Skip to main content

Lupa bilang small

Siang tadi saya makan di rumah makan Vietnam bersama dengan satu keluarga dari Malang, kota asal saya. Kebetulan suami istri tersebut datang mengunjungi anaknya yang sudah menetap di Melbourne. Beberapa hari yang lalu mereka mengontak untuk bertemu. Sayang waktu tidak memungkinkan, jadi baru hari ini terlaksana.

Kami berlima masuk di sebuah resto Vietnam yang Pho-nya lumayan otentik. Saya bisa mengatakan demikian karena sebelumnya pernah makan bersama seorang teman yang menganalisa menu tersebut dari berbagai sisi. Tentu saja hari ini saya memesan semangkuk Pho dengan kombinasi rasa yang saya suka.

O iya, ukuran menu di Melbourne, mungkin juga di seluruh Australia (saya tidak yakin), itu besar-besar. Saya membutuhkan waktu delapan bulan untuk bisa menyesuaikan dengan ukuran porsinya. Kata teman-teman saya, itulah sebabnya orang sini besar-besar, karena porsi makannya besar-besar. (kemungkinan besar ini tidak benar).

Ketika makanan dihidangkan saya sedikit tertegun. Dari kami berlima hanya saya yang mangkuknya paling besar. Ketika saya bertanya mengapa mangkuk saya paling besar, mereka menjawab bahwa mereka tadi memesan menu plus ukuran, small.

Yahhh, saya lupa mengatakan small, jadi diberi ukuran standart. Sebenarnya ukuran itu sudah mampu saya habiskan, tetapi menjadi sedikit malu karena yang lain makan ukuran kecil. Lagian, dengan porsi sebesar itu perut akan menjadi sangat penuh. Akibatnya pergerakan menjadi kurang lincah lagi.

Tahu ukuran

Teman-teman saya, yang biasanya makan siang bersama mengatakan bahwa ukuran perut saya kecil. Karena mereka melihat porsi makan bontotan saya sedikit. Hal ini sebenarnya bukan ukuran yang tepat. Karena saya membawa bekal makan sesuai dengan yang tersedia di rumah. Jika makan malam kami melimpah, maka keesokan harinya saya bisa membawa bekal yang cukup. Tetapi jika makan malam kami pas-pasan saja, maka saya hanya membawa bekal sedikit saja.

Berangkat dari kebiasaan ini saya menemukan ukuran yang pas untuk perut saya. Sebelum tahun ini, saya memiliki kebiasaan makan siang dengan porsi besar. Hmmm, sebenarnya sulit mengatakan besar atau tidak, karena ukuran makan pagi, siang, dan malam hampir sama. Maksudnya, sama besarnya.

Maka tidak mengherankan kalau berat badan saya begitu besar waktu itu. Sempat mencapai angka di atas 85 dengan tinggi di bawah 170 tentu kurang nyaman untuk berlarian. Setelah setahun hidup bersama kaum migrant, perlahan namun pasti berat badan saya berkurang. Satu bulan bisa berkurang sekitar 1200 gram. Sehingga setelah satu tahun, berat badan saya bisa kembali ke angka di bawa 70 kg. Hmmm, puji Tuhan.

Bukan karena stress jika berat badan saya menyusut demikian banyak, melainkan karena pola hidup yang berubah. Terlebih pola makan yang lebih sehat dan sesuai dengan ukuran. Ukuran di sini tidak saja mengacu kepada kuantitas, tetapi juga kualitas. Misalnya, untuk karbohidrat, protein, vitamin, dll, diusahakan seimbang.

Saya juga tidak mengikuti program diet dengan menakar setiap apa yang saya makan, saya hidup biasa seperti orang-orang setempat hidup. Pagi hari hanya menyantap roti dua potong, siang hari makan seadanya, sedangkan malam hari makan cukup besar.

Yang pasti saya jarang makan nasi. Asupan karbohidrat saya dapatkan dari roti maupun kentang, juga ketela dan labu kuning. Semua sesuai dengan ukurannya. Ditambah dengan banyak bergerak dan istirahat yang cukup, badan saya terasa lebih sehat.

Jangan terlalu

Saya sadar, segala hal yang dilakukan sesuai dengan ukuran akan membuahkan sesuatu yang baik. Sebaliknya sesuatu yang dilakukan berlebihan juga akan menghasilkan sesuatu yang buruk juga. Hal yang sebenarnya baik pun jika dilakukan berlebihan menjadi kurang baik lagi. Tahu batas, tahu ukuran, rupanya salah satu cara dalam melakukan sesuatu untuk menghasilkan yang indah.

Sebuah nasihat lama kembali bergema di hati saya. Kalau kamu tidak suka, janganlah terlalu besar membenci, siapa tahu nanti kamu menyukainya. Agar tidak malu kalau harus mengatakan suka. Sebaliknya, kalau sedang suka jangan terlalu besar mencintainya, agar tidak terlalu sakit jika nanti berpisah.

Hmmm, kok jadi begini? Kok menjadi setengah-setengah? Lantas, di mana letak kesungguhan dan kepenuhan? Sungguh mencinta denga penuh. Dengan segenap hati. Dengan sepenuh jiwa raga?

Waduh, kok saya jadi melankolis tidak jelas begini ya. Hmmm, tentu mencinta haruslah sepenuhnya. Namun tetaplah menjaga kesadaran. Tetaplah hidup dalam batas kewajaran. Sadar dan wajar dalam melangkah dan melihat. Sadar dan wajar dalam berbuat dan bersikap. Cintailah sepenuh hati, namun jangan terlalu. Berikan ukuran yang sepantasnya dan secukupnya.

Nahhh, ini yang sulit, memberikan yang sepantasnya dan secukupnya. Karena berapakah ukruan cukup? Apalagi kata cukup dalam mencinta. Apakah Anda tahu ukurannya? Berapakah cukup itu? Saya kok jadi bingung.

Kalau ukuran saya kecil itu kecil saja. Tapi siang tadi saya lupa bilang small. Jadinya sekarang perut saya sebah tidak karuan. Ini juga karena saya tidak bisa berkata cukup. Saya harus sadar kalau ukuran saya memang kecil, jangan berlagak besar. Bagaimana dengan kalian?

Comments

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …