Skip to main content

Tuhanku dicuri

Sahabat, natal tinggal seminggu lagi. Ada banyak kejadian telah kita alami. Semoga semuanya menghantar kita kepada persiapan yang hakiki dan sejati. Saya bagikan tulisan yang juga saya muat di media social kompasiana.com. Semoga membantu permenungan kita.

Membaca berita mengenai hiasan pohon natal di Abu Dhabi – Uni Emirat Arab, saya menjadi sedih. Kesedihan saya ini mungkin terlalu subjektif sifatnya, tetapi penting bahwa saya masih bisa sedih. Tentu penting bagi saya sendiri dan belum tentu penting bagi orang lain.

Ada beberapa alasan mengapa saya sedih. Pertama, banyak orang melakukan sesuatu tanpa memahami makna yang sebenarnya. Kedua, mereka telah membawa makna religius kedalam dunia bisnis. Ketiga, Tuhanku telah dicuri.

Aksesoris vs Esensi

Setiap memasuki bulan Desember, kota Melbourne mulai merawat diri dengan berbagai hiasan bernuansa natal. Berbagai hiasan dengan dominasi warna merah dan hijau mulai semarak mengepung kota. Bahkan sepanjang jalanan di CBD penuh dengan hiasan bintang warna-warni. Juga pohon natal berdiri megah di berbagai sudut kota. Itu belum terhitung yang tersaji di dalam setiap pusat perbelanjaan.

Apakah yang mereka lakukan ini sungguh menggambarkan suasana natal? Sebenarnya tidak sepenuhnya. Berbagai aksesoris, hiasan, parade pesta, juga pesta diskon besar-besaran; bukanlah hal yang pokok dalam natal. Itu sungguh hanya hiasan, dan bukan intinya. Itu hanya bungkus, dan bukan isinya.

Apakah berbagai bungkus itu mampu mengantar kepada isi? Seharusnya demikian. Tetapi ternyata tidak selalu demikian. Ada sebagian masyarakat yang berhasil mencapai tujuan dengan jalan seperti itu. Menghias rumah mereka dengan berbagai atribut natal membantu mereka merayakan natal dengan khusyuk. Tetapi itu hanya sebagian kecil. Sebagian besar lagi hanya terjebak dalam meriahnya pesta.

Menyedihkan, karena bungkus dan berbagai aksesoris natal telah menjebak banyak orang. Bahkan bukan hanya menjebak, ia telah membawa banyak orang menjauh dari makna perayaan yang sebenarnya, menjauh dari esensi natal yang sesungguhnya. Di mana ada kesederhanaan, kegembiraan, dan semangat berbagi dengan yang menderita. Jauh dari hingar bingar pesta.

Bisnis vs Religius

Tahun lalu, ketika saya baru pertama kali melihat suasana kota Melbourne di bulan Desember, saya berpikir bahwa mereka ini sungguh religius. Mereka merayakan natal bukan hanya pada perayaan di Gereja, tetapi di seluruh penjuru kota. Nyatanya tidak demikian.

Perayaan natal di Gereja tidak memiliki hubungan sama sekali dengan berbagai perayaan di berbagai sudut kota. Berbagai hiasan yang saya catat di atas, tidak mencerminkan sikap religius masyarakatnya sama sekali. Itu murni gambaran bisnis.

Maka, ketika ada berita mengenai hiasan natal di Abu Dhabi, itu juga tidak ada kaitan sama sekali dengan religiusitas. Itu murni urusan bisnis. Hal yang mirip dengan yang terjadi di Hotel Emirate Palace juga ada di sini.

Setiap tahun pusat perbelanjaan Myer, selalu menggelar acara parade natal. Kemudian, mereka menghiasi setiap jendela tokonya dengan berbagai aksesoris yang lucu dan menarik. Setiap kotak jendela mengisahkan satu cerita. Mereka juga membuat satu gambaran mengenai kelahiran Yesus di salah satu jendela. Tepatnya ada di ujung.

Masyarakat yang ingin melihat apa yang tersaji di jendela itu begitu banyak. Karena banyaknya mereka harus mengantri sampai panjang. Persis seperti orang mengantri mendapatkan barang gratis. Namun malang bagi jendela yang menggambarkan kelahiran Yesus, sedikit sekali orang yang datang menengoknya.

Mungkin jendela yang menggambarkan kelahiran Yesus kurang menarik, atau kalah lucu dibandingkan boneka warna-warni yang bisa bercerita dan menari. Menyedihkan, karena banyak pelaku bisnis mencoba mendapat keuntungan dari peristiwa kelahiran Yesus dengan jalan mengesampingkan Yesus. Rupanya ini sungguh murni soal bisnis bukan religius.

Sinterklas vs Yesus

Mengapa saya mempertentangkan sinterklas dengan Yesus? Boleh saya katakan, cerita atau gambaran sinterklas telah mencuri Yesus dari hati banyak anak-anak. Lihatlah gambaran kakek tua berjenggot putih dengan mantel berwarna merah itu, ia senantiasa menghiasi berbagai tempat selama bulan Desember. Ia selalu dikaitkan dengan pesta natal.

Siapakah dia? Dia bukanlah siapa-siapa dan tidak pernah ada! Kemudian ada yang mengkait-kaitkan dengan tokoh tertentu. Misalnya Santo Nikolaus atau siapa. Tetapi sungguh, cerita dan penggambaran sinterklas dalam pesta natal telah mencuri pribadi yang sebenarnya dirayakan.

Menurut cerita, kisah sinterklas ini dipopulerkan oleh sebuah produk minuman ringan yang sangat populer di dunia. Itu terjadi sekitar tahun 1920-an. Tepatnya saya kurang mengerti. Begitu populernya penggambaran tokoh tersebut, dengan variasi cerita yang menarik, sungguh telah menggeser cerita mengenai kelahiran Yesus dengan kebaikan hati sinterklas.

Meski sinterklas hanyalah cerita, namun keberadaannya seolah nyata. Bahkan di beberapa sudut kota ada sebuah kotak, seperti kotak surat, yang dinamakan kotak sinterklas. Siapa yang ingin menulis surat kepada sinterklas tinggal memasukkannya kedalam kotak tersebut. Menyedihkan, tetapi tidak bisa dihindarkan.

Dalam berbagai acara, selalu tampil ‘sinterklas-sinterklasan’. Dengan gaya bicara yang ngebass dan tawa ho-ho-ho yang berat, sungguh memikat banyak hati, terutama anak-anak. Begitu terkenal dan menariknya kakek tua berjenggot putih ini, hingga mampu mengalihkan perhatian dari bayi kecil yang lahir di palungan. Tidak berlebihan kalau saya katakan, sinterklas telah mencuri Yesus dari banyak hati.

Penutup

Teman, hari natal sudah dekat. Saya hanya mengingatkan diri saya sendiri, mungkin juga bisa berguna bagi orang lain, bahwa perayaan natal sesungguhnya adalah perayaan kehidupan. Kehidupan yang disuguhkan dengan semangat kesederhanaan, keterbukaan hati dan semangat untuk saling berbagi, serta suasana keheningan. Jauh dari perayaan yang hingar bingar, apalagi pesta pora hingga melupakan Tuhan. Jika sebagian orang mengenal natal hanya sebatas pesta, belanja, dan hiasan belaka; semoga kita tidak jatuh pada titik yang sama.

Salam hangat,

Melbourne, 18/12/2010

Comments

niniek said…
Selamat Natal, romo....

Popular posts from this blog

NGELUNJAK

Sahabat, tahu khan artinya NGELUNJAK? Dalam pepatah lama dikatakan, 'diberi hati minta jantung'. Sesuai dengan ungkapannya, hal ini menggambarkan orang yang tidak tahu diri, sudah diberi sesuatu namun meminta lagi hal yang lebih besar. Apa yang diberi dan apa yang diminta tidak melulu soal barang atau materi, namun bisa juga hal yang lain. 
Tidak mudah menghadapi orang-orang yang suka 'ngelunjak' ini. Kebanyakan dari kita hanya menyimpan geram sembari menahan diri dari amarah. Atau kita mengomel di belakang. Orang yang suka ngelunjak ini biasanya memang tidak tahu diri. Dia tidak bisa disindir. Maka percuma menyindir mereka, kalau toh mereka mengerti sindiran itu mereka tidak memedulikannya.
Oh iya, membicarakan orang lain itu memang mudah. Apalagi kejelekannya, wah tidak akan pernah habis. Termasuk orang-orang yang suka ngelunjak ini. Tetapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang suka ngelunjak atau sudah masuk kategori orang-orang yang sudah …

Pembangkitan LAZARUS : drama tiga babak

Sahabat, bacaan Injil pada hari Minggu Pra Paskah V ini kembali menampilkan sebuah drama. Drama ini sangat penting maknanya untuk memahami kebangkitan Yesus yang akan kita rayakan pada hari Paskah. baiklah, agar "drama" ini sungguh bisa diikuti, mari kita simak mulai dari awal. STARINGYesus Jelas bahwa Yesus adalah tokoh utama dalam seluruh kisah keselamatan. Memahami Kitab Suci dengan mengesampingkan Yesus adalah omong kosong. Yesuslah pemeran utama seluruh rencana keselamatan Allah. Pada kisah drama pembangkitan Lazarus ini, ketokohan Yesus mencapai saat-saat yang kritis. Artinya, konflik-konflik yang terbangun antara diri-Nya dan orang-orang yang membenci-Nya sudah semakin meruncing. Beberapa kali Dia hendak dilempari batu. Berbeda dengan banyak kisah yang lain, pada bagian ini Yesus nampak mengeksresikan emosinya. Dia terharu dan bahkan menangis. Juga nyata sekali relasi kedekatan antara Yesus dan keluarga di Bethania tersebut. Lazarus Di dalam drama kali ini, yang judul…

Lodeh

Benar kata para ahli kuliner, bahwa suasana sangat memengaruhi kenikmatan sebuah menu makanan. Jenis dan macamnya bisa sangat sederhana, tetapi tatkala disantap pada saat yang tepat, suasana yang memikat, rasanya tak akan pernah meninggalkan ilat.

Seperti malam itu, jangan bayangkan makan di sebuah warung apalagi resto, ini adalah makan di refter ‘padang gurun’ Ngadireso, pas saya berpadang gurun. Minggu sore setelah ibadat sore dan adorasi, meski sendirian saya melakukan adorasi mengikuti gaya adorasi dari Puji Syukur. Sekitar jam setengah tujuh saya selesai. Lokasi kapel bersebelahan dengan refter, maka saya langsung menuju refter. Di atas meja sudah tersaji satu nampan yang tertutup taplak dengan rapi. Spontan saya buka dan melihat isinya, ouw, lodeh Labu Jepang, dan telur dadar, hanya itu! Tambah nasi putih ding!
Mau langsung makan rasanya kok belum afdol. Baru jam setengah tujuh, maka aku kembali ke bilik. Di sana saya melanjutkan aktivitas membaca renungan/catatan Beata Elisabet …