Skip to main content

catatan natal

Sahabat, beli bantal di kaki lima,
selamat Natal untuk kalian semua.

Ada dua catatan yang saya berikan, hmmm, kalau ntar nambah lagi juga ga papa. Sekarang saya bagikan dua catatan yang saya buat di kompasiana.

Ini pertama kali saya mencoba menggunakan tautan untuk catatan, semoga berhasil. kalau nanti gagal berarti harus menggunakan cara biasa.

Catatan pertama: Robeklah hatimu.
Saya merenungkan makna kelahiran Yesus, yang mestinya lahir di dalam hati kita. Sayang bahwa hal itu kerap kali gagal, karena hati kita banyak tertutup oleh sesuatu yang tidak terlalu penting. Agar kita sungguh bisa memberi ruang bagi Yesus agar lahir di sana, maka penutup hati itu mesti kita robek.
catatan lengkapnya klik saja di sini.

Catatan kedua: Suami - Istri Idaman.
Saya merenungkan pesta Keluarga kudus dengan mengambil sosok Yusuf sebagai titik berefleksi. Bagaimana dia menjadi pribadi yang sungguh pantas dipilih Allah menajdi bapak angkat Yesus, karena ia sosok yang dewasa dan bisa dipercayai, karena ia mampu memercayai.
catatan lengkapnya klik di sini.

Sahabat, dua catatan kecil ini semoga bisa menemani Natal kalian.

Tuhan memberkati.


Comments

niniek said…
tinggal sehari lagi, menjelang 2011, romo, (selamat tahun barunya besok aja yah.)
salam
Romo Waris said…
hahahaha,
aku terlambat setangah bulan membuka ini.
selamat di tahun yang baru

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …