melihat satu persatu apa yang ter…