Seleksi masuk SURGA

Sahabat, di Jakarta ada lelang jabatan, ada lelang kepala sekolah. Di surga juga ada seleksi masuk surga. Alkisah, Allah Bapa menyeleksi orang-orang yang dianggap pantas untuk masuk ke surga. Kriteria untuk masuk ke sana sejatinya sudah banyak disebar. Bahkan sejak jaman dahulu kala.

Dulu melalui juru bicara surga yang terkenal, namanya Musa. Pihak surga sudah meminta masyarakat untuk hidup suci. Perintah itu termaktub dalam surat edaran surga dengan nomor Imamat pasal 19 ayat 2. Judul kop edaran itu begini, "Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus."

Kemudian pada pasal yang sama pada ayat 11 dan seterusnya diuraikan syarat menjadi kudus. Misalnya, tidak boleh mencuri, tidak boleh berbohong, dst. 

Perintah dan uraian mengenai perintah sudah diberikan. Ternyata, dalam perjalanan waktu, perintah itu terus diperbaharui. Tetapi intinya sama, yaitu meminta manusia untuk hidup suci, hidup sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya. Nahhhh, tibalah saat seleksi masuk surga.

Rupanya Allah Bapa memiliki kriteria yang lain. Selain yang sudah pernah disampaikan oleh Musa, kriteria itu berupa hubungan baik. Siapa memiliki hubungan baik dengan Bapa pasti dapat priorotas. Ini bukan KKN, bukan kolusi dan nepotisme. Tetapi murni hubungan kasih sejati.

Hubungan dengan Allah Bapa itu harus benar-benar nyata, tidak dibuat-buat, dan harus jujur. Maka mulailah kelompok pertema dipersilahkan masuk balai agung surga. Jumlahnya cukup banyak. Allah Bapa berdiri di podium dan menyambut mereka. Kurang lebih demikian kata-kata sambutan itu:

"Selamat datang di surga. Karena kalian sudah berusaha hidup suci. Kalian juga sangat mencintai saya. Kalian memberi saya makanan ketika saya kelaparan, kalian memberi saya minuman ketika saya kehausan. Kalian juga memberi saya jaket ketika saya kedinginan. Bahkan ketika saya meringkuk di dalam penjara, kalian juga mengunjungi saya. Terimakasih untuk segala kebaikan kalian itu. Sekarang nikmatilah kebahagiaan di surga."

Tiba-tiba ada yang mengangkat tangan dan berseru, " Maafkan saya Tuhan, kalau saya cukup lancang berbicara. Tetapi kapankah kami melihat Engku lapar atau haus dan kami memberi Engkau makanan dan minuman? Dan kapankah kami melihat Engkau kedinginan dan kami memberiMu jaket?"

"Anakku, apa yang telahnkamu lakukan pada pemulung waktu itu, apa yang kamu berikan kepada pengemis dan penguangsi tahun lalu, apa yang kamu sumbangkan kepada janda miskin yang kelaparan, sebenarnya kamu melakukan-Nya untuk aku. Kalau kamu melayani mereka yang kurang beruntung itu, kamu melakukannya juga untuk Aku."

Suasana hening.....

Comments

Popular Posts