Skip to main content

Belajar Mati

Sahabat, beberapa waktu saya mengadakan corectio fraterna dengan teman-teman yang tinggal bersama di rumah. Inti koreksio ini adalah memperbaiki saudara. Kami saling memberitahu apa yang kurang, apa yang pantas dan tidak pantas yang telah kami buat.
Sungguh seperti yang dikatakan Injil. Teman yang satu memberitahu teman yang lain dengan dasar kasih. Tujuannya adalah menjagakehidupan saudara agar tetap bik dan kehidupan bersama yang lebih baik. Tentu hati ini terasa sakit juga tatkala ditegor, diberitahu kesalahan-kesalahan kita. Mungkin bukan kesalahan fatal. Itu lebih kepada kebodohan-kebodohan kecil. Tetapi kalau kebodohan kecil itu terlalu banyak memang akan mengganggu.
Salah satu yang mereka sampaikan pada saya adalah, ‘saya bukan seperti yang dulu’. Rupanya segala kesibukan dan apa saja yang saya buat telah mengubah saya. Sayang bahwa itu tidak terlalu positif. Artinya, perubahan itu lebih ke arah negative.
Kemudian kami merenung bersama, mencoba melihat satu persatu apa yang terjadi, apa yang kami buat, apa yang menjadi titik berat hidup kami. Akhirnya kami, terutama saya, menyadari bahwa tidak mungkin kita ini mengejar banyak hal. Kita harus berani memfokuskan pada satu hal dan meninggalkan yang lain. Demikianpun saya, harus berani melihat mana yang paling penting dan meninggalkan yang lain, yang kurng penting.
Di sini saya seperti diajar untuk belajar mati. Kemarin saya berbicara mengenai mati. Harus ada yang dimatikan dalam diri kita ini. Hal-hal buruk yang bercokol, ada banyak dan mesti dimulai membasminya satu persatu.
Saya pun harus belajar mati. Bukan sekadar berbicara dan tidak pernah berupaya. Ya saya akan mulai belajar mati. Mengurangi salah satu hal dalam hidup saya, yang selama ini menjadi kebanggaan, ternyata menggangu proses hidup saya bersama komunitas. Saya harus berani meninggalkannya.
Saya mesti memilih untuk mematikan sesuatu yang saya senangi, yang mulai menjadi ‘kelekatan’ saya. Tidak gampang, ada rasa tidak rela dan tidak mau begitu kuat. Tetapi harus mulai. Satu persatu sumber yang mendatangkan ‘kesenangan diri’ dan menggangu kehidupan bersama harus mulai ditinggalkan.
Sahabat, sungguh saya hendak belajar mati. saya sudah seminggu lebih memikirkan apa-apa yang hendak saya tinggalkan sebagai langkah belajar mati. misalnya yang masuk dalam pemikiran saya, menutup warung ‘Sarapan Pagi ini’. Bahkan jika itu masih kurang, nanti saya akan menutup akun FB saya ini. Tentu kehidupan rohani dan kebersamaan dalam komunitas jauh lebih berharga dari apa yang saya miliki sekarang ini.
di sini saya perlu mendengarkan orang-orang dekat yang tinggal bersama dengan saya. mereka yang secara nyata selalu berinteraksi dengan saya, bukan mereka yang jauh. mungkin yg saya lakukan itu hal positif bagi banyak orang, tetapi kalau mengganggu kehidupan bersama dengan orang-orang di sekitar saya, saya harus mengkaji ulang, saya mesti ebrani melepaskan.
di sinilah kami dengan tenang dan dalam keheningan, berusaha mencari dan menemukan apa yang terbaik. di bawah empat mata, dari hati ke hati. semoga proses meditasi ini membuahkan sesuatu yang baik, yang mengembangkan kehidupan.
Saya sungguh percaya di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan, Dia sendiri hadir di sana. dan kami secara intensif berkumpul dan berdoa mencari hal terbaik. koreksio fraterna, sebagai usaha kami membangun kehidupan komunitas dan kehidupan pribadi yang baik. kehidupan nyta, riil, bukan kehidupan maya.
Tuhan, ajari anakmu ini iman dan keheningan hati untuk melihat kehendak-Mu yang lebih besar. Saya akan mulai belajar mati, sebelum kematin yang sesungguhnya datang.
Tuhan memberkati.
Melbourne, 11-08-10
Romo Waris, O.Carm

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …