Skip to main content

Kedai Tanpa Nama


Nama itu penting. Meski ada yang berujar ‘apalah arti sebuah nama’, toh tidak bisa dipungkiri jika nama itu penting. Orangtua memikirkan nama yang terbaik bagi anak mereka. Nama yang mengandung arti, sesuatu yang menyiratkan harapan dan doa-doa.
Lihat saja masyarakat Jawa dalam memberi nama anak-anak mereka. Slamet, Rahayu, Ayu, Bagus, dan masih banyak lainnya. Nama-nama tersebut berarti keselamatan dan sesuatu yang indah.
Demikian pula nama-nama sebuah usaha, entah apa pun itu. Selalu ada kata-kata yang berkaitan dengan keberuntungan, kebaikan, dan keindahan. Juga ketika berkaitan dengan usaha makanan, akan selalu berkaitan dengan kelezatan dan kenikmatan. Saya tidak akan menyebut merk, karena Anda bisa merangkai sendiri sejumlah nama usaha yang menggambarkan segala kebaikan.
Minggu lalu saya bersama dua orang kawan, ngopi di sebuah kedai. Ya, sebutan ‘kedai’ itu tentu saja saya yang menyematkan. Harus saya ingatkan, sesungguhnya kalau saya menyebut kedai, bayangan kita akan melayang kepada warung-warung di pinggir kota di Indonesia. Kedai ini tidak di Indonesia, tetapi di kota Melbourne-Australia. Orang bisa menyebutnya café, bar, restaurant, atau apa saja, tetapi saya menyebutnya kedai. Ya, kedai kopi. Karena yang dijual adalah minuman kopi. Tentu saja ada lainnya, tetapi kopi adalah andalannya.
Sebenarnya minggu lalu adalah kali kedua saya ke sana. Sebelumnya saya dengan beberapa teman pernah ke sana. Dengan mengandalkan informasi dari teman lain yang pernah ngopi di sana, kami menjelajah lorong-lorong dan jalanan di sekitar Melbourne untuk mencari kedai tersebut. Awalnya sempat tersesat, karena mengira tempat itu berada di jalan utama. Ternyata tidak, dan kami mesti memutar kembali.
Kali kedua saya datang karena menghantar teman yang penasaran dengan cerita saya. Dia penasaran karena saya memotret kopi yang dihidangkan dan sajian tempat gula serta gelasnya. Hasil fotonya lumayan meyakinkan sehingga kawan saya tertarik. Sekarang tidak tersesat lagi, karena saya sudah tahu tempatnya.
Menjadi persoalan ketika mereka bertanya mengenai nama kedainya. Seperti saya katakana di atas, bahwa memberi nama sebuah tempat usaha adalah sesuatu yang biasa. Bahkan tidak jarang dengan pemilihan jenis huruf dan warna tertentu untuk menarik perhatian. Dan saya tidak berhasil mengingat nama kedai ini.
Sungguh saya tidak berhasil mengingatnya karena ternyata memang tidak ada papan nama yang menunjukkan identitas kedai tersebut. Saya mencoba mengamati dengan cermat setiap sudat dinding, dan memang saya tidak menemukannya. Hanya sebuah tanda tanpa nama.
Yang mengherankan, meski tidak memasang nama, kedai itu selalu ramai dikunjungi orang. Bahkan kedatangan saya yang kedua berbuah sedikit kekecewaan, karena tidak berhasil memesan beberapa menu lantaran kehabisan. Satu tanda bahwa kedai ini ramai dengan pembeli.
Satu hal yang saya pelajari dari kedai ini. Nama memang penting. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting, yaitu kualitas diri. Nama dan ketenarannya, juga kebaikan dan keindahannya, akan terbentuk dengan sendirinya seiring peningkatan kualitas. Kedai itu tidak memasang nama, tetapi namanya dikenal karena mampu menyajikan hidangan yang baik.
Saya ingat sebuah warung ayam panggang di pinggiran Jember. Terletak di tengah sawah, jalanan ke sana pun susah. Tetapi pelanggannya datang membawa mobil, tidak sedikit yang mewah. Omset ayamnya juga banyak bahkan terkesan wah. Tidak ada papan nama di sana, tetapi hampir semua orang tahu kalau ayam panggang di sana rasanya seperti menghentikan aliran darah. Harganya pun murah.
Sekali lagi, sama dengan manusia. Nama dan ketenarannya, juga baik dan keindahannya akan terbangun seiring dengan pengembangan kualitas diri. Tanpa perlu spanduk dan banyak bicara, jika kualitas diri seseorang memang baik, akan tersiar dengan sendirinya. Maka di sini, mengembangkan diri dengan segala kemampuan yang dimiliki jauh lebih mendesak.
Kembali kepada kedai kopi yang saya kunjungi minggu lalu. Karena penasaran, saya juga berusaha memerhatikan suasana suasana dalam kedai. Saya mengambil lembaran daftar menu dan mulai mengamati. Ternyata kedai ini juga memiliki nama. Di atas daftar menu itu tertera nama kedainya.
Hmmm, kedai ini memiliki nama, tetapi tidak mau sekadar memasang nama. Ia lebih suka mengkedepankan kualitas sajian dari pada sekadar memajang nama. Toh akhirnya orang akan tahu dan datang mencarinya.
Bagaimana dengan Anda? Semoga Anda dikenal bukan karena sekadar nama Anda, tetapi terlebih karena kualitas diri Anda. Dan lebih baik lagi jika Anda dikenal Karena sumbangan baik Anda terhadap kehidupan, bukan peran serta Anda dalam merusak kehidupan.
Tuhan memberkati.
Melbourne 19-08-2010

Comments

niniek said…
ketok e uenak tuh kopinya....
Romo Waris said…
bukan hanya ketoke, emang enak kok.
kapan ke melbourne ntar tak antar ke sana.
salam

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …