Skip to main content

Terjadilah padaku menurut ...

Hari ini Gereja di Indonesia merayakan Maria Diangkat ke Surga (MDkS). Perayaannya sendiri jatuh pada tanggal 15 Agustus, pada hari Jumat. Menurut kebiasaan, hari raya tersebut dirayakan pada hari Minggu terdekat. Berhubung hari minggu terdekat adalah tanggal 17, yang adalah hari kemerdekaan Indonesia, maka perayaan MDkS dilakukan pada hari Minggu 10 Agustus.


Saya tidak akan bercerita mengenai "mengapa ada perayaan Maria diangkat ke surga." Saya hanya ingin berbagi cerita hal-hal yang biasa saja, bahkan sangat biasa. Saya ingin bercerita mengenai ungkapan Maria yang sangat terkenal, "aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu."

Sekadar mengingatkan, ungkapan tersebut diucapkan Maria setelah ia menerima kabar dari malaikat Gabriel. Kita menyebutnya kabar suka cita, tetapi bagi Maria adalah kabar yang sangat menakutkan. Ada banyak hal yang sangat menakutkan, salah satunya adalah ancaman hukuman mati. Karena akan memiliki anak, sebelum bersuami.

Namun, ketidakmengertian dan ketakutan itu tidak tidak membuat Maria kehilangan iman. Maria tetap menyadari siapa dirinya dan bagaimana perannya. Maka dia hanya bisa berucap, "aku ini hanyalah alat ditangan Tuhan. Dia telah membuat aku untuk maksud tertentu. Biarlah semuanya terjadi seturut apa yang direncanakan-NYA."

Sikap iman yang sangat sederhana, namun sangat mendalam sekaligus sangat sulit untuk diikuti. Bagaimana Maria bisa berpasrah dengan mudah. Bagaimana Maria bisa menyerahkan seluruh hidupnya pada penyelenggaraan Tuhan. Ini tidak gampang, apalagi bagi manusia modern yang penuh dengan pemikiran-pemikiran modern. Menyerah kepada kehendak Tuhan sama halnya dengan mematikan daya pikir manusia. Bagi banyak orang itu tidak mungkin.

Kehendak Tuhan tidak selalu "manis"

Ada yang menyangka bahwa kehendak Tuhan itu akan selalu terasa manis. Saya sangat percaya bahwa kehendak Tuhan tidak selamanya terasa manis. Cerita mengenai tukang periuk dan tanah liat ditangannya bisa menggambarkan hal tersebut.

Manusia itu superit tanah liat di tangan tukang periuk. Hendak menjadi apa tanah liat itu sungguh sangat tergantung dari kehendak si tukang periuk. Ada kalanya tanah liat itu kelak menjadi sebuah vas bunga yang indah atau gucci yang mahal harganya. Ada juga yang hanya menjadi pot bunga biasa atau menjadi periuk nasi yang murah harganya.

Semakin cantik tembikar yang dihasilkan, semakin sulit proses yang dilalui. Tembikar itru harus dibakar berkali-kali. Tidak cukup hanya melalui sekali proses. Biasanya lebih lama dan lebih mendetail. Bagaimana kalau ada kerusakan di tengah proses yang sedang berjalan? Paling gampang adalah menghancurkan bahan tersebut dan membuatnya ulang.

Itulah gambaran manusia di tangan Tuhan. Kita percaya Tuhan memiliki rencana yang indah atas hidup kita, namun kerap kali kita tidak sabar. Kita tidak sabar diproses, dibakar agar menghasilkan warna dan kualitas yang indah. Kita tidak ingin merasakan panas dan sakit. Akhirnya kita hanya menjadi periuk-periuk biasa yang murah harganya.

Maria sejak awal sudah menyadari bahwa dirinya hanyalah tanah liat di tangan Tuhan. Biarlah semuanya terjadi atas kehendak Tuhan yang membuat tanah liat sesuai dengan keinginannya. Berontak dan berusaha lepas dari tangan Tuhan hanya membuat hidup makin tidak karu-karuan.

Maka Maria tidak takut menghadapi banyak bahaya. Juga tatkala harus menghadapi banyak kesulitan karena berusaha menjalankan kehendak Tuhan dengan baik. Mulai dari proses kehamilan, kelahiran, dan bagaimana mengasuh Yesus. Semua dia jalani dalam semangat menjalankan kehendak Tuhan.

Tidak selamanya kehendak Tuhan itu bisa dimengerti dengan baik. Dalam banyak kesempatan, kehendak Tuhan itu terasa gelap. Berjalan dalam kehendak dan rencana Tuhan itu seperti berjalan dalam lorong yang gelap. Kita hanya perlu terus berjalan ke depan. Bahkan ketika kita tidak melihat ada titik terang di sana, tetapi kita percaya ada ujung yang indah. Itulah berjalan dalam iman.

Terjadilah padaku menurut rencanaku

Membandingkan sikap Maria dalam menjalani kehendak Tuhan dengan sikap kita sehari-sehari, kerap tidak sebanding. Sungguh sangat sulit untuk bisa menjalani kehendak Tuhan dengan sederhana. Kerap kita protes dan tak henti-hentinya mengajukan proposal. Sehingga semangat "terjadilah padaku menurut kehendak-Mu" telah berubah menjadi "jadikanlah padaku menurut apa yang aku kehendaki".

Bahkan ketika dalam doa Bapa Kami, kita selalu berseru, "jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga," kita tetap berhasrat agar seluruh rencana-rencana kita yang terjadi. Maka tidak mengehrankan ada banyak orang yang marah dan kecewa, karena merasa Tuhan tidak mendengarkan dia. Bahkan dalam hidup mengegreja terjadi perpecahan, saling sikut hanya demi kepentingan pribadi. Mereka lupa bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi.

Maka, hari ini ketika kita merayakan MDkS, Maria Diangkat ke Surga, kita belajar untuk bisa beriman seperti Maria. Jadilah padaku menurut kehendak Tuhan. Kita belajar untuk bisa melihat hal-hal indah dalam setiap tapak kehidupan yang sudah kita lalui. Melihat jejak-jejak rencana Tuhan di sana. Yang dibutuhkan adalah mata yang bening dan hati yang hening untuk bisa mendengarkan dan melihat setiap rencana Tuhan. bahkan dalam situasi yang pahit sekalipun.

Hong Kong, 10 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …