Skip to main content

Tarik Menarik ....

Nasi Goreng Pete
Hari Minggu kemarin, 17 Agustus, mestinya menajdi hari yang menyenangkan. Persis seperti di masa lalu, ketika masih kecil dulu. Setiap kali menyambut 17 Agustus, hati selalu riang. Sudah terbayang berbagai perlombaan yang menyenangkan. Bukan persoalan menang dan mendapat hadiah yang utama, tetapi larut dalam kegembiraan itu yang utama.


Tetapi kemarin semuanya berbeda. Tanggal 17 Agustus jatuh pada hari Minggu. Teman-teman di Indonesia, teman-teman imam maksud saya, merayakan 17 Agustusan bersama dengan umat. Karena Gereja Indonesia menjadikan tanggal 17 Agustus sebagai hari raya, hari Kemerdekaan. Tetapi saya sedikit kurang beruntung. Harus merayakan dua kali Misa namun bukan dengan umat Indonesia, kebanyakan malah dengan umat Philipina. Sedikit mengenaskan.

Mengenaskan karena waktu yang mepet dari satu misa ke misa berikutnya. Harus berlarian mendaki bukit meski panas begitu terik. Meskipun begitu, meskipun sudah harus mandi keringat, misa kedua tetap tak terkejar sesuai waktu biasanya. Terpaksa misa harus diundur 30 menit, toh masih belum terlaksana. Maafkan. 

Tarik menarik kepentingan 1

Misa pertama yang saya persembahkan adalah misa paroki, di Paroki St. Margareth Causewaybay. Jadwalnya adalah jam 12.30 siang. Karena misa berbahasa Inggris, saya bisa menyelesaikannya dalam waktu 55 menit. Bukan karena ngebut, tetapi karena doa-doanya pendek, tidak banyak nyanyian, dan khotbahnya juga pendek. 

Selesai misa saya tidak sempat menemui umat untuk bersalam-salaman. Saya harus segera lari menuju tempat kedua. Jadwalnya adalah jam 13.30 dan diundur menajdi jam 14.00. Tempat kedua ini adalah misa komunitas. Salah satu komunitas Philipina di Hong Kong. Harap dicatat, di Hongkong ada begitu banyak komunitas orang Philipina. Mereka misa di kapel sekolah atau center yang berhasil mereka dapatkan.

Misa kedua ini tempatnya di St. Joseph College, bersebelahan dengan Paroki St. Joseph Central. Harusnya saya naik taksi dari Causewaybay, tetapi saya naik MTR. Karena saya tidak tahu alamatnya, hanya tahu tempatnya saja. Maka saya naik MTR dari Causewaybay ke Admiralty station. Jalan kaki dari Gereja ke stasiun dan dari stasiun ke kapel sudah memakan waktu cukup lama. Ditambah panas yang begitu terik, alhasil baju saya basah kuyup. Oh iya, ditambah lapar.

Akhirnya saya berhasil tiba di kapel jam 14.15, membersihkan keringat sebentar dan langsung mengenakan alba dan mulai perarakan misa. Meski waktunya sudah terlambat, saya tidak mempercepat misa, saya tetap menjalankan seperti biasa, dan khotbahnya sedikit panjang. Karena saya menggunakan catatan, dan menambah beberapa, setelah belajar dari khotbah pertama.

Tarik menarik kepentingannya adalah antara kepentingan kelompk Philipina tersebut dengan paroki lokal. Ketika mereka menghubungi saya, saya sudah memberitahu bahwa saya memiliki misa yang jadwalnya sangat mepet. Tetapi mereka tetap ngotot. Dengan beralasan tidak mendapatkan pastor, mereka rela mengundur jadwal misa.

Saya sebenarnya ingin menolak dengan menjawab, "mengapa kalian tidak misa di paroki saja. Toh paroki dengan tempat kalian misa hanya 25 meter saja?" Tetapi saya tidak mengatakan itu. Saya mengiyakan saja karena merasa sedikit kasihan. Tetapi belajar dari pengalaman kemarin, saya berjanji akan menolaknya di kemudian hari. Terlalu mepet, terlalu riskan, dan semuanya menjadi tidak sempurna.

Tarik menarik kepentingan 2

Selesai Ekaristi dengan kelompok Philipina di Central, saya kembali menuju Causewaybay. Kali ini saya ingin bergabung dengan teman-teman KKI yang merayakan 17-an. Saya berpikir ingin menggunakan MTR lagi. Ternyata saya kesulitan mencapai pintu MTR karena adanya pawai kelompok masayarakat "Anti Occupy Central".

Oh iya, dua tahun lagi Hong Kong akan ada pemilu juga. Sekarang ini sedang ada dua kelompok yang saling berhadapan. Yang pertama adalah kelompok "Occupy Central". Mereka didukung oleh kelompok yang menginginkan demokrasi yang lebih. Sebagai catatan, Hong Kong adalah negara dengan dua sistim pemerintahan. Di satu pihak mereka otonom, dalam segala hal. Namun di pihak lain pemerintah China juga memegang peran penting. Kelompok Occupy Central menginginkan kebebasan yang lebih.

Sekarang muncul kelompok yang melawan kelomok pertama. Mereka menamakan diri Aliansi untuk Demokrasi dan Perdamaian. Kelompok ini lebih condong kepada pemerintah China. Tentu dengan berbagai alasan dan kepentingannya. Cara merekrut anggota juga agak kasar. Mereka "memaksa" banyak pihak untuk bergabung. Dengan iming-iming kata demokrasi dan perdamaian, mereka menjaring pengikut. Bahkan banyak juga orang yang tidak tahu menahu, mengapa mereka di sana. Ada banyak orang dari Senchen datang untuk berbelanja, tetapi tiba-tiba sudah masuk ke dalam long march.

Saya tidak ingin masuk ke dalam tarik menarik kedua kelompok tersebut. Meskipun saya memiliki kepentingan karena saya tinggal di sini. Tentu saya lebih mendukung kelompok yang pertama, yang Occupy Central. Tetapi saya tidak akan membahasnya. Saya hanya ingin mengatakan, tarik menarik kepentingan kedua kelompok ini telah menghambat langkah saya untuk tiba di st. Paul tepat waktu.

Tarik menarik kepentingan 3

Sesampai di St. Paul, di mana teman-teman KKI sedang merayakan 17-an berada, acara sudah berlangsung lama. Saya melihat tidak begitu banyak orang. Saya kemudian mencari tempat duduk, untuk duduk. Setelah duduk, saya dihampiri oleh seorang ibu. Oh iya, jangan salah, yang berkumpul di sana saat itu 99% ibu-ibu atau calon ibu. Setelah berbisik-bisik sebentar dia pergi. Jam sudah menunjukkan angka 16 lewat hampir 30 menit. Perut saya sudah lapar. Bahkan saat misa yang keduapun saya sudah lapar sekali. 

Sejurus kemudian ibu tadi datang dengan satu termos kecil. Saya segera membongkarnya. Isinya nasi goreng pete, pesanan saya dua minggu yang lalu. Tanpa ba-bi-bu saya menyantap nasi goreng tersebut. Saya juga tidak menawari orang-orang di sekitar saya. Karena saya tidak melihat ada orang di sana. Saya hanya melihat bayangan-bayangan. 

Sesuap demi sesuap nasi goreng di termos kecil itu akhirnya berpindah ke perut saya. Setiap kali suapan nasi masuk ke mulut, segera saya menggigit pete yang senantiasa ada di setiap sendokan. yang menggoreng nasi ini sangat murah hati. Petenya banyak sekali. Sudah lama saya mengidamkan ini, akhirnya kesampaian juga.

Saat saya menikmati nasi goreng pete tersebut, saya merasa sangat bebas. Saya tidak malu dan takut bahwa nanti bau mulut saya akan bau pete. Saya juga tidak takut ada yang jijik atau sejenisnya. Saya hanya menikmati. Saya lepaskan kejaiman saya, saya lepaskan semua yang nggak penting. Saat itu hanya menikmati nasi goreng pete. Meredeka!!

Setelah nasi hampir habis tenaga saya mulai pulih. Pandangan saya mulai pulih, juga pendengaran saya mulai pulih. Saya bisa melihat, ternyata ada begitu banyak orang di sekitar saya. Rupanya ada yang sedang berpentas di depan sana. Mereka menyanyi dan menari, tetapi saya sibuk dengan nasi goreng pete di  tangan. 

Mulai ada tarik menarik antara malu karena makan tanpa permisi dan meneruskan makan karena tanggung. Tarik menarik antara mengabadikan moment di panggung dengan menghabiskan makanan yang tinggal beberapa suap.

Penutup

Tarik menarik selalu terjadi karena ada dua kepentingan yang saling bertentangan. Masing-masing  merasa kepentintingannya selalu yang paling urgent, yang paling penting. Terkadang karena tarik menarik itu, ada pihak-pihak yang dirugikan. Maka 17 Agustus kali ini saya belajar satu hal. Apa kepentingan saya sehingga harus menarik dan merugikan kepentingan orang lain? Karena kalau saya terlalu banyak kepentingan, jangan-jangan saya menjadi orang yang tidak meredeka, tidak free lagi, terlalu banyak "cantelan" yang ada. Mengapa tidak saya lepaskan saja kepentingan-kepentingan itu, agar tidak tarik menarik? Mengapa tidak saya lepaskan saja ketakutan-ketakutan, gengsi-gengsi, seperti saat saya menikmati nasi goreng pete.

Hong Kong, 19 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …