Skip to main content

SARAPAN : Diet, Budaya, dan Kuliah

Sarapan ,  bagi sebagian orang tidak begitu penting. Sebagian orang yang lain menganggap sangat penting. Sarapan yang baik akan menghiasi seluruh hari dengan nuansa yang baik juga. Sarapan yang buruk akan membawa bencana pada hari itu. Tentu yang baik dan buruk bukan hanya soal rasa yang di makan, tetapi juga soal suasana hati dan setiap hati yang hadir di meja makan.

Bagi saya, sarapan adalah hal yang sesuatu banget. Waktu sarapan bukan hanya menjadi waktu bersosialisasi tetapi juga waktu untuk belajar. Belajar banyak hal, terlebih mengenai manusia, mereka yang bersama-sama hadir mengelilingi meja makan. Entah mengapa, sarapan jauh lebih menarik dari makan malam. Karena berisi harapan untuk sepanjang hari ini.

Seperti sarapan pagi ini. Kami bertujuh mengelilingi meja makan yang bundar, maka tepat untuk mengatakan mengelilingi. Masing-masing dari kami memiliki cara unik untuk memanjakan diri di pagi hari. Misalnya Tom dari Amerika yang akan pergi ke China sebagai volunter. Dia akan mengajar di salah satu sekolah yang dikelola oleh romo-romo Maryknoll. Biasanya dia menyantap semua yang ada. Namun ada yang unik dari cara Tom menyantap. Misalnya bagaimana dia menikmati cereal. 

Dia tidak menyantap cereal dengan susu sebagaimana pada umumnya. Dia menyantap cereal dengan sesuatu yang lebih kental yang lebih manis. Misalnya dengan jus buah ara, atau dengan yogurth. Bahkan roti bakarpun dia santap dengan sesuatu yang lebih manis dari yang lain. 

Lain Tom, lain Julie. Dia juga akan ke Chna sebagai volunter juga. Seperti umumnya perempuan, dia sangat menjaga volume makan. Dia menyantap serba sedikit apa yang terhidang di sana. Karena dia satu-satunya perempuan di meja makan, maka dia berusaha menyantap dengan sangat pelan, agar tidak terlalu cepat selesai.

Lain pula dengan sahabat saya Romo Heru Purwanto. Beliau selalu mengawali sarapan dengan menyantap sebutir apel. Terkadang masih ditambah dengan sebutir jeruk. Setelah selesai barulah membakar dua lembar roti yang akan disantap dengan selai. Terkadang juga diberi pisang. Setelah roti yang disantap sudah akan habis, barulah beliau membuat the sebagai minuman. Oh iya, beliau juga sangat menggemari telur rebus 1/2 matang. Terkadang telur itu dia taruh di atas roti, atau disendok, disantap begitu saja.

Father Bary memilki cara tersendiri menikmati sarapan. Beliau selalu mengawali sarapan dengan semangkok sereal. Yang istimewa, beliau selalu menyertakan buah segar dalam mangkok serealnya, dan hanya separoh. Jika apel, ya hanya separuh, kalau pisang ya hanya separuh. Saya suka menggoda, mengapa hanya separuh, toh kalau dihabiskan juga ga masalah, karena kalau hanya makan separuh, yang separuh akan terbuang. Kecuali ada yang suka rela mengambil yang separuh. Kemudian, beliau menikmati serelanya sambil menggigit roti bakar yang dibuat gosong. Dia selalu suka yang gosong. Jadi tangan kanan memegang sendok untuk menyuap sereal, sedang tangan giri memegang roti yang akan digigit setelah suapan sereal selesai ditelan. Asyik!

Oh iya, bagaimana dengan saya? Cara saya menikmati sarapan sangatlah biasa. Sebenarnya saya suka sarapan dengan nasi pecel dengan kerupuk atau rempeyek atau dengan sayur blendrang atau dengan nasi goreng. Tetapi semuanya itu hanyalah kenangan dan harapan. Pada nyatanya, di tempat kost saya yang ala Amerika ini, saya harus menyesuaikan diri. Inilah cara saya menikmati sarapan.

Pertama, saya berdoa. Hahahaha, kemudian mengambil sebutir jeruk. Saya mengupasnya dengan pisau seperti halnya mengupas apel, bukan membukanya dengan tangan. Saya suka meninggalkan bagian putih dari kulit jeruk. Kemudian saya membelahnya menjadi dua bagian, kemudian memotong-motong menjadi bentuk dadu. Lalu menyantap satu persatu. Cara ini sangat berbeda dari cara kebanyakan orang menikmati jeruk. Alasan saya sederhana, saya suka bagian putih dari kulit jeruk. Itu saja.

Kemudian saya membakar english muffin. Kemudian mengolesnya dengan butter. Separuh muffin, setelah saya oles dengan butter, akan saya beri selai blueberry. Sedangkan yang separuh hanya saya santap dengan butter saja. Pikiran saya sederhana. Saya membutuhkan manis dari selai untuk energi, dan saya tidak ingin kehilangan rasa muffin bakar dan butter oles. Hmmmm, nikmat.

Biasanya, sambil menunggu muffin terbakar sempurna, saya menyiapkan kopi. Kopi yang saya minum cukup sederhana. Pertama, mengambil cangkir. Kemudian mengambil cream, sesendok cream. Lalu saya tuangkan kopi yang sudah tersaji di alat pembuat kopi. Tanpa mengaduknya, saya nikmati kopi sesruput demi sesruput. hmmm, mantap.

Oh iya, di meja makan ada satu romo yang selalu mendominasi dengan cerita-cerita. Kebanyakan adalah cerita kehidupannya sendiri. Pengalamannya selama ini. Umurnya sudah 85 maka ceritanya banyak sekali, meskipun terkadang ceritanya diulang-ulang. Tetapi saya seperti mendapat kuliah gratis selama satu jam tentang kehidupan, tentang nilai-nilai dan tentang budaya.

Inilah aktivitas sarapan yang kami jalani setiap hari. Oh iya, di mana diet, budaya dan kuliahnya? Seperti yang saya ceritakan di atas, masing-masing dari kami memiliki cara makan yang berbeda. ternyata ada alasannya sendiri-sendiri. Misalnya Romo Heru, beliau mengatakan, mengapa selalu mengawali sarapand engan sebutir apel dan sebutir jeruk? Karena itu adalah cara baru dalam berdiet. Buah adalah makanan yang paling sederhana dan mudah dicerna oleh perut. Maka sangat baik sebagai dasar daripada sebagai penutup.

Perbedaan cara menyantap juga menjadi gambaran budaya yang dibawa. Tom, yang melihat Romo Heru dan saya sendiri memiliki urutan makan yang hampir sama bertanya apakah ini budaya orang Indonesia sarapan seperti itu. Tentu saja saya jawab bukan. Kami orang Indonesia pada umumnya sarapan dengan nasi. Pada umumnya, karena tidak semua orang Indonesia makan nasi. Nasi sendiri lebih suka sarapan dengan nasi pecel. Ternyata, memahami cara makan seseorang juga membantu memahami orang tersebut.

Kuliah yang saya dapat juga selalu berbeda, meskipun dosennya sama. Terkadang kuliah berakhir dengan derai tawa, terkadang dengan hening permenungan. Misalnya kemarin pagi. Romo yang selalu berberita itu mengisahkan kenangan pahit saat sahabatnya meninggal. Dia bercerita bahwa dia adalah orang yang "out of ordinary", orang yang nggak biasa. Temannya juga sama, orang yang terkadang dianggap aneh. Mereka bersahabat sangat erat. Dua tahun yang lalu saat sahabatnya meninggal, dia sendiri sedang terbaring sakit parah. Sahabatnya itulah yang sebenarnya sedang mengurus dia. Tetapi rencana Tuhan berbicara lain. Dia yang mengurus, dia pula yang pergi terlebih dahulu. Romo ini bercerita kejadian-kejadian kecil yang terjadi antara mereka berdua, dengan sesekali suaranya tersekat di leher karena kesedihan. Bahkan air mata juga meleleh. Kami yang di sekitar meja duduk terdiam, dan memberi peneguhan. 

Dia menutup kuliahnya dengan berkata, cinta, penederitaan dan kematian adalah misteri. Semisteri rasa yang dibawanya. Cinta dan persahabatan meninggalkan jejak rasa yang tak akan hilang bahkan setelah dipisah kematian. Kematian itu sendiri, meski sangat menyakitkan, tak akan mampu meluluhkan rasa cinta yang pernah ada. Semuanya misteri. Semisteri hidup itu sendiri.

Itulah sarapan kami.

Hong Kong, 21 Agustus 2014   


Comments

yusi yustina said…
pagi mo

makasih renungaannnya

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …